SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Jumat, 24 Januari 2020

Kunci Stamina Prima untuk Calon Pengantin

Jum'at, 24 Januari 2020 17:33:09

Kunci Stamina Prima untuk Calon Pengantin

Tanggal pernikahan? Cek! Lokasi? Cek! Desain kartu undangan? Cek!

Ya, Anda mungkin sudah mencentang hampir semua daftar keperluan prosesi pernikahan. Namun, sudahkah Anda mempersiapkan stamina dan penampilan untuk menghadapi hari besar? Dengan sederet hal yang harus dilakukan, stamina penting dijaga. Hari-hari menjelang hari H bisa sangat menguras energi calon pengantin, khususnya jika semua ditangani sendiri. Anda tak ingin terlihat lelah dan kusam saat bersanding dengan belahan hati, bukan? Karena itu, beri nutrisi pada tubuh dari luar dan dalam agar tampil prima di hari bersejarah. Jika belum, yuk persiapkan diri dengan cara ini!

Asupan sehat, lambung sehat

Sebelum memikirkan perawatan pranikah di salon, isi badan terlebih dulu dengan asupan bernutrisi yang tidak diproses. Makanan asli yang tidak mengalami proses kimia kaya akan antioksidan, serat, lemak baik, dan protein. Kandungan nutrisi tersebut bisa meningkatkan energi dan membuat kulit bercahaya, lho! Selain itu, konsumsi makanan sehat juga salah satu bentuk menyayangi lambung karena triliunan bakteri baik dan buruk ada di dalamnya. Dengan makanan bernutrisi, kebutuhan probiotik bisa terpenuhi dan mendukung keseimbangan microbiome dalam lambung yang melancarkan pencernaan dan meningkatkan stamina. Meski “hanya” berdiri di pelaminan, rangkaian prosesi pernikahan sangat membutuhkan stamina yang prima.

Ayo aktif bergerak!

Tak ada yang mengalahkan pengaruh keringat dalam membentuk kulit yang bercahaya. Anda akan merasa lebih berenergi, lebih kuat, dan tampil memesona hanya dengan meluangkan waktu untu bergerak tiap hari. Tidak perlu berjam-jam, lakukan 15 menit sehari saja asal maksimal. Bonusnya? Tidak hanya meningkatkan mood dan melepaskan hormon stres, stamina pada hari H pun akan lebih terjaga dan tidak mudah lelah.

Beri nutrisi rambut, kulit, dan kuku

Kata siapa cantik itu hanya terlihat dari wajah? Rambut, kuku, dan kulit yang sehat bisa menjelaskan kesehatan seluruh badan Anda. Pastikan Anda memberikan nutrisi seperti flaxseed oil untuk memenuhi kebutuhan Omega 3 yang bisa menjaga kelembapan kulit agar lentur namun tetap kencang, vitamin A yang menstimulasi sel pembentuk kolagen sekaligus mencerahkan kulit. Tak ketinggalan hyaluronic acid serum untuk kulit yang bercahaya di hari pernikahan.

Satu lagi, kopi! Ya, antioksidan yang terkandung di dalam kopi bisa menjaga kulit dari radikal bebas yang memicu penuaan dini. Krim mata yang mengandung kafein juga bisa membantu menyamarkan kantung mata. Jangan lupa juga protein untuk rambut, kulit dan kuku yang terkandung dalam keratin dan biotin. Semua ini bisa Anda dapatkan dalam bentuk vitamin yang mudah dijangkau di gerai kecantikan atau farmasi terdekat.

