SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Jumat, 05 Juni 2020

Lihatlah, Bagaimana Stres pada Orangtua Bisa Sangat Melukai Anak

Jum'at, 05 Juni 2020 17:10:01

Lihatlah, Bagaimana Stres pada Orangtua Bisa Sangat Melukai Anak

Coba perhatikan. Apakah kamu menjadi orangtua yang lebih sering marah kepada anak di tengah tekanan masa pandemi Covid-19?

Jika iya, maka kamu sebenarnya tak perlu khawatir. Sebab, kamu tidak sendirian.
Ketika keluarga "terjebak" hanya berada di dalam rumah, disadari atau tidak orangtua memang memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih mudah marah.

Ada pula rasa frustrasi terhadap anak-anak akibat pandemi ini, hingga memicu hilangnya kesabaran orangtua.

“Kelanjutannya adalah orangtua biasanya lalu merasa sangat bersalah, menyesal, karena sempat kehilangan kesabaran," kata Psikiater di Pusat Kesehatan Psikologis Singapura, Dr Lim Boon Leng.

Kondisi tinggal di rumah memang berpotensi meningkatkan kadar stres pada orangtua terkait berbagai isu dan masalah yang menjadi pemicunya.

Theresa Pong, Penasihat Utama di Focus on the Family Singapore, yang biasa memberikan pendampingan kepada pasangan suami-istri memberi pendapat tersebut.

Ada kondisi, seperti cabin fever yang terjadi seperti tanpa jeda, hingga kewajiban merawat anak-anak sendirian sambil tetap harus memenuhi komitmen kerja.
Belum lagi, kondisi yang memaksa suami-istri bekerja berdekatan di rumah, kekhawatiran tentang keuangan, kesehatan, dan hal-hal menyangkut gaya hidup keluarga.
Di saat orangtua memiliki harapan tinggi untuk bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak, mereka juga harus menyeimbangkan kondisi bekerja dari rumah, sambil merawat anak-anak.

Pada akhirnya, garis tegas yang semula memisahkan urusan pekerjaan dan keluarga, kini kian samar.

"Stres tambahan dapat mengakibatkan kekecewaan dan bahkan kebencian, menyebabkan orangtua kehilangan regulasi emosional," kata Pong.

Ibu ternyata lebih stres daripada ayah
Meskipun stres dapat terjadi pada ibu dan ayah, namun ibu lebih rentan, karena mereka cenderung menjadi pengasuh utama.

Pandangan ini diutarakan Christine Wong, pendiri dan pelatih psikotrauma utama di Rhemaworks International -sebuah lembaga konsultasi swasta untuk pelatihan dan terapi kehidupan dan pribadi.

Wong mengatakan, data survei keluarga di Singapura, dengan responden 1.076 ibu di bulan Maret dan April, telah membuktikan hal ini.

Ditemukan, sebanyak 60 persen ibu dari jumlah tersebut merasa tingkat stres mereka berada pada angka tujuh dalam skala 10.
Peningkatan data tersebut mencapai 52 persen dibandingkan survei serupa tahun lalu.

Laporan tersebut mencatat, para ibu juga berisiko mengalamai ganggguan kesehatan emosi dan mental.

Data mengungkap, sebanyak 6:10 responden mengalami masalah kurang tidur, karena terlelap hanya selama enam jam atau bahkan kurang.

Mengingat kondisi tersebut, Wong mengatakan, orangtua harus lebih peka dalam memerhatikan sisi emosional ini, dan apa yang tak boleh dilakukan kepada anak.
Misalnya, menetapkan terlalu banyak aturan, lalu emosi menjadi terpicu ketika anak tidak mentaatinya.

Atau, terlalu mengontrol dan menggunakan metode berteriak dan memukul, serta menyalahkan anak atas kelakuan buruk. Hal-hal ini sebaiknya dihindari.

“Yang benar adalah, itu bukan kesalahan anak itu."

