SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS/WA 0852 5968 1245 || Facebook : Nuansa Bojonegoro || Twitter : @nuansafmbjn || Instagram : @nuansaradio || E-Mail : nuansaradio722@gmail.com || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Kamis, 29 Juli 2021

Jangan Buka Jendela Saat Cuaca Panas, Ini Anjuran Dokter

Kamis, 29 Juli 2021 19:04:59

Jangan Buka Jendela Saat Cuaca Panas, Ini Anjuran Dokter

 

 

 

 

 

 

 

Saat cuaca panas, Anda pasti akan mencuri cara untuk membuat tubuh terasa lebih dingin, seperti menyalakan kipas angin atau AC, mandi air dingin hingga membuka jendela.

Tapi, semua cara itu tak seharusnya dilakukan. Menurut Dokter Mark, membuka jendela ketika cuaca panas bisa menyebabkan panas di luar masuk ke dalam ruangan.

Karena itu, lebih baik menjaga jendela tetap tertutup ketika cuaca panas. Selain itu, membuka jendela ketika cuaca panas dan membiarkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan juga bisa menimbulkan risiko kesehatan.

"Menutup tirai dan jendela ketika cuaca panas bisa membantu ruangan lebih dingin," kata NHS dikutip dari Express.

Menurut NHS, Anda juga tidak boleh meninggalkan seseorang di dalam kendaraan tertutup ketika cuaca panas dan kondisi sedang berhenti, terutama bayi, anak kecil atau hewan.

Berikut ini juga beberapa hal yang harus dihindari ketika cuaca panas:

1. Hindari olahraga ketika cuaca sangat panas 2. Hindari minum alkohol 3. Usahakan menghindari sinar matahari antara jam 11 pagi hingga 3 sore

Selain menghindari hal-hal tersebut, ada cara terbaik untuk mendinginkan tubuh ketika cuaca panas. Anda bisa menyalakan AC ketika tinggal di gedung.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menjelaskan, menyalakan AC adalah cara pertama untuk melindungi diri Anda dari penyakit dan kematian terkait cuaca panas.

"Jika rumah Anda tidak ber-AC, kurangi risiko penyakit yang berhubungan cuaca panas dengan menghabiskan waktu di fasilitas umum yang menggunakan AC," pungkasnya.

*Sumber: suara.com

Rabu, 28 Juli 2021

Cuaca Panas Bisa Bikin Lelah Ibu Hamil, Simak Tips Berikut

Rabu, 28 Juli 2021 17:46:39

Cuaca Panas Bisa Bikin Lelah Ibu Hamil, Simak Tips Berikut

 

 

 

 

 

 

 

Cuaca panas yang menyengat menjadi tantangan tersendiri bagi ibu hamil. Hal ini dinyatakan oleh ahli dari Baylor College of Medicine, di Houston.

"Musim panas sangat sulit bagi wanita hamil karena tubuh berjuang untuk mendinginkan diri ketika kelembaban dan suhu tinggi," kata Dr. Matthew Carroll, asisten profesor kebidanan dan ginekologi di Baylor and Texas Children's Hospital seperti yang dukutip dari US News.

Dalam hal ini, ia menyarankan agar para ibu hamil harus tetap terhidrasi. Mereka harus minum lebih dari delapan sampai 12 gelas air sehari yang direkomendasikan untuk mencegah dehidrasi.

Oleskan tabir surya dengan perlindungan UVA dan UVB minimal SPF 30, SPF lebih tinggi lebihi baik jika Anda memiliki kulit sensitif.

"Matahari paling kuat dan panasnya akan paling buruk dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore, jadi cobalah untuk membatasi paparan sinar matahari langsung selama periode itu hingga 30 menit hingga satu jam," kata Carroll dalam rilis berita perguruan tinggi.

"Jika seorang ibu hamil kepanasan dan kehilangan kesadaran, itu dapat mengubah sirkulasi yang dapat mempengaruhi plasenta dan kehamilan," tambah Carroll.

Anda harus mewaspadai tanda-tanda kelelahan akibat panas seperti pusing, lelah, dan mual. Jika Anda merasakan gejala tersebut, pindahlah ke tempat yang teduh atau sejuk untuk beristirahat. Minumlah cairan dingin, terutama air dengan larutan yang mengandung natrium, seperti cairan elektrolit.