Beauty sleep, tidur berkualitas

Merencakan pernikahan bisa melelahkan dan memicu stres. Beauty sleep bukan sekadar mitos. Tidur berkualitas bisa bermanfaat banyak untuk kesehatan badan, termasuk untuk kulit. Kurang tidur membuat sel kulit tak punya waktu untuk memperbaiki diri sehingga membuat kulit terlihat kusam. Penuaan dini pun bisa terjadi pada mereka yang kurang tidur. Tidur juga meningkatkan fokus, memperbaiki memori, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Jadi, berikan waktu 7 hingga 9 jam per hari untuk tidur berkualitas demi stamina prima pada hari pernikahan Anda. Sulit tidur? Oleskan minyak aromaterapi atau nyalakan musik pelan untuk membantu Anda rileks hingga tertidur.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 21 Januari 2020

Anak Juga Bisa Stres, Begini Cara Menghilangkan Stres pada Anak

Selasa, 21 Januari 2020 17:29:04

Anak Juga Bisa Stres, Begini Cara Menghilangkan Stres pada Anak

Tidak hanya pada orang dewasa, stres ternyata juga bisa terjadi pada anak-anak. Sayangnya, kondisi ini cukup sulit dikenali, karena anak seringkali tidak sadar, dirinya sedang mengalami depresi.

Hal ini membuat orangtua menjadi sulit menerapkan cara menghilangkan stres untuk membantu anak.

Karena itu, ada baiknya kita juga mengenali tanda yang akan muncul ketika anak mengalami stres. Dengan begitu, kita dapat segera memulai langkah-langkah untuk membantu Si Kecil kembali ceria.

Hal ini memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Namun sebagai langkah awal, kita dapat mulai memperhatikan perubahan perilaku anak, yang dapat ditandai dengan:

- Perubahan suasana hati
- Rewel
- Perubahan pada jadwal tidurnya
- Mengompol saat tidur
- Sulit berkonsentrasi
- Menjadi lebih penakut
- Tidak mau ke sekolah
- Menjauh dari teman-teman maupun keluarga
- Menimbulkan masalah di sekolah

Selain itu, saat anak stres, tanda-tanda perubahan secara fisik juga dapat terjadi, seperti:

- Menjadi tidak nafsu makan atau justru nafsu makan menjadi bertambah
- Sakit kepala
- Sakit perut
- Susah tidur atau mengalami mimpi buruk
- Mengompol

Anak-anak yang berusia lebih muda biasanya juga akan memiliki kebiasaan baru seperti sering mengisap jempol, memainkan rambut, atau mengupil.

Sementara itu, anak-anak yang sudah berusia lebih besar akan mulai berbohong, menjadi pelaku bullying, atau tidak mematuhi orangtua.

Cara menghilangkan stres pada anak

Mengalami stres dapat membuat keseharian anak terganggu. Untuk membantu mengatasinya, cara menghilangkan stres berikut ini bisa kita lakukan agar anak dapat kembali ceria.

1. Beri semangat pada Si Kecil untuk menghadapi masalah

Saat anak memiliki masalah, ia akan cenderung menghindarinya. Namun, tentu ini bukanlah hal yang baik. Kita dapat membantu Si Kecil untuk menghadapi masalah yang membuatnya stres.

Saat masalah tersebut dihadapi dengan berani, lama-kelamaan anak akan belajar, bahwa rasa cemas yang ia rasakan, akan hilang seiring dengan berjalannya waktu.

2. Katakan pada anak bahwa tidak semua orang harus sempurna

Sebagai orangtua, tentunya kita ingin segala sesuatu yang terbaik untuk anak. Hal ini dapat membuat kita secara tidak sadar memberikan tekanan pada anak, untuk selalu berhasil dalam segala hal yang ia kerjakan.

Keberhasilan memang penting. Hal tersebut dapat memicu anak untuk bekerja keras mencapai keinginannya. Namun, kita juga perlu memberikan pengertian pada anak, bahwa kekalahan serta kesalahan itu adalah hal yang dapat terjadi.

Ajari agar ia belajar menerima kekalahan serta kesalahan dengan baik.

3. Sisihkan waktu untuk berbicara dengannya

Quality time antara anak dan orangtua sangat penting untuk dilakukan, terutama jika anak mulai menunjukkan tanda stres. Luangkan waktu untuk menemaninya, dan biarkan anak nyaman dengan kehadiran kita.

Jangan memaksanya untuk bercerita jika ia tidak mau, meski orangtua merasa khawatir.