"Anak itu hanya menjadi anak kecil. Kita semua tahu ini, namun secara tidak sadar kita mengharapkan mereka memiliki kapasitas intelektual dan perilaku orang dewasa,” kata Wong.

Hal ini patut diperhatikan dengan baik, karena orangtua dapat menimbulkan trauma emosional yang tidak disadari, ketika mencerca anak dengan sebutan nakal atau bodoh.

"Dampak sama buruknya pun bisa muncul ketika orangtua membuat anak mereka bersalah," kata dia.

Seiring waktu, trauma tersebut menjadi tertanam dalam sistem kepercayaan anak.
Lalu, ketika suatu saat nanti mereka menjadi ibu dan ayah, mereka berpotensi mengulangi pola perilaku negatif yang mereka alami, dan itu akan menjadi lingkaran setan.

Bagaimana stres orangtua melukai anak

Dr Lim menjelaskan, dalam jangka pendek, anak-anak yang terluka secara emosional memang dapat menjadi seperti semakin dekat dengan orangtua. Sebab, ada perasaan takut akan ditinggalkan.

"Parahnya, dalam jangka panjang, jika pelecehan emosional terus berlanjut, anak bisa tumbuh dengan harga diri yang rendah, kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian," kata dia.

Pong mengingatkan, ketika anak terlihat ulet dan dapat mengatasi kesulitan, hal ini pun seharusnya tidak menjadi alasan bagi orangtua untuk "melegalkan" pelakukan kasar terhadap mereka.

“Sebagai gantinya, kita dapat mengubah 'momen pengasuhan yang gagal' seperti itu menjadi momen belajar baik untuk anak-anak, dan diri kita sendiri,” kata dia.

Jika kemarahan dan reaksi berlebih sudah terjadi, maka hal itu bisa mulai diperbaiki dengan mencoba mengakui kesalahan kepada anak.

"Meminta maaf kepada anak mereka atas reaksi atau perilaku yang salah tempat atau salah arah adalah hal yang baik."

"Lalu, mulailah memproses cara yang lebih baik untuk mengatasi stres, ketegangan, atau perilaku buruk bersama, ketika hal itu terjadi kembali," sambung Pong.

*Sumber: kompas.com

Selasa, 02 Juni 2020

Cegah Covid-19, Perlukah Tahan Napas saat Berdekatan dengan Orang?

Selasa, 02 Juni 2020 17:44:59

Cegah Covid-19, Perlukah Tahan Napas saat Berdekatan dengan Orang?




Beberapa negara terdampak Covid-19 mulai memasuki fase normal baru atau new normal, termasuk Indonesia. Sejumlah orang akan segera kembali ke rutinitas lama, seperti bekerja di kantor.

Meski begitu, orang-orang masih terus mencari cara untuk melindungi dirinya semaksimal mungkin dari infeksi Covid-19 saat kembali ke rutinitasnya.

Berbagai pertanyaan berkaitan dengan keamanan diri juga terus bermunculan. Salah satunya, perlukah kita menahan napas ketika berdekatan dengan orang lain demi mencegah penularan virus?

Pertanyaan itu muncul terutama dari orang-orang yang terpaksa harus beraktivitas di luar rumah atau pergi ke rumah sakit untuk alasan darurat.
Kebanyakan orang mungkin akan secara insting menahan napas ketika ada berdekatan dengan orang lain untuk menjaga dirinya jauh dari patogen berbahaya.

Namun, hal pertama yang disarankan ketika berada di ruang publik dengan banyak orang di sekitar adalah menggunakan penutup wajah atau masker kain, dan mempraktikkan pembatasan fisik.

Para ahli meyakini, seseorang yang berjalan mendekati kita dalan waktu sebentar cenderung tidak akan menulari virus. Kecuali jika mereka batuk dan bersin tepat di wajah kita sampai kita terkena tetesan atau droplet.

