SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS/WA 0852 5968 1245 || Facebook : Nuansa Bojonegoro || Twitter : @nuansafmbjn || Instagram : @nuansaradio || E-Mail : nuansaradio722@gmail.com || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Jumat, 18 Juni 2021

Orangtua, Ini Pentingnya Bantu Anak Atur Emosi

Jum'at, 18 Juni 2021 18:45:03

Orangtua, Ini Pentingnya Bantu Anak Atur Emosi

 

 

 

 

 

 

 

Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga dipenuhi dengan perasaan atau emosi yang ia rasakan sehari-hari.

Sayangnya, kemampuan bahasa yang sangat terbatas, membuat si Kecil sulit untuk mengelola dan mengekspresikannya dengan cara yang tepat.

Untuk itu, sebagai orangtua, penting bagi kita untuk dapat mengajarkan anak-anak meregulasi emosi yang sedang mereka rasakan. Baik itu, sedih, marah, senang, kecewa hingga takut.

"Memiliki anak dengan kecerdasan emosional memang memerlukan tahapan dan waktu yang tidak sebentar. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melatih anak meregulasi emosinya," jelas dr. Anggia Hapsari, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Konsultan Psikiatri Anak dam Remaja RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.

Caranya sendiri, kata dr. Anggia cukup beragam, mulai dari membantu mereka mengenali emosi baik emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya, selalu hadir dan dengarkan perasaan anak, menanggapi dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan anak dan tidak bereaksi negatif saat anak rewel atau marah.

Orangtua juga harus menjadi contoh yang baik untuk meregulasi emosi di depan anak, merasa senang saat bermain dengan anak dan tertarik dengan aktivitas yang tengah dikerjakamnya, serta bisa juga ajarkan mereka mengenai teknik-teknik relaksasi (emotional toolbox).

Namun demikian, terkadang anak-anak dapat mengalami emosi yang negatif, yang terkadang menjadi ledakan emosi. Sebenarnya hal ini dianggap wajar. Namun, ada ledakan emosi pada anak yang harus diwaspadai dan membutuhkan pertolongan ahli.

Di antaranya ialah tantrum dan ledakan (outbursts) yang terjadi pada tahapan usia perkembangan di mana seharusnya sudah tidak terjadi, yaitu di atas usia 7-8 tahun. Selain itu, jangan biarkan saat perilaku anak sudah membahayakan dirinya atau orang lain, menimbulkan masalah serius di sekolah hingga memengaruhi kemampuannya bersosialisasi dengan teman, yang membuat anak “dikucilkan” oleh teman-temannya.

"Pahami pula tantrum dan perilaku yang membuat mereka stres atau kesulitan mengikuti keseharian dalam keluarga. Saat anak merasa tidak mampu mengendalikan emosi marahnya, dia bisa merasa dirinya buruk," jelasnya.

Ledakan emosi yang harus diwaspadai ini, lanjut dr. Anggia mungkin ada hubungannya dengan beberapa hal di antaranya ialah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), kecemasan, trauma, kesulitan belajar, gangguan pemrosesan sensori, hingga spektrum autisme.

Bukan cuma itu, anak yang dedikit mendapat kasih sayang dari keluarga maupun teman dan terlalu terikat dengan satu figur yang dominan juga dapat menyebabkan anak kesulitan untuk merugasi emosinya, yang menyebabkan ledakan emosi negatif atau tidak tepat.

"Kepercayaan terhadap orangtua dan model figur yang mereka amati dalam keluarga berperan dalam membentuk kepercayaan diri anak. Hal ini dapat membantu anak untuk meregulasi emosinya dan mendorongnya menjadi mandiri, serta berani mengambil risiko," jelasnha.

Apabila si kecil memiliki karakter ini, maka diharapkan anak dapat berperilaku tepat dalam lingkungan sosialnya dan terhindar dari masalah penyesuaian diri dalam hidupnya.

*Sumber: suara.com

Kamis, 17 Juni 2021

Dear Parents, Ini Lima Langkah Mendidik Anak Cerdas dan Sukses di Masa Depan

Kamis, 17 Juni 2021 18:32:58

Dear Parents, Ini Lima Langkah Mendidik Anak Cerdas dan Sukses di Masa Depan

 

 

 

 

 

 

 

Memiliki anak cerdas tentunya harapan semua orangtua. Untuk itu, orangtua perlu tahu bagaimana cara mendidik anak agar bisa cerdas dengan masa depan yang gemilang.

