SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Selasa, 20 Agustus 2019

Konsumsi Makanan Manis Berlebihan Ikut Memicu Hipertensi

Selasa, 20 Agustus 2019 17:40:28

Konsumsi Makanan Manis Berlebihan Ikut Memicu Hipertensi

Pola makan yang tidak seimbang menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan tekanan darah atau hipertensi pada tubuh Anda. Hipertensi bisa saja muncul ketika Anda menyantap beberapa jenis makanan secara berlebihan. Contohnya makanan dengan kadar tinggi garam dan berlemak. Ternyata tak hanya itu saja, makanan manis pun juga turut memicu hipertensi.

Makanan tinggi garam sudah lama diketahui bisa memicu hipertensi, tapi makanan tinggi gula pun ternyata termasuk dalam jenis makanan penyebab darah tinggi. Saat kita mengonsumsi makanan dengan kandungan glukosa tinggi, tubuh akan merespons dengan memproduksi insulin.

Kadar insulin terlalu tinggi akan memengaruhi tekanan darah karena akan mengurangi pengeluaran air dan garam oleh ginjal. Selain itu, kondisi insulin yang selalu berlebihan bisa menimbulkan resistensi insulin dalam tubuh.

Resistensi insulin membuat tubuh sulit menyimpan magnesium. Bila kadar magnesium rendah dalam tubuh, pembuluh darah akan menjadi kaku dan tekanan darah akan naik.

Gula jenis fruktosa juga berdampak dalam meningkatkan asam urat. Kadar asam urat yang tinggi akan meningkatkan tekanan darah dengan cara menekan kadar nitrogen monoksida (NO), yang berfungsi menjaga kelenturan pembuluh darah.

Contoh makanan penyebab darah tinggi yang banyak mengandung gula adalah:

- Makanan olahan dan camilan manis, misalnya biskuit, sereal, aneka kue, berbagai roti putih, serta nasi putih.

- Aneka minuman ringan dan minuman dalam kemasan, seperti sirop maupun minuman bersoda.

Semua yang berlebihan tidaklah baik. Ungkapan ini juga berlaku untuk konsumsi makanan penyebab darah tinggi. Apabila dikonsumsi dalam batas wajar, berbagai makanan maupun minuman di atas jarang menyebabkan gangguan pada tubuh. Namun bila disantap secara berlebihan, efek jangka panjangnya bisa saja mengganggu kesehatan.


Sumber: https://www.cantika.com/read/1237658/
konsumsi-makanan-manis-berlebihan-ikut-memicu-hipertensi

Senin, 19 Agustus 2019

3 Cara Atasi Anak yang Tidak Suka Makan Sayur dan Buah

Senin, 19 Agustus 2019 17:25:11

3 Cara Atasi Anak yang Tidak Suka Makan Sayur dan Buah

Salah satu gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak didapatkan dari sayur dan buah. Sayang, membiasakan anak untuk menyantap makanan sehat tersebut bukan tanpa halangan. Saat ini, beragam pilihan camilan dan santapan kemasan begitu mudah dijumpai – bahkan dipasarkan secara jitu untuk menyasar kalangan anak. Tak mengejutkan bila konsumsi sayur dan buah mereka pun kerap terabaikan.

Sejalan dengan kampanye ‘Eat Like A Pro’, Beko, Europe’s number 1 freestanding home appliances brand, mengajak orang tua untuk semakin memperhatikan asupan sehat bagi anak. Salah satunya dengan mempersiapkan camilan kaya gizi guna mendukung aktivitas harian dan pertumbuhan anak.

Country General Manager Beko Indonesia Ali Cagri Gonculer mengingatkan World Health Organization (WHO) menganjurkan jumlah konsumsi sayur dan buah pada anak sebanyak 5 porsi atau sekitar 400 gram setiap hari hari. Sayangnya, berdasarkan survei global Beko, hanya 1 dari 5 anak yang mengetahui jumlah porsi harian sayur dan buah yang direkomendasikan tersebut . Di Asia, rasionya jauh lebih buruk. Sementara di Indonesia, Riskesdas 2018 menyebut baru 5 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi sayur dan buah secara mencukupi.