Oleh karena itu, menahan napas hanya karena berdekatan dengan seseorang sebentar mungkin tidak diperlukan.

Itulah mengapa anjuran untuk menjaga jarak setidaknya 2 meter terus disuarakan. Selain itu, penting untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, seperti menggunakan masker, tidak menyentuh wajah di tempat umum, hingga mencuci tangan dengan air dan sabun sesering mungkin.

Ingatlah jika menahan napas mungkin sedikit menguntungkan, itu tentu tidak bisa menggantikan fungsi masker wajah, terutama ketika di tempat umum.

*Sumber: kompas.com

Senin, 01 Juni 2020

Apakah Kamu Memiliki Kekebalan Tubuh yang Lemah? Kenali Tandanya

Senin, 01 Juni 2020 17:00:00

Apakah Kamu Memiliki Kekebalan Tubuh yang Lemah? Kenali Tandanya

Mengetahui kondisi sistem kekebalan tubuh sangat penting, apalagi saat ini seluruh dunia sedang memerangi pandemi virus corona.
Seperti yang kita tahu, orang dengan kekebalan tubuh rendah atau lemah telah ditemukan lebih berisiko tertular virus  Covid-19 yang mematikan.

Laporan terbaru mengungkapkan, bahwa banyak panti jompo sedang berjuang karena virus corona telah menginfeksi banyak pasien dan staf mereka.

Menurut New York Times, para manula adalah yang paling rentan terkena virus corona.

Orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah atau orang-orang yang tertekan sistem kekebalannya rentan terkena penyakit dari virus, bakteri, dan patogen lainnya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), orang-orang ini termasuk pasien HIV / AIDS, pasien kanker dan transplantasi, individu dengan penyakit bawaan, dan kondisi medis lainnya.
Sistem kekebalan sangat penting dalam perjuangan tubuh melawan partikel asing. Kerentanan seseorang terhadap infeksi dan penyakit sangat tergantung pada sistem kekebalan tubuh seseorang.

Karenanya, kekebalan tubuh bervariasi dari orang ke orang. Beberapa orang lebih rentan terhadap infeksi dan menunjukkan reaksi yang parah, sedangkan yang lain tidak memanifestasikan respons imun terhadap infeksi ringan.

Bagi mereka yang tidak yakin apakah mereka memiliki sistem kekebalan yang lemah atau tidak, Dr. Axe telah mendaftarkan semua tanda dan gejala dari sistem kekebalan yang melemah.

Mereka yang termasuk rentan terhadap infeksi adalah yang mengalami peningkatan frekuensi dan durasi penyakit, infeksi berulang, masalah pencernaan, sakit kepala, peradangan, kelelahan, nyeri otot, dan persendian serta gangguan autoimun.

Jika seseorang mudah masuk angin, hampir bisa dipastikan bahwa orang tersebut juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Selain itu, jika sering merasakan sakit, maka itu juga pertanda bahwa ada kemungkinan mengalami gangguan imun.

Selama pandemi Covid-19 ini, penting untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh demi melindungi diri dari virus corona.

Para ahli telah merekomendasikan cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan risiko terinfeksi oleh virus corona.

Pertama adalah memerhatikan apa yang Anda makan selama masa karantina. Pola makan memiliki dampak besar pada kesejahteraan hidup secara keseluruhan.

Yang berikutnya adalah mengelola stres dan tidur yang cukup. Keduanya meningkatkan fungsi organ dan sistem yang berbeda di dalam tubuh.

Yang terakhir adalah mengonsumsi suplemen selama masa karantina, sesuai kebutuhan. Karena tidak semua kebutuhan nutrisi tubuh dapat diperoleh dari makanan.

*Sumber: kompas.com

Minggu, 31 Mei 2020

Trik Kuatkan Imunitas Anak di Tengah Pandemi

Minggu, 31 Mei 2020 17:40:15

Trik Kuatkan Imunitas Anak di Tengah Pandemi

Virus corona (COVID-19) tidak hanya menimpa orang lanjut usia saja. Virus asal Wuhan, Cina ini juga dapat dialami oleh anak-anak.