Dilansir dari Inc.com, ada lima cara yang dapat orangtua lakukan agar anak bisa tumbuh dengan cerdas. Apa saja?

Ajarkan keterampilan sosial

Sebuah studi yang dilakukan selama 20 tahun oleh Pennsylvania State dan Duke University menunjukkan, ada hasil positif yang didapat jika anak diajarkan keterampilan sosial.

Caranya, anak-anak bisa diajarkan cara menyelesaikan masalah dengan temannya, mendengarkan curhatan temannya tanpa menghakimi, dan mau membantu orang lain.

Jangan larut bermain game

Bermain game tidak ada salahnya, apalagi yang namanya hiburan bisa menangkal beban stres maupun rasa lelah pada anak. Akan tetapi, orang tua perlu membatasi waktu penggunaan agar anak tidak larut bermain game.

Jika sehari-hari anak diisi dengan menatap layar, akan tidak baik untuk kesehatan mata dan juga perkembangannya.

Daripada bermain game, Anda bisa arahkan sang anak untuk bisa menjadi seorang konten kreator. Sehingga hobinya tersebut bisa disalurkan ke hal yang lebih positif.

Ajak membersihkan rumah

Tidak ada salahnya jika mengajak anak untuk peduli dengan kondisi rumahnya, apalagi jika kondisi rumah berantakan dan tidak tertata rapi.

Anda bisa mengajarkan anak cara membersihkan rumah, tidak perlu yang berat, ajarkan bagaimana cara merapihkan tempat tidur ataupun barang-barang yang berserakan.

Jangan mengabaikan anak

Kalau orang tua mengabaikan anaknya, ke depannya anak bisa menjadi pribadi yang tidak peduli dan mengabaikan sekitarnya.

Maka, orang tua perlu membimbing anaknya dan jangan sampai abai. Kepedulian yang didapat anak dari orangtua bisa jadi modal untuk anak membangun empati.

Beri kasih sayang

Anak yang hidup dalam keluarga dengan banyak konflik, cenderung memiliki nasib buruk dibanding dengan orang tua yang rukun.

Hal ini diungkap oleh penelitian dari University of iIllinoiss, bahwa orang tua yang menciptakan lingkungan penuh kasih sayang berdampak bagi anaknya ke depannya. Sehingga mereka lebih produktif dan kondisi mentalnya lebih sehat.

*Sumber: suara.com

Selasa, 15 Juni 2021

Waspada Kecanduan Gadget, 40 Persen Anak Habiskan 30 Jam Main HP dalam Seminggu

Selasa, 15 Juni 2021 17:46:00

Waspada Kecanduan Gadget, 40 Persen Anak Habiskan 30 Jam Main HP dalam Seminggu

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak bermain ponsel pintar kini lebih mudah ditemukan. Padahal paparan layar ponsel sebenarnya tak baik untuk perkembangan mereka dan bisa memicu kecanduan gadget.

Sayangnya sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa 42 persen anak-anak setidaknya memiliki waktu bermain ponsel lebih dari 30 jam setiap minggunya. Melansir dari Cnet, penelitian ini telah diterbitkan Sell Cell.

Sell Cell dikenal sebagai situs perbandingan harga ponsel, namun telah melakukan beberapa survei, seperti survei tentang apa yang dilakukan kebanyakan orang dengan ponsel yang tidak digunakan dan survei tentang penggunaan upgrade awal untuk ponsel baru oleh generasi milenial.

Untuk studi ini, Sell Cell mensurvei 1.135 orang tua di Amerika Serikat dengan anak-anak berusia antara 4 hingga 14 tahun. Dari survei tersebut, gitemukan bahwa anak-anak mulai menggunakan ponsel pada usia muda. Setidaknya 47 persen anak-anak mulai menggunakan ponsel di bawah 6 tahun dan 12 persen berusia antara satu dan dua tahun.

Orang tua memiliki andil dalam angka-angka ini juga. Empat puluh persen orang tua yang disurvei mengaku membiarkan anak-anak mereka bermain ponsel agar mereka bisa tenang.

Padahal melansir dari Telegraph, penggunaan ponsel berlebih pada anak bisa berisiko pada kesehatan mulai dari masalah konsentrasi hingga otak.  