Gejala akan mereda setelah Anda melepaskan diri dari panas dan istirahat. Jika mual, muntah, kelelahan, dan pusing Anda bertahan lebih dari satu jam, hubungi dokter. Efek samping yang serius dari kenaikan suhu tubuh dapat mencakup muntah dan kehilangan kesadaran.

Kontraksi Braxton Hicks kadang-kadang disebut nyeri persalinan palsu yang bisa disebabkan oleh kelelahan dan dehidrasi.

*Sumber: suara.com

Senin, 26 Juli 2021

Jangan Asal, Ini 5 Makanan Utama yang Harus Dihindari Ibu Hamil!

Senin, 26 Juli 2021 18:08:04

Jangan Asal, Ini 5 Makanan Utama yang Harus Dihindari Ibu Hamil!

 

 

 

 

 

 

 

Ibu hamil perlu memperhatikan pola makan dan menu makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Karena, makanan yang masuk ke dalam tubuhnya akan berdampak pada kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungannya.

Bagi ibu hamil yang gemar mengonsumsi sushi, maka Anda harus menahan keinginan ini karena sushi bukan makanan terbaik untuk ibu hamil. Selain itu, ada beberapa makanan dan minuman yang memang tidak baik untuk dikonsumsi ibu hamil.

Berikut ini dilansir dari Express, 5 makanan utama yang harusnya dihindari oleh ibu hamil.

1. Ikan setengah matang atau mentah

Ikan setengah matang atau ikan mentah, terutama kerang biasanya ada dalam sushi yang harusnya dihindari. Makanan ini bisa menyebabkan beberapa infeksi virus, bakteri atau parasit, seperti norovirus, vibrio, salmonella dan listeria.

Beberapa dari infeksi tersebut bisa menyebabkan dehidrasi, kelemahan dan bisa menular ke bayi dalam kandungan yang akan berakibat serius hingga kefatalan.

Ibu hamil sendiri sangat rentan terinfeksi listeria dan akordeon. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, ibu hamil memiliki risiko 10 kali lebih tinggi daripada populasi umum.

Bakteri ini ditemukan di tanah, air atau tanaman yang terkontaminasi. Karena ikan mentah bisa terinfeksi selama pemrosesan, seperti pengasapan atau pengeringan. Maka, ibu hamil bisa terinfeksi listeria dalam ikan mentah.

Listeria dapat ditularkan ke bayi melalui plasenta, bahkan jika Anda tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit tersebut. Bakteri ini bisa menyebabkan kelahiran prematur, bayi lahir mati dan masalah kesehatan serius.

2. Makanan cepat saji

Makanan cepat saji atau junk food biasanya rendah nutrisi, tinggi kalori, gula, dan lemak tambahan. Sedangkan, ibu hamil perlu meningkatkan jumlah protein, folat, kolin, dan zat besi. 

Bila Anda tetap mengonsumsi makanan cepat saji selama kehamilan, ini bisa menyebabkan penambahan berat badan. Pada akhirnya, ini bisa meningkatkan risiko diabetes gestasional, serta komplikasi kehamilan atau kelahiran. Jangan Asal, Ini 5 Makanan Utama yang Harus Dihindari Ibu Hamil! - 1

3. Susu, keju, dan jus buah

Susu mentah, keju yang tidak dipasteurisasi, dan keju yang matang dengan lembut dapat mengandung berbagai bakteri berbahaya termasuk Listeria, Salmonella, E.Coli, dan Campylobacter. Begitu pula dengan jus buah yang tidak dipasteurisasi.

Semua bakteri itu bisa mengancam jiwa bayi dalam kandungan. Bakteri ini bisa terjadi secara alami atau disebabkan oleh kontaminasi selama pengumpulan atau penyimpanan. Pasteurisasi adalah cara paling efektif untuk membunuh bakteri berbahaya tanpa mengubah nilai gizi produk.

4. Ikan bermerkuri

Merkuri adalah elemen yang sangat beracun. Dalam jumlah yang lebih tinggi, merkuri dapat menjadi racun bagi sistem saraf, sistem kekebalan, dan ginjal. Karena itu, merkuri bisa menyebabkan masalah perkembangan serius pada anak-anak, meskipun dalam jumlah rendah.