Di Surabaya sendiri, sudah ada sekitar 38 anak-anak dengan rata-rata usia 0-14 tahun yang terinfeksi COVID-19.

Meski secara umum anak-anak memiliki risiko lebih kecil terinfeksi dan tidak menimbulkan gejala berat.

Namun, hal itu tetap harus diwaspadai, lantaran anak-anak bisa berisiko menularkan kepada orang tua atau mereka yang rentan.

Untuk mengatasi hal itu, orang tua harus meningkatkan imunitas anak. Lantas bagaimana cara meningkatkan imunitas tersebut?

dr Diana Amilia Susilo, SpA, spesialis anak dari RSIA Kendangsari Merr Surabaya mengatakan, jika ada tiga faktor imunitas yang harus diperhatikan. Pertama yaitu daya tahan tubuh anak, virus, dan lingkungan.

"Kita perlu mengondisikan ketiganya dengan baik, biar saling melengkapi," kata Diana, Sabtu (30/5).

Agar ketiganya dapat berjalan dengan baik, Diana mengimbau kepada para orang tua agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

"Untuk pola hidup bersih ini seperti membiasakan cuci tangan, mandi setelah berpergian, menggunakan masker, menjaga jarak, dan lain-lain. Nah hidup bersih ini berkaitan dengan lingkungan dan paparan virusnya," jelasnya.

Sementara untuk pola hidup sehat, orang tua bisa memberikan makanan bergizi, minum vitamin, dan berolahraga.

"Untuk vitaminnya, lebih baik memilih bahan makanan alami bagi anak. Terus vitamin D ini juga bisa didapat dari sinar matahari. Misalnya ngajak anak untuk berjemur waktu pagi hari selama 10 menit," tambahnya.

Hal  penting lain yang perlu diperhatikan orang tua untuk menjaga imunitas tubuh anak adalah dengan memberikan imunisasi sesuai jadwal yang diprogramkan oleh pemerintah.

"Meskipun dalam kondisi pandemi, sebaiknya imunisasi dasar tetap diberikan, dengan menjaga kewaspadaan pada saat mengantri di posyandu, puskesmas, atau rumah sakit. Apabila imunisasi dasar tidak diberikan, maka risiko untuk tertular penyakit lain, selain COVID-19 akan meningkat, dan ini harus dihindari," pungkasnya.

*Sumber: kumparan.com

Sabtu, 30 Mei 2020

Pahami 4 Tanda Kekebalan Tubuh Sedang Melemah

Sabtu, 30 Mei 2020 17:24:05

Pahami 4 Tanda Kekebalan Tubuh Sedang Melemah

Di masa pandemi ini memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat sangat penting. Sistem imunitas yang lemah tidak hanya membuat kita lebih rentan tertular Covid-19, tetapi juga masalah kesehatan lain yang hanya akan memperburuk situasi.

Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah memang paling rentan tertular penyakit dari virus, bakteri, dan patogen. Orang dalam kelompok ini adalah mereka yang mengidap HIV/AIDS, pasien kanker, pasien cangkok organ, serta mereka dengan penyakit bawaan.

Unsur utama kekebalan tubuh yang kuat adalah makan makanan yang sehat dan seimbang, tidur yang cukup dan berkualitas, stres terkelola, menghindari rokok dan alkohol, berolahraga secara teratur, menjaga berat badan yang sehat, dan memperhatikan kebersihan makanan serta kebersihan pribadi.
Namun, walau kita sudah mengikuti semua anjuran tersebut, tak gampang memastikan apakah daya tahan tubuh kita dalam kondisi yang baik atau tidak.