Beberapa anak akan merasa lebih nyaman jika waktunya dihabiskan dengan menjalani aktivitas yang menyenangkan, dibandingkan berbicara mengenai masalahnya.

4. Berdiskusi bersama untuk mencari jalan keluar

Jika anak bercerita mengenai masalahnya, jadilah pendengar yang baik. Tunjukkan bahwa Anda tertarik dan anak menjadi sosok yang penting.
Orangtua bisa berdiskusi mengenai penyebab stresnya dan mencari solusi bersama. Misalnya dengan mengurangi kegiatan ekstrakurikuler atau les pelajaran, yang sedang dijalaninya.

5. Jadikan rumah sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk anak

Jadikan rumah sebagai tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk anak. Lakukan rutinitas yang seru seperti bermain games bersama keluarga, dan makan malam bersama. Ciptakan suasana yang menenangkan.

Semua cara menghilangkan stres di atas membutuhkan hubungan baik antara anak dan orangtua, agar dapat dijalankan dengan sukses.

Karena itu, pastikan selalu meluangkan waktu untuk Si Buah Hati dan melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan.

*Sumber: kompas.com

Senin, 20 Januari 2020

5 Kebiasaan Baik yang Sering Dianggap Masalah dalam Hubungan

Senin, 20 Januari 2020 18:19:30

5 Kebiasaan Baik yang Sering Dianggap Masalah dalam Hubungan

Ada kalanya kita merasa ada beberapa kebiasaan buruk dalam hubungan dan berusaha menghentikannya.

Padahal sebenarnya, kebiasaan tersebut sebenarnya justru membuat hidup dan hubungan kita menjadi lebih baik.

Tidak ada paksaan untuk tetap menjalani hubungan jika kita tidak bahagia, namun kita perlu menemukan batasan tipis antara hubungan yang 'beracun' dan sesuatu yang sebenarnya dapat ditoleransi.

Berikut lima kebiasaan dalam hubungan yang sering dianggap sebagai masalah.

1. Sesekali melupakan konflik

Banyak orang berfokus menyelesaikan setiap argumen dalam hubungan, namun terkadang lebih sehat untuk melupakannya.

Sejumlah konflik mungkin tidak dapat diselesaikan dan memperjuangkan hal itu hanya memerburuk kondisi.

Perlu diingat, tidak semua konflik layak diperjuangkan, apalagi jika itu hanya masalah sepele. Menghindari konflik tersebut bisa jadi lebih baik demi menyelamatkan hubungan.

2. Tertarik pada orang lain

Ingin tertarik dengan pasangan sepanjang waktu sangat tidak mungkin secara biologis. Kita harus menerima bahwa kita bisa saja merasa tertarik pada orang lain, dan itu bukan masalah.

Bukan berarti kita tidak cinta lagi dengan pasangan, melainkan hanya bentuk kekaguman kita kepada orang lain.

Tindakan yang berdasarkan ketertarikan atau kesukaan ada di tangan kita, dan setiap tindakan kita tentu memiliki konsekuensi, entah itu menjaga atau menghancurkan hubungan. Karena bagaimanapun daya tarik sebagian besar bersifat sementara, dan cinta itu nyata.

3. Menghabiskan waktu sendiri

Selama apapun kamu menjalin hubungan, kamu tetap perlu memiliki waktu untuk diri sendiri atau me time.

Menghabiskan waktu bersama pasangan memang penting, tapi bergerak maju dalam hidup dan memenuhi impian diri sendiri juga sama pentingnya.

Berikan ruang dalam suatu hubungan, karena itu justru akan menguatkan ikatan.

Menghabiskan waktu secara terpisah selama beberapa waktu juga membuat masing-masing individu memperoleh kembali "percikan" yang hilang.

4. Menerima kelemahan satu sama lain

Tidak ada di dunia ini yang sempurna, dan begitu kita menerima kelemahan satu sama lain, semakin kuat hubungan itu.
Kita perlu menyukai dan menerima seperti apa pasangan kita, lalu ambil keputusan apakah kita ingin benar-benar bersamanya atau tidak.