"Padahal, manfaat konsumsi sayur dan buah sesuai anjuran tak bisa dipungkiri lagi. Dari menjaga kondisi tubuh, melancarkan pencernaan, hingga mencegah risiko berbagai Penyakit Tidak Menular, serta kondisi obesitas pada anak," kata Ali Cagri Gonculer dala keterangan pers yang diterima Tempo pada 1 Agustus 2019.

Masih banyak anak-anak yang enggan atau sama sekali menolak, menyantap sayur dan buah. Mereka menjadi ‘pemilih makanan’ dan hanya mau memakan yang disukai. Padahal, anak-anak membutuhkan beragam jenis sayur dan buah setiap hari guna menunjang kebutuhan tubuh dan aktivitas hariannya. Kebiasaan sedari dini menjadi faktor kunci yang berpengaruh kuat pada gemar dan tidak anak untuk menyantap sayur dan buah. Karenanya, memperkenalkan berbagai jenis buah atau sayur sebaiknya dilakukan sejak masa MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) atau usia 6-12 bulan.

Dengan demikian, pada usia berikutnya, anak lebih terbiasa dengan aroma dan cita rasa sayur dan buah sehingga bisa menggemarinya. Di sinilah peran orang tua semakin krusial. Tak hanya pemahaman dan ketelatenan, namun cara cerdik juga diperlukan untuk mengubah si ‘pemilih makanan’ menjadi ‘pencinta sayur dan buah’.

Chef ternama, Steby Rafael yang juga ayah dari seorang putra, berbagi taktik membuat anak menggemari sayur dan buah:

1. Potong buah segar (beraneka warna dan jenis) menjadi beberapa potongan kecil agar anak mudah untuk memakannya. Sajikan dengan kombinasi warna yang menarik dan sajikan dalam kondisi sejuk (masukkan ke dalam lemari es selama 20 menit sebelum disajikan).

2. Sajikan smoothies bowl dengan pugasan potongan buah segar yang ditata memikat – seperti meniru karakter kartun atau tampilan bunga, agar anak anak tertarik dan tergoda untuk menyantapnya.

3. Untuk memudahkan anak dalam mengonsumsi, smoothies dengan tekstur yang halus bisa menjadi alternatif. Mengombinasikan jenis buah dan sayur yang manis dan sedikit asam, serta memiliki warna-warna yang kontras bisa menciptakan daya tarik tersendiri bagi anak.

Vacuum Blender dari Beko mampu mencegah proses oksidasi, sehingga kandungan nutrisi sayur dan buah tetap tejaga. Ali mengatakan dengan dukungan peralatan rumah tangga berteknologi terdepan, serta keteguhan komitmen orang tua dalam membiasakan dan menyiapkan makanan sehat, timnya berharap kesadaran anak-anak untuk secara rutin mengonsumsi sayur dan buah semakin meningkat.

"Kami percaya, bermula dari pola makan yang sehat dan seimbang serta penerapan gaya hidup sehat, anak-anak Indonesia dapat meraih potensi terbaik dan meraih masa depan yang lebih cemerlang,” ucap Ali.

Sumber: https://www.cantika.com/read/1234328/3-cara-atasi-anak-yang-tidak-suka-makan-sayur-dan-buah

Minggu, 18 Agustus 2019

Berbagai Penyebab dan Faktor Risiko Terbentuknya Batu Empedu

Minggu, 18 Agustus 2019 18:07:04

Berbagai Penyebab dan Faktor Risiko Terbentuknya Batu Empedu

Penyakit batu empedu adalah salah satu gangguan pencernaan yang umum tapi sering tidak disadari. Dalam kasus yang parah, batu empedu bisa mengancam jiwa. Nah, mengetahui apa penyebab batu empedu bisa membantu Anda mengenali gejalanya, serta mencari perawatan dan pengobatannya yang tepat agar tidak semakin parah.

Bagaimana batu terbentuk di empedu?

Empedu sejatinya adalah cairan yang diproduksi oleh hati untuk merangsang usus meremas makanan dan memecah lemak dalam makanan yang kita makan.

Setelah hati memproduksi empedu, cairan tersebut akan “dioper” ke kantung empedu untuk disimpan sementara. Kantung empedu berukuran sebesar buah pir dan terletak di bawah hati, sementara saluran empedu memanjang dari hati ke usus.