Berikut adalah 4 tanda yang harus diperhatikan:

1. Sering sakit

Sangat normal bagi orang dewasa untuk pilek sekali atau dua kali setahun. Namun, semakin sering tertular infeksi virus, seperti sakit flu dan batuk yang lama sembuh, mengalami lebih dari empat infeksi telinga atau lebih dari tiga episode sinusitis bakteri setahun, kita harus waspada.

Menggunakan antibiotik jangka panjang dua kali setahun juga dapat menunjukkan bahwa "tentara tubuh" mungkin kurang kuat memerangi paparan patogen yang masuk.

2. Sariawan berulang

Kulit akan segera memperbaiki kerusakan setelah terjadinya luka bakar, luka dan memar. Tubuh mulai memperbaiki luka dengan mengirimkan darah yang kaya nutrisi ke luka untuk membantu regenerasi kulit.

Proses penyembuhan ini tergantung pada sel-sel kekebalan yang sehat. Ketika ada kekurangan dalam sistem kekebalan tubuh, penyembuhan melambat.

Terus-menerus berurusan dengan sariawan, serta nfeksi kulit lainnya seperti abses bisa menjadi tanda-tanda sistem kekebalan tubuh yang tidak memadai.

3. Perut kembung

Sistem pencernaan kita mewakili hampir 70 persen dari seluruh sistem kekebalan tubuh. Selain itu, bakteri dan mikroorganisme (flora) bermanfaat yang hidup di sana melindungi usus dari infeksi dan mendukung sistem kekebalan tubuh kita.

Gangguan pada usus dan flora usus dapat meningkatkan risiko tertular virus, menyebabkan peradangan kronis dan bahkan dapat menyebabkan gangguan autoimun seperti Crohn's.

Sering kembung, diare, perut begah, atau sembelit seringkali bisa menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada usus.

4. Selalu merasa lelah

Tubuh akan memberi sinyal jika kita tidak memiliki energi untuk melakukan apa pun lagi. Waspada jika kita masih merasa lelah walau sudah cukup tidur dan tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

Gejala yang tak menentu, terutama nyeri sendi, mual dan penurunan nafsu makan, juga bisa jadi tanda ada masalah dengan sistem kekebalan tubuh.
Terutama pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh berhenti akan melawan faktor-faktor eksternal dan mulai memperlakukan jaringannya sendiri seolah-olah mereka adalah musuh.

*Sumber: kompas.com

Jumat, 29 Mei 2020

5 Cara Hilangkan Rasa Baper Terhadap Mantan

Jum'at, 29 Mei 2020 17:13:02

5 Cara Hilangkan Rasa Baper Terhadap Mantan

Menyelesaikan hubungan dengan mantan kekasih terkadang menjadi suatu hal yang runyam. Tidak semua orang bisa melupakannya begitu saja, sehingga masih ada rasa baper pada sang mantan.

Meski demikian, terdapat cara yang bisa kita ambil agar lebih mudah melupakan sang mantan, dan tidak selalu merasa baper dengannya. Berikut kumparanWOMAN rangkum menurut sumber Psychology Today.

Putus kontak

Walaupun cinta sudah berakhir, namun terkadang komunikasi dengan mantan sulit diputuskan. Ini yang membuat kita kembali baper, dan semakin sulit melepasnya. Karena itu, jauhi mantan untuk sementara waktu. Kalau kita sudah benar-benar move on, maka kita bisa menjalin hubungan pertemanan dengan tulus. Tapi boleh juga untuk tidak berhubungan lagi sama sekali. Semua tergantung kondisi hati. 

Hilangkan bayangan tentangnya

Banyak orang tidak menyadari, sebagian besar rasa sakit yang dialami adalah karena kita masih berimajinasi tentang mantan. Kita jadi terbayang-bayang dengan hal yang semestinya tidak terjadi, seperti seandainya ia tidak selingkuh, atau seandainya kita bisa memaafkan. Hal itu kadang membuat  kita semakin terluka, dan merasa baper terhadap hal apapun tentangnya.