Profesor psikologi kognitif di Universitas Utrecht, Belanda, Stefan Van Der Stigchel, menjelaskan bahwa pembelajaran online lebih sulit bagi anak-anak karena mereka memiliki banyak energi motorik yang perlu dikeluarkan.

"Anak laki-laki khususnya, mungkin menghabiskan begitu banyak konsentrasi untuk mencoba tetap diam selama belajar, mereka tidak memiliki energi yang tersisa untuk mendengarkan apa yang diajarkan," tuturnya.

Sementara itu, kecanduan gadget juga disebut bisa memengaruhi emosional anak.

"Adiksi (gadget/game) mengaktifkan saraf di otak sehingga mampu memberikan rasa bahagia dan senang. Kalau sudah kecanduan gadget, saraf di otak itu bakal dimonopoli," ungkap Praktisi Cognitive Behaviour Therapy Ray Zairaldi, Minggu (6/6/2021) kepada Suara.com.

"Makanya anak jadi emosional, dan tidak tahu bagaimana mendatangkan hal yang menyenangkan selain adiksinya," imbuhnya.

*Sumber: suara.com

Minggu, 13 Juni 2021

Pada Wanita Dewasa, Konsumsi Makanan Sehat Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental

Minggu, 13 Juni 2021 17:25:27

Pada Wanita Dewasa, Konsumsi Makanan Sehat Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah penelitian baru dari Universitas Binghamton, State University of New York menunjukkan kesehatan mental pada wanita kemungkinan lebih berkaitan dengan faktor makanan daripada pada pria.

Asisten profesor studi kesehatan dan kebugaran di Universitas Binghamton, Lina Begdache, sebelumnya telah menerbitkan studi tentang pola makan dan suasana hati., yang mengungkapkan bahwa makanan berkualitas tinggi meningkatkan kesehatan mental.

Dalam penelitian kali ini, ia ingin menguji apakah penyesuaikan pola makan juga meningkatkan mood pada pria dan wanita dengan usia 30 tahun dan di atasnya, lapor Eurekalert.

Begdache dan asisten peneliti Cara M. Patrissy, membedah berbagai kelompok makanan yang berkaitan dengan tekanan mental pada pria dan wanita di rentang usia tersebut. Serta mempelajari pola makan dalam kaitannya dengan frekuensi olahraga dan tekanan mental.

Hasilnya menunjukkan kesehatan mental pada wanita punya hubungan yang tinggi dengan faktor makanan daripada di antara para pria.

Menurut studi ini, tekanan mental dan olahraga juga berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup, mendukung konsep penyesuaian makanan dan faktor gaya hidup dapat meningkatkan kesejahteraan mental.

"Kami menemukan hubungan antara makan sehat, mengikuti praktik diet sehat, olahraga, dan kesejahteraan mental," ujar Begdache.

"Menariknya, kami menemukan bahwa untuk pola makan yang tidak sehat, wanita menjadi lebih mengalami tekanan mental daripada pria. Ini menegaskan bahwa wanita lebih rentan terhadap makanan yang tidak sehat daripada pria," sambungnya.

Begdache juga mengatakan bahwa faktor makanan dan olajraga mungkin menjadi garis pertahanan pertama dalam melawan tekanan mental pada wanita dewasa.

"Makanan cepat saji, melewatkan sarapan, kafein, dan makanan yang indeks glikemiknya tinggi (HGI), terkait dengan tekanan pada mental wanita dewasa," terangnya.

Sedangkan makanan berbasis sayuran berdaun hijau tua dan buah-buahan dapat meningkatkan kesehatan mental, dan olahraga dapat mengurangi dampak negatif dari konsumsi makanan HGI dan cepat saji terhadap tekanan mental.

Penelitian ini juga menyertakan kerangka kerja yang diperlukan profesional kesehatan dalam menyesuaikan rencana diet untuk meningkatkan kesejahteraan mental pada orang dewasa.

*Sumber: suara.com

Rabu, 09 Juni 2021

Jarang Diketahui, Ini 4 Khasiat Minyak Alpukat bagi Kesehatan Kulit

Rabu, 09 Juni 2021 18:49:50

Jarang Diketahui, Ini 4 Khasiat Minyak Alpukat bagi Kesehatan Kulit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alpukat sudah dikenal luas sebagai buah yang memiliki segudang manfaat bagi tubuh. Lebih lanjut, ternyata minyak alpukat juga tak kalah berkhasiat untuk kesehatan, khususnya untuk perawatan kulit.