Empedu juga membantu menghilangkan kelebihan kolesterol dari tubuh. Hati mengeluarkan kolesterol ke dalam empedu, yang kemudian dihilangkan dari tubuh melalui sistem pencernaan.
Saat makanan sudah dicerna dari lambung ke usus kecil, kantung empedu baru melepaskan empedu melewati saluran empedu. Di saat inilah cairan empedu mulai aktif mengerjakan tugasnya.

Batu terbentuk di empedu dari kelebihan cairan yang seharusnya dibuang malah jadi menumpuk, menggumpal, dan akhirnya mengeras seperti kristal. Batu dapat terbentuk di kantung empedu atau di mana pun sepanjang salurannya sehingga pengaliran empedu baru tersumbat. Ini dapat menghalangi kerja kantung empedu.

Gejala Anda terkena batu empedu antara lain rasa sakit di perut kanan atas yang bisa menjalar sampai tengah (bawah tulang dada). Selain itu, batu empedu juga bisa jadi penyebab Anda sering merasa mual, muntah-muntah, dan nyeri punggung di antara tulang bahu.

Penyebab terbentuknya batu empedu

Seperti yang telah dijelaskan di atas, batu empedu terbentuk dari kelebihan zat atau cairan sisa yang akhirnya menggumpal dan mengeras.

Batu empedu bisa berukuran sangat kecil mulai dari sebutir pasir hingga sebesar bola golf. Batu empedu yang kecil biasanya tidak memunculkan efek apa pun. Namun semakin besar ukuran batunya, Anda akan merasakan berbagai gejala yang menyakitkan.

Namun, apa penyebab terbentuknya batu empedu?

1. Empedu mengandung terlalu banyak kolesterol

Cairan empedu normal harusnya mengandung cukup senyawa garam empedu untuk melarutkan kolesterol yang dikeluarkan oleh hati.

Namun jika hati terlalu banyak memproduksi kolesterol, cairan empedu akan mengandung lebih banyak kolesterol daripada zat pelarutnya.

Hal ini menyebabkan kolesterol jadi sulit dipecah oleh empedu, sehingga mengkristal dan akhirnya berubah menjadi batu.

2. Banyak bilirubin dalam kantung empedu

Bilirubin adalah zat kimia yang dihasilkan tubuh untuk memecah sel darah merah. Kondisi tertentu dapat menyebabkan hati Anda memproduksi bilirubin terlalu banyak. Bilirubin yang berlebih bisa mengeras yang akan berakhir menjadi batu di dalam empedu.

Beberapa gangguan yang membuat tubuh memproduksi terlalu banyak bilirubun adalah sirosis hati, infeksi saluran empedu, dan gangguan darah tertentu. Kesemua itu kemudian dapat menjadi penyebab terbentuknya batu di empedu.

3. Kantung empedu Anda tidak kosong total

Empedu tugasnya mencerna dan memproses kolesterol sampai habis. Apabila kantung empedu tidak bisa mengosongkan isinya secara teratur atau sepenuhnya, artinya Anda masih memiliki sisa-sisa kolesterol yang tidak terbuang. Hal ini dapat menjadi penyebab batu terbentuk di kantung empedu. [lis]

Sumber: halosehat.com

Sabtu, 17 Agustus 2019

Ini Pentingnya Minta Maaf pada Anak

Sabtu, 17 Agustus 2019 17:40:02

Ini Pentingnya Minta Maaf pada Anak

Sebagai orang tua, minta maaf biasanya jadi salah satu hal yang kita ajarkan atau sering ingatkan pada anak. Kita ingin, anak tahu kapan ia harus minta maaf dan  terbiasa melakukannya.

Namun sebaliknya, tidak banyak orang tua yang terbiasa minta maaf pada anak. Alasannya bisa bermacam-macam. Termasuk salah satunya, takut kalau meminta maaf pada anak akan mengurangi wibawa sebagai orang tua. Kalau sudah kehilangan wibawa, bisa-bisa anak jadi tidak menurut atau tidak hormat.

Faktanya? Yang akan terjadi justru sebaliknya lho, Moms! Bukankah kita akan lebih menghargai dan menghormati orang lain ketika mereka mau mengakui kesalahan mereka dan mencoba memperbaikinya?

Dilansir Psychology Today, menurut psikolog Laura Markham Ph.D, meminta maaf kepada anak saat kita lalai juga tidak membuat kita kehilangan otoritas untuk menegur dan mengingatkan mereka saat berbuat salah. Tak usah khawatir, anak-anak tetap tahu kok, siapa yang menjadi pemimpin di rumah.