Merkuri bisa ditemukan dalam ikan laut berukuran besar yang bisa mengakumulasi racun dalam jumlah tinggi. Jika Anda sedang hamil dan menyusui, sebaiknya hindari konsumsi ikan bermerkuri tinggi, seperti hiu, ikan todak, makarel raja, tuna, marlin, dan ikan ubin. Sedangkan, ikan bermerkuri rendah, termasuk teri, ikan salmon, nilai, trout, dan haddock.

5. Sayuran dan buah yang tidak dikupas

Permukaan buah dan sayuran yang tidak dikupas meskipun tidak kotorr bisa terkontaminasi sejumlah bakteri dan parasit, termasuk Toksoplasma, E-Coli, Salmonella dan Listeria. Kontaminasi dapat terjadi setiap saat selama produksi, pengolahan, penyimpanan, transportasi atau panen eceran.

Toksoplasma termasuk bakteri berbahaya, karena sebagian besar penderitanya biasanya tidak menunjukkan gejala atau hanya sekadar flu selama sebulan lebih.

Sebagian besar bayi yang terinfeksi bakteri Toksoplasma di dalam rahim tidak memiliki gejala saat lahir. Tapi, mereka bisa mengembangkan kebutaan atau cacat intelektual di masa mendatang. Karena itu, lebih baik mengupas buah dan mencuci bersih sayuran sebelum mengonsumsinya selama hamil.

*Sumber: suara.com

Kamis, 22 Juli 2021

Tak Cuma Kasih Makan dan Biayai Sekolah, Ini Hak Anak yang Mesti Dipenuhi Orang Tua

Kamis, 22 Juli 2021 17:39:54

Tak Cuma Kasih Makan dan Biayai Sekolah, Ini Hak Anak yang Mesti Dipenuhi Orangtua

 

 

 

 

 

 

 

Banyak orangtua seringkali tidak paham betul mengenai hak anak. Dengan menyekolahkan, dan memberi makan, sebagian orangtua menganggap bahwa mereka telah memberikan hak anak.

Padahal, menurut menurut Psikolog Efriyani Djuwita, hak anak bukan hanya dua hal tadi.

“Pertama memang mendapatkan pendidikan. Tapi ada hal lain yang lebih penting, di mana harus mendapatkan perlindungan, terbebas dari diskriminasi, dan pemenuhan kebutuhan lainnya,” ungkapnya pada acara Hak Bermain Anak, Rabu (21/7/2021).

Selain itu, Efriyani menambahkan hak anak juga harus dipenuhi lewat jam istirahatnya seperti tidur. Jika ini tidak dipenuhi, anak akan lebih mudah stres.

“Bahkan anak yang SD aja sudah banyak sekali tuntutan akademisnya, les tambahan juga, dan ini kalau dilihat aktivitasnya bisa hampir sama kayak orang kerja. Jadi yang perlu dipahami ya bukan itu aja, istirahat dan bermain juga kebutuhan utama anak,” ungkapnya lebih lanjut.

Lebih lanjut, ia juga mengatakan, bahwa orangtua juga perlu sadar akan hak bermain anak. Sehingga, anak bukan hanya dituntuk untuk sekolah dan mendapat nilai saja, melainkan juga bermain dan berkembang.

“Siapa yang harus memenuhi? Ya yang terdekat itu orang tua pastinya,” katanya.

Efriyani Djuwita mengatakan, manfaat bermain bisa meningkatkan energi anak. Karena itu, dampaknya bisa sangat besar bagi perkembangan anak. Mulai dari eksplorasi bahkan pembelajarannya.

“Dampaknya besar sekali bagi anak. Di usia yang masih belajar, ini bisa menjadi perkembangan anak. Mulai dari kognitif, bahasa, fisik motorik, sosial dan juga emosinya,” lanjutnya.

“Ini bisa dilatih lewat aktivitas bermainnya. Meski cuma mainan lego, merangkai balok, ular tangga, sebenarnya itu bisa jadi bahan pembelajaran anak. Karena itu bermain bisa menjadi aktivitas yang powerfull,” pungkasnya.