5. Tidak sengaja menyakiti

Ada waktu di mana kita melakukan sesuatu yang orang lain tidak suka atau merasa sakit karena itu, begitu pula sebaliknya.

Intinya adalah kita tidak berpura-pura bahagia dan mengungkapkan secara jujur jika kita terluka.

*Sumber: kompas.com

Sabtu, 18 Januari 2020

Cara Kembangkan Kecerdasan Berbahasa Anak

Sabtu, 18 Januari 2020 18:15:04

Cara Kembangkan Kecerdasan Berbahasa Anak

Sebagai orang tua baru, saat anak mulai mengatakan kata demi kata atau kalimat utuh, maka bisa menjadi kebahagiaan tersendiri ya, Moms. Apalagi bila ia sudah mulai mengoceh ini itu, dan mengomentari berbagai hal.

Meski begitu, tumbuh kembang setiap anak memang berbeda-beda, termasuk kemampuan berbahasanya. Ada anak yang sangat cepat mengucap kata, ada juga yang lambat. Namun jangan khawatir, anak terlambat bicara umumnya tak selalu karena ada hal-hal yang mengkhawatirkan.

Cobalah dulu memberikanya stimulus agar perkembangan bahasa anak bisa lebih baik lagi. Mengutip dari buku "Cara Jitu Menjawab Pertanyaan Anak" yang ditulis oleh Dra. Rahmitha, S. Psi, berikut tips kembangkan kecerdasan bahasa anak:

1. Cepat Merespons

Ketika anak bertanya pada Anda, segeralah memberikan respons dengan menjawabnya, Moms. Beberapa orang tua terkadang malas untuk menanggapi ocehan si kecil karena tidak mengerti yang dikatakannya.

Padahal dengan cepat merespons, anak akan lebih aktif untuk bertanya ini itu atau sekadar mengomentari sesuatu dengan keterbatasan katanya. Lama-kelamaan, perbendaharaannya semakin banyak karena sering mendengar respons dari Anda. Untuk itu, jangan menyia-nyiakan rasa ingin tahu dan kesempatan emas anak untuk belajar sesuatu. 

2. Jawaban yang Tepat Sesuai Usia

Mungkin beberapa orang tua suka asal menjawab pertanyaan anak, alhasil ia sulit memahami jawaban yang dimaksud. Jadi tak heran bila ia akan bertanya tentang itu-itu lagi karena penjelasan yang Anda berikan tidak tepat usia. Untuk itu, siapkanlah jawaban yang sesuai dengan kemampuan berpikir anak, Moms.

3. Tanyakan Kembali

Saat anak menanyakan sesuatu pada anak, maka jangan hanya berhenti di sana. Tapi siapkan pertanyaan turunan, terkait dari yang anak Anda utarakan di awal.

Misalnya, bila anak bertanya, "Kenapa ikan tidak menutup mata? Apakah dia tidak tidur?", Anda bisa menjawab dengan jelas tentang cara ikan hidup di air, lalu Anda bisa menanyakan lagi ke anak, dengan menanyakan pendapatnya tentang ikan tersebut.

4. Kontak Mata

Selalu lakukan kontak mata ketika Anda berbicara dengan anak, Moms. Usakan pula untuk menyesuaikan dengan tingkat penglihatan anak. Misalnya, membungkuk atau berlutut, agar pandangan mata dengan anak dapat sejajar.

5. Menjawab Langsung

Ketika anak bertanya sesuatu, jangan bertele-tele untuk menjawabnya, Moms. Berikan saja jawaban sebatas yang ditanyakannya. Sebab jawaban yang panjang lebar bisa membuat anak semakin bingung dan terus menerus bertanya.

6. Mencari Jawaban Bersama

Sebagai orang tua, pasti Anda ingin selalu bisa diandalkan oleh si kecil. Sehingga walaupun Anda tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh anak, Anda menjawabnya dengan seadanya. Tak jarang, si kecil merasa kurang puas dengan jawaban Anda dan menjadi salah pengertian, Moms.