Bukalah mata dan hati, bahwa hubungan ini sudah seharusnya berakhir. Jangan sampai kita mempertahankan apa yang tidak membuat bahagia.

Berdamai dengan masa lalu

Nyatanya, membenci mantan tidak akan mengubah apa-apa, Ladies. Kita harus bisa berdamai dengan keadaan. Menerima apa yang sudah terjadi akan membuat kita lega untuk kembali memulai lembaran baru. Jadikanlah diri kita merasa lebih baik di banding masa lalu, ini akan membantu kita untuk tidak membutuhkan sang mantan untuk kembali menjalin asmara.

Jangan salahkan diri jika kita masih merasa cinta pada sang mantan

Cinta tidak bisa disalahkan. Tetapi cinta saja tidak cukup untuk hubungan yang baik. Tidak salah pula, bila kita pisah dari hubungan yang sudah tidak berarti lagi. Terkadang satu-satunya cara untuk melepaskan sang mantan adalah dengan cara menginginkan yang terbaik untuknya, meski sudah tidak bersama.

Belajar lebih mencintai diri sendiri

Dibanding masih merasa baper dengan mantan, dan masih berharap kepadanya, lebih baik kita memandang diri sendiri secara positif. Pikirkan hal yang membuat kita bahagia, memperbaiki diri jadi lebih baik dan lakukan kesibukan yang positif serta bisa mengembangkan diri kita.

Jangan lupa untuk sering menyediakan waktu dengan orang yang kita cintai seperti sahabat dan keluarga. Jadi cobalah untuk selalu fokus memberikan yang terbaik bagi diri sendiri, dengan begitu rasa baper dengan sang mantan akan segera hilang.

*Sumber: kumparan.com

Rabu, 27 Mei 2020

Dampak Buruk Menghangatkan Makanan Sisa Berkali-kali

Rabu, 27 Mei 2020 19:20:45

Dampak Buruk Menghangatkan Makanan Sisa Berkali-kali

Menghangatkan makanan sisa hingga berkali-kali sudah jadi kebiasaan banyak orang. Apalagi pada momen pasca-Lebaran seperti sekarang, sisa makanan yang berlimpah tentu sayang jika dibuang sehingga kita memilih untuk menghangatkannya agar bisa dikonsumsi.

Walau demikian, menghangatkan makanan hingga berkali-kali ternyata memiliki beberapa dampak buruk, lho.

Konsultan nutrisi dan wellness dari Nutrifood, Moch. Aldis Ruslialdi, SKM, CNWC memberikan penjelasannya.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kesegaran makanan. Beberapa jenis makanan menurutnya cenderung tidak segar lagi ketika dihangatkan berkali-kali atau bahkan basi setelah disimpan berhari-hari, terutama makanan bersantan.

Sementara makanan kering cenderung tahan lebih lama.
 "Jadi dianjurkan jangan terlalu sering dihangatkan, apalagi sampai berkali-kali," ungkapnya dalam sesi

Kulwap media beberapa waktu lalu.

Seperti apa makanan yang masih segar? Secara sederhana, tanda makanan yang sudah kurang baik di antaranya aroma basi dan tidak segar yang tercium serta perubahan tekstur makanan.

Misalnya, jika makanan tersebut pada awalnya bertekstur lunak menjadi mengeras setelah didiamkan lama.
"Saya tidak anjurkan untuk mencicipi. Jadi dicium dulu dan lihat teksturnya, kalau sudah oke baru boleh dicicipi," kata Aldis.

Dari segi risiko kesehatan, menurut Aldis, tidak terlalu berdampak. Hanya saja, untuk masakan-masakan berbahan baku sayur kita perlu memerhatikan nilai gizi yang berkurang jika dihangatkan berkali-kali.

Terutama untuk Vitamin C dan B.

"Jadi buat sayur-sayuran sebisa mungmin jangan dihangatkan berkali-kali. Satu sampai dua kali cukup," ujarnya.

*Sumber; kompas.com