*Sumber: suara.com

Rabu, 21 Juli 2021

Pendidikan Anak Berpengaruh pada Kesehatan Mental dan Fisik Orang Tua

Rabu, 21 Juli 2021 17:45:28

Studi: Pendidikan Anak Berpengaruh pada Kesehatan Mental dan Fisik Orangtua

 

 

 

 

 

 

 

Keberhasilan atau kegagalan pendidikan anak dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental orangtua mereka. Hal ini dinyatakan dalam studi yang telah diterbitka pada Journal of Gerontology: Social Sciences.

Melansir dari Medicinenet, pada studi ini para peneliti dari University at Buffalo di New York menganalisis data dari National Longitudinal Study of Adolescent to Adult Health Amerika Serikat yang dimulai sejak tahun 1994 hingga sekarang.

Mereka menyimpulkan bahwa pendidikan bisa merugikan kesehatan dan gejala depresi yang dilaporkan sendiri oleh orangtua jika tidak ada anak mereka yang menyelesaikan kuliah dengan baik.  

"Hasil kesehatan mental negatif dari orangtua sebenarnya adalah temuan terkuat kami," kata rekan penulis studi Christopher Dennison, asisten profesor sosiologi.

Menurut rekan penulis studi Kristen Schultz Lee, hasil penelitisn ini sangat penting mengingat meningkatnya kesenjangan pendidikan di Amerika Sertikat dalam beberapa dekade terakhir.

"Kami tahu bagaimana pendidikan kita sendiri berdampak pada kesehatan kita sendiri, pendidikan orangtua berdampak pada anak-anak mereka, sekarang kami mencoba untuk menambah pemahaman itu dengan menjelaskan bagaimana pendidikan anak dapat berdampak pada orang tua mereka," ujar Lee yang juga  seorang profesor di departemen sosiologi universitas. 

"Satu hal yang saya pikir sangat menarik tentang temuan ini adalah bahwa orangtua yang kurang mampu tampaknya paling diuntungkan jika seorang anaknya memiliki gelar sarjana," kata Lee.

Penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Namun sejumlah faktor dapat menjelaskan hubungan antara prestasi pendidikan anak dan kesehatan orangtuanya.

"Orangtua yang anaknya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah mungkin menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengkhawatirkan anak-anak mereka. Itu memiliki implikasi negatif bagi kesehatan mental dan kesehatan penilaian diri mereka sendiri," kata Lee.

Anak-anak tanpa gelar mungkin membutuhkan lebih banyak bantuan dari orangtua mereka dan juga kurang mampu memberikan bantuan jika diperlukan sebagai imbalannya.

"Kemungkinan lain adalah bahwa anak-anak yang berpendidikan mungkin melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk membantu orangtua mereka menjalani kehidupan yang lebih sehat," imbuhnya.

*Sumber: suara.com

Selasa, 20 Juli 2021

Yuk Simak, Tips Belajar Daring Menyenangkan agar Anak Tak Jenuh di Rumah

Selasa, 20 Juli 2021 17:15:30

Yuk Simak, Tips Belajar Daring Menyenangkan agar Anak Tak Jenuh di Rumah

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang, belum memiliki struktur otak secara sempurna. Karena itu stimulasi dibutuhkan agar kemampuan kognitifnya terus berkembang.

Dosen jurusan keperawatan di Universitas Soedirman Dr. Endang Triyanto, S.Kep., mengatakan, perkembangan kognitif terjadi sangat pesat pada saat masa anak-anak. Karena itu wajar anak-anak kerap kali ingin mengetahui tentang hal-hal baru yang terjadi di sekitarnya.

Akan tetapi, keharusan belajar dari rumah atau belajar daring selama pandemi Covid-19 bisa menghambat proses stimulasi tersebut.

"Belum sempurnanya perkembangan kognitif pada anak, ketika harus belajar dari rumah dalam jangka waktu yang lama dapat membuat anak jenuh. Suasana belajar dari rumah dibandingkan dengan sekolah tentunya sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, sangat mungkin terjadi daya serap anak terhadap materi pelajaran tidak seoptimal ketika belajar tatap muka di sekolah," tutur Endang melalui keterangan tertulis yang diterima Suara.com, Minggu (18/7/2021).

Gawai seringkali menjadi jalan keluar yang diberikan orangtua kepada anak untuk mengusir rasa jenuh tersebut. Sayangnya tindakan itu justru berdampak pada kecanduan anak terhadap gawai. Menurut Endang, keluhan itu banyak dialami para orangtua selama pandemi Covid-19.