Nah, bila kebetulan Anda tidak bisa menjawab pertanyaan itu, sebenarnya tak masalah. Anda bisa menawarkan anak untuk mencari tahu jawabannya bersama-sama. Dengan begitu, si kecil pun akan belajar cara mencari jawaban.

*Sumber: kumparan.com

Jumat, 17 Januari 2020

7 Kebiasaan 'Baik' Orang Tua yang Membuat Anak Tidak Percaya Diri

Jum'at, 17 Januari 2020 19:10:06

7 Kebiasaan 'Baik' Orang Tua yang Membuat Anak Tidak Percaya Diri

Setiap orang tua ingin anak-anak mereka merasa percaya diri dan nyaman dengan diri mereka sendiri. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang percaya diri performa sekolah meningkat, tahan banting, dan memiliki pertemanan yang sehat.

Amy Morin adalah seorang psikoterapis dan instruktur di Northeastern University dalam penelitian yang telah dibukukan menjabarkan 7 hal terkesan baik yang biasa dilakukan para orang tua, yang justru menjadi bumerang bagi perkembangan kepercayaan diri anak di kemudian hari.

1. Membiarkan anak lepas dari tanggung jawab rumah

Banyak orang tua yang membiarkan anaknya lepas dari tanggung jawab di rumah gara-gara kasihan PR dari sekolah sudah menumpuk.

Padahal, melakukan tugas yang sesuai dengan usia membantu mereka merasakan penguasaan dan pencapaian. Memberikan tanggung jawab  merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk melihat diri mereka, apakah mereka mampu dan kompeten menyelesaikan tugasnya. Mulailah dari hal sederhana seperti membantu mencuci pakaian, menyapu halaman, atau membuang sampah.

2. Mencegah mereka melakukan kesalahan

Sulit melihat anak Anda gagal, ditolak atau membuat kekacauan begitu banyak orangtua yang kerepotan berusaha menyelamatkan anaknya sebelum mereka jatuh.

Tetapi mencegah mereka dari membuat kesalahan sama artinya dengan merampas kesempatan mereka untuk belajar bagaimana untuk bisa bangkit kembali. Kesalahan bisa menjadi guru terbesar dalam hidup. Masing-masing adalah kesempatan bagi mereka untuk membangun kekuatan mental yang mereka butuhkan untuk menjadi lebih baik di waktu berikutnya.

3. Melindungi anak dari emosi yang terjadi

Sebagian besar orang tua sangat ingin menghibur anak-anaknya ketika mereka sedih atau menenangkan mereka ketika mereka sedang marah. Tetapi bagaimana kita bereaksi terhadap emosi anak-anak kita memiliki dampak besar pada perkembangan kecerdasan emosional dan harga diri mereka.

Bantu anak-anak Anda mengidentifikasi apa yang memicu emosi mereka dan mengajari mereka cara mengatur diri sendiri. Bantu untuk menjelaskan perasaan mereka sehingga mereka akan lebih mudah berurusan dengan emosi-emosi itu dengan cara yang sesuai secara sosial di masa depan.

4. Menciptakan mentalitas “korban”

Mengatakan hal-hal seperti "kami tidak mampu membeli sepatu baru seperti anak-anak lain karena kami berasal dari keluarga yang tidak mampu", sama saja dengan mengatakan pada anak Anda bahwa sebagian besar keadaan kehidupan terjadi di luar kendali mereka. Mereka lalu menyalahkan keadaan.

Anak-anak yang mengenali pilihan mereka dalam hidup merasa lebih percaya diri dalam kemampuan mereka untuk menciptakan masa depan yang lebih baik untuk diri mereka sendiri.

Alih-alih membiarkan anak-anak Anda minta dikasihani atau membesar-besarkan kemalangan mereka, dorong mereka untuk mengambil tindakan positif, misalnya berjualan sesuatu sehingga mereka dapat menabung untuk membeli barang yang mereka inginkan atau butuhkan.