Berikut ini sejumlah khasiat dari minyak alpukat bagi kesehatan kulit, dilansir Hellosehat.

1. Membuat luka lekas pulih

Menurut hasil penelitian pada tahun 2013, diketahui bahwa pada tikus terdapat asam lemak esensial dan asam oleat dalam minyak alpukat yang mampu mempercepat sintesis kolagen untuk mempercepat penyembuhan luka.

Lebih lanjut, asam lemak yang terkandung dalam minyak alpukat juga berkhasiat mengurangi peradangan yang terjadi saat proses pemulihan luka, sehingga luka bisa menjadi cepat pulih seperti sedia kala.

2. Mengatasi kulit kering dan iritasi

Minyak alpukat mengandung antioksidan dan vitamin E yang mampu mengatasi kulit kering dan iritasi. Namun demikian, pastikan bahwa kamu tidak memiliki alergi dan cocok dengan minyak alpukat.

Cobalah untuk mengoleskan alpukat ke siku dan biarkan hingga sekitar 24 jam. Apabila tidak ada efek negatif yang timbul, maka minyak tersebut aman untuk kamu gunakan.

3. Memelihara kesehatan kulit kepala

Minyak alpukat ternyata juga dapat digunakan untuk menjaga kesehatan kulit kepala. Minyak ini berkhasiat membantu mengurangi ketombe dan persoalan lain yang bersumber dari kulit kepala kering dan bersisik.

Kamu cukup mengoleskan minyak dari akar sampai ujung rambut. Selanjutnya, tutup rambut dengan menggunakan handuk hangat supaya dapat menyerap dengan baik. Terakhir, bilas hingga bersih.

4. Membantu mengurangi tanda-tanda penuaan

Kandungan sterolin dalam minyak alpukat diyakini dapat meningkatkan produksi kolagen. Oleh karena kandungan itu pula tanda-tanda penuaan di kulit seperti bercak cokelat di wajah dapat berkurang. Tak hanya itu, minyak alpukat juga kaya akan lesitin.

Kandungan tersebut bertugas membantu mengantarkan nutrisi langsung menuju aliran darah dan lapisan kulit yang lebih dalam. Dengan demikian, kulit akan lebih mudah merasakan manfaatnya.

Nah, itulah beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari minyak alpukat untuk kesehatan kulit. Semoga membantu.

*Sumbet: suara.com

Selasa, 08 Juni 2021

Demi si Kecil, Jangan Coba-Coba Konsumsi Asupan Berikut di Masa Menyusui

Selasa, 08 Juni 2021 17:40:28

Demi si Kecil, Jangan Coba-Coba Konsumsi Asupan Berikut di Masa Menyusui

 

 

 

 

 

 

 

 

Saat menyusui, asupan yang Anda konsumsi bukan hanya untuk tubuh Anda sendiri, tapi juga untuk Si Kecil. Oleh karena itu, menjaga asupan yang Anda konsumsi menjadi hal yang penting.

Melansir dari Healthshots, Dr Amodita Ahuja, konsultan dokter kandungan, ginekolog, dan ahli bedah laparoskopi serta spesialis infertilitas menyatakan bahwa ASI mudah dicerna oleh bayi baru lahir, yang merupakan keuntungan besar.

Namun terkadang makanan yang dikonsumsi ibu dapat menentukan kuantitas dan kualitas ASI beserta rasanya. Dalam hal ini, berikut beberapa makanan yang perlu Anda hindari saat menyusui, antara lain:
 
1. Makanan yang mengandung gas

Beberapa makanan yang dapat menghasilkan gas adalah brokoli, kubis, kacang-kacangan seperti rajma, buncis, buncis hitam, lentil, kacang tanah, kentang, dan jagung.

"Juga, sebelum mengecualikan makanan seperti itu dari diet ibu, penting untuk mengesampingkan bahwa bayi tidak terlalu banyak menghirup udara saat menyusui," saran Dr Ahuja.

2. Makanan kaya kafein

Sumber kafein yang paling umum adalah teh, kopi, dan minuman ringan. Kafein ditransfer ke bayi melalui ASI, biasanya kurang dari 1 persen dari konsumsi harian kafein. Namun masalahnya dimulai ketika kafein mulai menumpuk di tubuh bayi.