Jadi tidak perlu merasa sungkan, ragu atau malu meminta maaf pada anak sebab kita juga tidak perlu selalu benar atau jadi sosok yang sempurna. Orang tua kan, juga manusia?

Menolak atau menghindari permintaan maaf pada anak juga akan membuat anak menangkap 'pesan' yang salah seperti beberapa contoh berikut ini:

- Meminta maaf itu hal yang memalukan.
- Berbuat salah, mengecewakan atau menyakiti orang lain itu tidak apa-apa dan kita juga tidak perlu mengakui atau mencoba memperbaikinya.
- Minta maaf itu tidak keren!
- Meminta maaf adalah sesuatu yang kita lakukan hanya bila terpaksa saja.

Nah Moms, tidak mau dong, anak sampai salah mengerti seperti ini?

Lebih baik, ajarkan anak pentingnya minta maaf dengan langsung memberi mereka contoh nyata: minta maaf padanya. Ini akan membuat anak mendapat 'pesan' yang baik seperti:

- Kita semua kadang-kadang membuat kesalahan dan kita bisa mencoba untuk memperbaikinya.
- Kita semua terkadang menyakiti orang lain. Sangat penting untuk mengakui ketika kita melakukan hal ini dan berusaha menebusnya.
- Ketika kita meminta maaf, orang lain akan merasa lebih baik dan juga dapat berpikir lebih baik tentang kita.
- Tidak perlu malu meminta maaf. Karena minta maaf justru baik dan bisa membuat kita merasa lebih tenang dan nyaman.

*Sumber: kumparan.com

Rabu, 14 Agustus 2019

Cara Bijak Mengalihkan Perhatian Anak dari Gawai

Rabu, 14 Agustus 2019 16:22:00

Cara Bijak Mengalihkan Perhatian Anak dari Gawai

Terlalu sering bermain gawai bisa mengganggu tumbuh kembang anak. Pasalnya, anak jadi malas beraktivitas, belajar, lalu kecanduan bermain gawai.

Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani mengatakan bahwa gawai sebenarnya bukannya tidak boleh sama sekali untuk anak. Hanya saja, orang tua perlu mengikuti koridor agar tumbuh kembang anak tidak terganggu. Anak usia 1,5 tahun, misalnya, harus dijauhkan dari gawai.

“Anak di bawah 1,5 tahun, orang tua perlu menstimulasi inderanya,” kata Nina, panggilan Anna Surti, beberapa waktu lalu.

Nina menyebut anak berusia di atas enam tahun umumnya diperbolehkan berinteraksi dengan gawai lebih lama dibandingkan dengan anak berusia di bawahnya. Namun, penggunaan gawai tetap harus di bawah pengawasan orang tua.

Lalu bagaimana mengalihkan perhatian anak dari gawai? Orang tua bisa mengajak anak melakukan aktivitas asyik. “Bukan sekadar menyuruh, ajak anak bermain bersama. Kalau ada interaksi menyenangkan yang menunjukkan kegiatan nongadget seru sekali maka anak akan cenderung menyukai kegiatan nongadget. Ini juga melatih kita untuk mengurangi kecanduan gadget,” kata dia.

Nina mengatakan gawai juga sebenarnya bisa digunakan untuk menstimulasi anak, asal penggunaannya tepat. Ia mencontohkan, orang tua bisa memutar musik dari gawai lalu mengajak anak joget.

Orang tua juga dapat menggunakan aplikasi aktivitas anak, atau melatih perhatian anak dengan kamera ponsel. Misalnya menggunakan kamera untuk memotret bunga, lalu di-zoom dan terlihat ternyata bunga itu tidak hanya berwarna merah, tapi juga ada warna lain di benang sari, putik, dan lain-lain. “Menggunakan gadget tidak semua jadi kacau kalau dimanfaatkan dengan bijaksana,” ujar dia.  [ito]


Sumber: https://www.cantika.com/read/1234825/
cara-bijak-mengalihkan-perhatian-anak-dari-gawai

Sabtu, 10 Agustus 2019

Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga, Mana yang Lebih Sulit?

Sabtu, 10 Agustus 2019 17:59:20

Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga, Mana yang Lebih Sulit?