5. Terlalu protektif

Menjaga mereka terisolasi dari tantangan menghambat perkembangan mereka.

Tempatkan diri anda sebagai pemandu, bukan pelindung. Biarkan anak-anak Anda mengalami kehidupan, bahkan ketika itu menakutkan untuk dihadapi. Anda akan memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan pada kemampuan mereka untuk menghadapi apa pun yang terjadi dalam hidup mereka.

6. Mengharapkan kesempurnaan

Harapan yang tinggi itu boleh-boleh saja, tetapi terlalu banyak berharap memiliki konsekuensi juga lho, Moms. Ketika anak-anak melihat harapan terlalu tinggi, mereka mungkin tidak akan berusaha keras mencoba atau mereka mungkin merasa seolah-olah ah, mereka tidak akan pernah berhasil.

Sebaliknya, berikan harapan yang jelas untuk jangka panjang dan tetapkan tonggak sejarah di sepanjang jalan. Misalnya, kuliah merupakan harapan jangka panjang, jadi bantu mereka menciptakan tujuan jangka pendek di sepanjang jalan, seperti mendapatkan nilai bagus, mengerjakan pekerjaan rumah, membaca, dan sebagainya sehingga yakin tujuan jangka panjang tercapai.

7. Menghukum, bukannya mendisiplinkan

Anak-anak perlu belajar bahwa beberapa tindakan mengarah pada konsekuensi serius. Tetapi ada perbedaan besar antara disiplin dan hukuman. Anak-anak yang disiplin yang sedang melakukan kesalahan akan berpikir, "Saya membuat pilihan yang buruk." Anak-anak yang dihukum berpikir, "Saya orang jahat."

Dengan kata lain, disiplin memberi anak Anda kepercayaan diri bahwa mereka dapat membuat pilihan yang lebih cerdas, lebih sehat di masa depan, sementara hukuman membuat mereka berpikir mereka tidak mampu melakukan yang lebih baik.

Jadi jangan hukum mereka, tapi bangunkan mereka tepat pukul 05.00 setiap hari untuk berdoa dan berolahraga sebelum mereka berangkat sekolah.  Jika dia malas, bangunkan lagi esok hari, tepat pukul 05.00.

*Sumber: kumparan.com

Kamis, 16 Januari 2020

5 Jenis Hijab yang Perlu Dimiliki untuk Beraktivitas Sehari-hari

Kamis, 16 Januari 2020 16:38:01

5 Jenis Hijab yang Perlu Dimiliki untuk Beraktivitas Sehari-hari

Saat baru mulai menggunakan hijab, kita mungkin masih bingung dalam menentukan padu padan yang pas dengan pakaian sehari-hari. Kita juga mungkin belum memiliki banyak variasi hijab, sehingga kita merasa bingung saat harus mengenakan pakaian tertentu.

Namun, sebenarnya, hal seperti ini bisa kita siasati dengan mudah. Caranya adalah dengan membeli beberapa jenis hijab dasar yang cenderung netral atau bisa dipadukan dengan macam-macam pakaian. Tak cuma praktis, jenis hijab seperti ini bisa melengkapi penampilan kita di berbagai kesempatan, termasuk dalam acara yang formal maupun kasual.

Selengkapnya, berikut beberapa jenis hijab dasar yang sebaiknya kita miliki. Apa saja?

1. Hijab warna netral

Saat baru mulai mengenakan hijab, kita mungkin masih memiliki opsi yang terbatas. Di saat seperti ini, cara yang paling aman adalah membeli hijab berwarna netral yang bisa dikombinasikan dengan berbagai warna pakaian. Misalnya, hijab berwarna warna hitam, biru tua, maupun krem. Warna-warna seperti ini cenderung bisa dicocokkan dengan berbagai warna baju, sekaligus bisa dipakai ulang dalam berbagai kesempatan.