Oleh sebab itu, dikatakannya bahwa strategi pembelajaran harus dirancang secara kreatif dan inovatif agar mencapai kompetensi yang diharapkan sekaligus terpenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak. 

Semangat belajar dapat ditumbuhkan oleh guru dan orangtua dengan merancang rutinitas membaca 15 menit serentak di rumah masing-masing secara virtual. Maupun aktivitas ibadah bersama antara siswa dan guru secara virtual.

"Untuk menjalin kedekatan antara siswa, orangtua, dan guru dapat dilakukan kegiatan family gathering secara virtual. Guru dan siswa dapat merancang kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menyegarkan, dan saling menyemangati satu sama lain," usulnya.

Ia menambahkan bahwa proses pembelajaran hendaknya dilakukan dengan menarik, informatif, dan komunikatif. Seperti menggunakan media video pembelajaran, media pertemuan daring yang fleksibel juga dapat melalui media sosial. Guru dapat membuat media pembelajaran dan menguploadnya secara gratis.

Lebih jauh lagi dapat juga dilakukan dengan pertukaran pelajar secara daring, baik lingkup nasional maupun internasional antar negara. Siswa dapat melakukan proyek bersama teman-temannya dengan memanfaatkan teknologi.

"Apabila hal tersebut dilakukan, anak akan termotivasi untuk bersaing secara positif dan semangat belajar pun akan turut meningkat. Mereka akan berusaha tampil yang terbaik di hadapan teman-teman sebayanya," pungkas Endang.

*Sumber: suara.com

Jumat, 16 Juli 2021

Bisa Jadi Indikator Kepribadian, si Kecil Pemakan Cepat Atau Lambat?

Jum'at, 16 Juli 2021 18:31:07

Bisa Jadi Indikator Kepribadian, si Kecil Pemakan Cepat Atau Lambat?

 

 

 

 

 

 

 

Kecepatan makan anak dan pola perilaku atau kepribadian bisa berhubungan satu sama lain. Hal ini dinyatakan dalam penelitian yang terbit pada jurnal Pediatric Obesity.

Melansir dari Medicinenet, sebuah studi baru menemukan menemukan bahwa pemakan lambat cenderung tidak menjadi ekstrovert dan impulsif. Sementara pemakan cepat cenderung responsif terhadap isyarat makanan eksternal, memiliki tingkat frustrasi, ketidaknyamanan, dan kesulitan yang lebih tinggi dalam menenangkan diri.

Temuan lain adalah bahwa anak-anak yang merespons perasaan kenyang dengan baik cenderung memiliki kontrol diri yang lebih besar.

Studi ini melibatkan 28 orang yang mendaftar untuk program intervensi keluarga untuk mengurangi kecepatan makan di antara anak-anak berusia 4 hingga 8 tahun.

"Penelitian ini penting karena makan lebih cepat dan respons yang lebih tinggi terhadap isyarat makanan telah dikaitkan dengan risiko obesitas pada anak-anak," kata rekan penulis studi Myles Faith, profesor psikologi konseling, sekolah dan pendidikan di Sekolah Pascasarjana Pendidikan Universitas Buffalo.

"Temperamen terkait dengan banyak hasil perkembangan dan perilaku anak, namun meskipun ada bukti yang muncul, beberapa penelitian telah memeriksa hubungannya dengan obesitas anak," kata peneliti utama Dr. Robert Berkowitz, direktur Program Penelitian Gangguan Berat dan Makan di Rumah Sakit Anak. dari Filadelfia.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami peran yang dimainkan orang tua dalam temperamen dan perilaku makan anak-anak mereka.

"Orang tua dapat menggunakan makanan untuk menenangkan anak yang temperamental dan meredakan emosi negatif," , kata peneliti utama studi dan penulis pertama Alyssa Button, seorang kandidat doktor di Sekolah Pascasarjana Pendidikan Universitas Buffalo dan spesialis dukungan penelitian senior di departemen pediatri di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Biomedis universitas.

"Penelitian di masa depan harus memeriksa cara yang berbeda orang tua memberi makan anak-anak mereka dalam menanggapi temperamen mereka, serta mengeksplorasi apakah hubungan antara temperamen dan perilaku makan adalah jalan dua arah," katanya.

*Sumber: suara.com