Jika ibu mengonsumsi lebih dari lima cangkir kopi sehari. Hal ini dapat menyebabkan stimulasi kafein.

3. Alkohol

Sangat ideal untuk menghindari alkohol sepenuhnya selama menyusui. Alkohol masuk ke dalam ASI dan dapat membuat bayi mengantuk serta kelelahan.

4. Vitamin larut lemak

Semua vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A dan D dapat terkonsentrasi dalam ASI dan dapat menyebabkan keracunan pada bayi.

"Karena itu, dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen, hanya jika Anda kekurangan vitamin. Dan dosis yang dianjurkan dalam kasus seperti itu tidak lebih dari 1200-1300mcg/hari,” saran Dr Ahuja.

5. Hindari paparan merkuri

Jenis ikan tertentu yang tinggi kandungan merkuri seperti king mackerel, swordfish, shark, dan tilefish. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, dapat menyebabkan keracunan merkuri pada beberapa bayi, menunda kemampuan kognitif dan psikomotorik mereka. Namun Anda bisa konsumsi 2-3 porsi per minggu dari berbagai jenis ikan seperti sarden, kepiting, cumi-cumi, lobster, dan salmon.

*Sumber: suara.com

Sabtu, 05 Juni 2021

Kemarahan yang Sulit Dikendalikan Bisa Jadi Salah Satu Tanda Gangguan Mental, Apa Itu?

Sabtu, 05 Juni 2021 18:55:03

Kemarahan yang Sulit Dikendalikan Bisa Jadi Salah Satu Tanda Gangguan Mental, Apa Itu?

 

 

 

 

 

 

 

 

Marah merupakan emosi alami ketika seseorang menghadapi sebuah ancaman. Tetapi, marah bisa menjadi sebuah masalah ketika orang yang sedang mengalaminya tidak dapat mengontrol emosi tersebut.

Banyak hal memicu kemarahan, termasuk stres, masalah keluarga, dan masalah keuangan.

Kemarahan tidak terkendali bisa menjadi tanda sebuah gangguan mental tertentu, seperti gangguan bipolar atau depresi.

Dilansir Healthline, berikut beberapa kemungkinan penyebab masalah kemarahan terkait gangguan mental:

1. Depresi

Kemarahan bisa menjadi gejala depresi, yang ditandai dengan perasaan sedih dan kehilangan minat. Kondisi ini dapat berlangsung selama minimal dua minggu.

Gejala lain yang membarengi kemarahan termasuk sifat lekas marah, kehilangan energi, perasaan putus asa, dan pikiran untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri.

2. Gangguan obsesif kompulsif

Gangguan obsesif kompulsif (OCD) merupakan gangguan kecemasan yang ditandai dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsif.

Penderita OCD memiliki pikiran, dorongan, atau gambaran yang tidak diinginkan dan menganggu yang membuat penderitanya melakukan sesuatu secara berulang. Jika tidak melakukannya, mereka berkeyakinan akan ada suatu hal buruk yang terjadi.

Studi 2011 menunjukkan kemarahan adalah gejala umum OCD, memengaruhi sekitar setengah penderita OCD.

Kemarahan dapat terjadi karena frustrasi dengan ketidakmampuan untuk mencegah pikiran obsesif dan perilaku kompulsif yang dialaminya. Atau bisa karena ada suatu halangan yang membuat penderitanya tidak dapat melakukan ritual mereka.

3. Gangguan bipolar

Gangguan bipolar adalah gangguan otak yang menyebabkan perubahan dramatis dalam suasana hati penderitanya.

Pergeseran suasana hati yang intens ini dapat berkisar dari mania hingga depresi, meskipun tidak semua penderita gangguan bipolar akan mengalami depresi.

Banyak orang dengan gangguan bipolar mungkin mengalami periode kemarahan, perasaan lekas marah, hingga mengamuk.

4. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (GGHP)

Gangguan pemusatan perhatian hiperaktif (GGHP) atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan gejala seperti kurangnya perhatian, hiperaktif, dan atau impulsif.

Kemarahan dan temperamen pendek juga dapat terjadi pada pendeirta GGHP dari segala usia. Gejala lain selain kemarahan termasuk kegelisahan, masalah fokus, dan keterampilan manajemen waktu atau perencanaan yang buruk.

*Sumber: suara.com