2. Hijab berbahan rayon atau voal

Selain itu, Anda juga bisa memilih untuk menggunakan hijab berbahan rayon maupun voal. Kedua jenis hijab ini mudah ditemukan di pasaran dan mudah penggunaannya. Kita hanya perlu menyesuaikan gaya hijab dengan acara yang akan didatangi. Misalnya, dengan menambahkan bros atau aksesoris bila akan menghadiri undangan pernikahan atau dengan menggunakan gaya yang lebih santai untuk aktivitas sehari-hari.

3. Pashmina

Pashmina atau hijab yang berbentuk segiempat panjang bisa kita jadikan andalan dalam berbagai situasi. Di antaranya, saat kita berpakaian kasual atau justru tengah mengenakan pakaian formal. Kuncinya adalah pada pemilihan bahan pashmina. Bila ingin menghasilkan kesan santai, kita bisa memilih pashmina berbahan katun atau viscose. Sementara, untuk acara seperti undangan pernikahan, kita bisa menggunakan pashmina berbahan satin atau sutera yang terlihat mengkilap.

4. Hijab bermotif

Hijab bermotif bisa kita gunakan untuk menjadikan penampilan lebih berwarna. Terutama, bagi Anda yang cenderung suka mengenakan pakaian polos. Untuk menghadirkan sentuhan feminin, kita bisa menggunakan hijab bermotif floral yang senada dengan warna baju. Selain itu, kita juga bisa mengenakan hijab bermotif semi abstrak atau asimetris, untuk menambah warna pada penampilan sekaligus tampil lebih artsy.

5. Hijab instan untuk berolahraga

Selain itu, tak ada salahnya bagi kita menyiapkan hijab instan berbahan spandeks untuk keperluan olahraga. Misal, dari brand seperti Nike, Noore, atau merek-merek lainnya. Sebab, hijab khusus olahraga ini lebih elastis dan nyaman digunakan untuk bergerak, tidak mudah lepas, sekaligus memberikan ruang bagi kulit kepala dan rambut untuk bernapas. Tak cuma itu, hijab yang fungsional ini juga memiliki desain yang stylish, sehingga bisa menunjang penampilan saat sedang berolahraga sekalipun.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 14 Januari 2020

Bagaimana Sikap Orang Tua ketika Anak Hamil di Luar Nikah?

Selasa, 15 Januari 2020 18:25:30

Bagaimana Sikap Orang Tua ketika Anak Hamil di Luar Nikah?

Salah satu ketakutan terbesar orang tua yang memiliki anak remaja adalah jika anak mereka hamil. Selain karena alasan budaya dan agama, kehamilan di luar nikah juga berpotensi mengganggu masa depan anak, baik dari kacamata pendidikan, pekerjaan, hingga sanksi sosial. Meskipun orang tua sudah mengantisipasi hal tersebut dengan menjaga anak mereka sebaik mungkin, tapi jika akhirnya ujian tersebut memilih mereka, maka tidak ada jalan untuk lari dari kenyataan.

Saat anak memberi pengakuan bahwa mereka hamil (atau pacar mereka hamil), orang tua bisa saja melakukan hal di luar batas karena tidak mampu menguasai emosi. Orang tua kecewa luar biasa, namun anak merasa dunia mereka runtuh. Lantas, bagaimana seharusnya orang tua bersikap agar situasi tidak semakin buruk?

Simak beberapa tips dari Alzena Masykouri, M.Psi, psikolog KANCIL, Sentra Tumbuh Kembang Anak.

Terima kenyataan

Sudah bukan waktunya menyesal atau menyalahkan anak atas kondisi ini. Lebih baik orang tua memberikan perlindungan dan membantu anak menyiapkan diri untuk menjadi orang tua. Bukan berarti tindakan hamil di luar nikah adalah tindakan yang diperbolehkan dan sikap menerima ini dianggap sebagai suatu pembenaran.