Menjadi ibu rumah tangga, atau beraktualisasi menjadi wanita karir?

Pilihan ini kerap berkecamuk di benak pada perempuan yang sudah membangun rumah tangga dan memiliki anak.
Jawabannya dan keputusannya pun tentu beragam. Tapi, mana yang sesungguhnya terasa lebih berat dan sulit di antara keduanya?

Artis peran yang namanya melambung lewat "Bring It On", Kirsten Dunst merasa jauh lebih mudah untuk kembali ke depan kamera, dan melanjutkan karir, ketimbang berdiam di rumah seperti saat ini.

"Jauh lebuh mudah untuk bekerja, ketimbang berdiam di rumah dan menjadi ibu," ungkap Dunst seperti dilansir laman People.

Namun, terlepas dari itu -tentu saja, tidak ada pekerjaan yang mudah, dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Seperti data yang dilansir Pew Research, sekitar 60 persen warga Amerika Serikat merasa seharusnya seorang ibu berdiam di rumah, dan mengurus rumah tangga.
Kendati survei mengatakan hasil demikian, kenyataannya sebagian besar perempuan berkeluarga di AS memilih untuk berkarir di luar rumah.

Studi yang sama juga mengungkap, para ibu yang tidak bekerja memang memiliki waktu rata-rata yang lebih banyak untuk bersama anak dan mengurus rumah, dibandingkan mereka yang bekerja.

Namun, di sisi lain, ibu yang berada di rumah ternyata memiliki waktu lebih banyak pula untuk bersantai dan tidur.
Sayangnya, belum ada penelitian yang mampu mengungkap berapa banyak waktu yang dihabiskan wanita karir untuk tetap merampungkan tugas domestik, di luar tugas pekerjaan mereka.

Jika demikian, mana yang lebih sulit?

*Sumber: kompas.com

Kamis, 08 Agustus 2019

Etika Mengunggah Foto Anak ke Media Sosial

Kamis, 08 Agustus 2019 17:31:01

Etika Mengunggah Foto Anak ke Media Sosial

Apakah boleh mengunggah foto anak ke media sosial? Tentu hal ini harus menjadi pertimbangan bagi orang tua maupun keluarga, melihat banyaknya kasus kejahatan anak di media sosial. Tersebarnya foto anak di media sosial menyebabkan adanya kemungkinan penyalahgunaan foto anak.

Menurut psikolog, Patricia Elfira Vinny, orang tua harus mengetahui adanya dampak buruk dan bahaya dari mengunggah foto di media sosial, khususnya anak-anak.

Jika orang tua telah mempertimbangkan dan membuat keputusan untuk tetap mengunggah foto anak dengan sejumlah alasan, maka ada hal-hal yang harus diperhatikan jika ingin menguggah foto anak. Berikut etika mengunggah foto anak di media sosial, menurut Patricia.

1. Keamanan Anak

Perhatikan penampilan dan kondisi anak saat difoto untuk diunggah ke media sosial. Pakaikan baju yang rapi dan sopan, juga perhatikan posisi atau pose anak saat difoto.

2. Persetujuan Anak

Sebelum memposting foto anak, tak ada salahnya orang tua meminta izin kepada anak. Meskipun mungkin bagi sebagian anak belum paham dengan hal ini, namun anak perlu diberi kesempatan, apakah dirinya setuju dan merasa nyaman ketika fotonya diunggah ke media sosial ataupun tidak, biarkan anak membuat pilihan.

3. Fokus Pada Kegiatan Anak

Lebih baik foto anak saat ia sedang beraktivitas seperti saat sedang menggambar, saat bermain atau olahraga, dan usahakan fokus dengan hal yang sedang dikerjakan anak, misalkan turut menampilkan lukisan yang sedang digambar ataupun view lingkungan di sekitarnya saat bermain. Usahakan jangan terlalu fokus ke ekspresi wajah anak apalagi pada bagian-bagian tubuh tertentu.

4. Unggah karya anak

Misalkan setelah menggambar atau anak menghasilkan sebuah karya, foto dan unggah ke media sosial. Ini mengajari anak bahwa media sosial bukan sekadar eksistensi fisik seseorang, tapi juga wadah untuk mempublikasikan sebuah karya seni dan masih banyak hal lain yang bisa dimanfaatkan di media sosial.

*Sumber: kumparan.com