Tapi, orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk menjadi tempat bernaung bagi anaknya. Anak sudah tahu bahwa tindakannya salah dan memberikan konsekuensi terhadap kehidupannya. Perubahan cita-cita, lingkungan, menghadapi pertanyaan dan semacamnya tentu akan sangat berat bagi anak dan orang tuanya. Terlebih lagi ada tanggung jawab atas makhluk hidup lain yang akan segera hadir.

Persiapkan anak menjadi orang tua

Tentu orang tua merasa sedih, kecewa, bahkan mungkin marah, dan sederet penyesalan lainnya. Silakan dinikmati emosi tersebut, sambil diingat bahwa ada tanggung jawab yang menanti dan kehidupan akan terus berjalan. Selanjutnya, tugas orang tua adalah mempersiapkan dengan segera bahwa remaja ini akan segera menjadi orang tua.

Artinya, remaja harus bertanggung jawab terhadap kehidupannya dan kehidupan individu lain (anaknya). Padahal, kemampuan berpikir remaja masih egosentris (memperhatikan diri sendiri). Tugas orang tua untuk membimbing dan memberitahukan apa saja yang akan dihadapi dan harus dilakukan oleh anak. Pada kondisi ini, proses diskusi harus sudah ada sambil melakukan atau praktik (experiental learning).

Dukung anak selesaikan pendidikan

Sedapat mungkin remaja menyelesaikan pendidikannya, agar ia memperoleh akses ke dunia kerja dengan lebih baik dan dapat mandiri untuk menghidupi keluarganya. Orang tua dapat menjadi teman diskusi mengenai bagaimana menjalani proses tersebut sebaik-baiknya, sekaligus menjadi support system bagi anak untuk menjalani peran barunya.

Apakah ada tips untuk orang tua agar anak dapat memegang kepercayaan orang tua tentang hubungan mereka dengan lawan jenis?

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, dari segi pemikiran, fisik, hormon, dan seksualitas. Karena kemampuan pertimbangan dan pengambilan keputusan secara rasional belum sempurna, maka orang tua berperan sebagai pembimbing dan pendamping remaja dalam memaknai pengalamannya.

Tugas remaja adalah memahami diri dan berlatih untuk mengendalikan dirinya, termasuk secara seksual. Kemampuan seksualitas remaja sama dengan orang dewasa, tetapi kemampuannya di aspek lain, terutama tanggung jawab, belum sepenuhnya berkembang. Di sinilah peran orang tua sangat penting dalam berkomunikasi dan berdiskusi, menjelaskan pada remaja, bersama-sama mempertimbangkan segala kemungkinan, dan membantu mereka untuk mengendalikan diri.

Orang tua adalah figur yang paling tepat untuk menjadi teman bicara mengenai pubertas dan seksualitas. Untuk itu, orang tua perlu memiliki informasi yang sesuai dan menyiapkan diri untuk berkomunikasi dengan remaja. Gaya komunikasi, cara bicara, dan pembahasan yang sesuai dengan kebutuhan remaja akan membuat remaja lebih terbuka dan nyaman berdiskusi dengan orang tua.

Idealnya kedua orang tua harus siap untuk berdiskusi dengan anak, tetapi bila bercerita mengenai pengalaman, tentu lebih nyaman pada yang pernah mengalami bukan? Ibu dengan remaja putri, dan ayah dengan remaja pria.

Sepakati value apa saja yang dianut dalam keluarga. Yang perlu diingatkan pada remaja bahwa mereka juga punya tugas untuk mengendalikan hasrat/dorongan seksualitas karena ada norma, baik norma agama maupun norma kepantasan. Norma ini ada supaya hidup juga teratur dan siap secara fisik dan mental. Hamil dan melahirkan tentu memiliki konsekuensi, baik secara fisik, maupun psikis. Kondisi ini yang harus dijelaskan kepada remaja, karena mereka tidak punya pengalaman dan pengetahuan mengenai hal ini.

Dengan keterbukaan dan pola komunikasi yang baik antara orang tua dan remaja, diharapkan perkembangan konsep diri mereka pun menjadi positif, sehingga mereka mampu mempertahankan dirinya.

*Sumber: kumparan.com