SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS/WA 0852 5968 1245 || Facebook : Nuansa Bojonegoro || Twitter : @nuansafmbjn || Instagram : @nuansaradio || E-Mail : nuansaradio722@gmail.com || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Rabu, 21 Oktober 2020

Kebiasaan Pegang Ponsel yang Memicu Nyeri Leher

Rabu, 21 Oktober 2020 19:21:57

Kebiasaan Pegang Ponsel yang Memicu Nyeri Leher

Penggunaan ponsel yang kian meningkat menyebabkan masalah nyeri leher. Bahkan remaja dan anak kecil turut merasakannya.

Padahal nyeri leher umumnya terjadi pada orang dewasa seiring bertambahnya usia. Namun kebiasaan menunduk saat menggunakan ponsel mengubah segalanya.

Dokter spesialis manajemen nyeri Robert Bolash, MD mengatakan, sekarang ini banyak pasien nyeri leher yang usianya jauh lebih muda. Rasa nyeri bahkan bisa menjalar hingga ke bahu dan punggung bagian bawah.

“Melihat ke bawah dan menundukkan kepala mengubah lengkungan alami leher. Seiring berjalannya waktu, ketidaksejajaran itu dapat membuat otot tegang dan menyebabkan kerusakan pada struktur leher," kata Bolash seperti dikutip laman Cleveland Clinic.

Ada tiga hal yang bisa terjadi apabila kepala sering menunduk karena menggunakan gadget. Pertama, leher bergerak maju.

Kedua, bahu terangkat ke arah telinga. Ketiga, otot leher dan bahu mengalami kejang atau kontraksi.

“Otot leher dalam posisi yang tepat dirancang untuk menopang kepala yang beratnya kira-kira empat sampai lima kilogram," ujar Bolash.

 "Setiap kali kita menundukkan kepala ke depan, maka beban otot leher digandakan. Menatap ponsel dengan posisi dagu ke dada dapat memberikan beban mencapai 27 kg pada leher," tambahnya.

Selain nyeri otot, posisi leher yang tidak tepat saat menggunakan ponsel dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan lainnya.

Contoh, saat menggunakan ponsel kebanyakan orang duduk dalam posisi melorot. Posisi tersebut membatasi kemampuan paru-paru untuk berkembang dan merusak kapasitas paru-paru.

Selain itu, posisi tersebut membuat oksigen yang dihirup lebih sedikit. Hal ini membuat kerja jantung untuk memompa darah pembawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi lebih keras.

Ada tiga trik yang disarankan oleh Bolash untuk memperbaiki nyeri leher menjadi lebih baik karena penggunaan ponsel.

1. Sejajarkan

Pelajari postur tubuh yang benar dengan bercermin. Telinga dan bahu harus dalam posisi vertikal.

2. Lengkungkan

Apabila ternyata postur tidak sempurna, coba lakukan ekstensi bahu. Caranya lengkungkan leher dan punggung atas ke belakang. Kemudian tarik bahu sejajar di bawah telinga.

Peregangan sederhana ini dapat meredakan stres dan nyeri otot.

3. Naikkan

Daripada menundukkan kepala untuk melihat layar ponsel, ada baiknya naikkan ponsel hingga posisinya sejajar dengan mata.

Hal yang sama berlaku untuk komputer. Layar monitor harus sejajar dengan mata sehingga kepala tidak terus-menerus menunduk yang dan menyebabkan ketegangan otot.

Apabila nyeri leher terlanjur terjadi, cobalah untuk meredakannya dengan mengompres es batu atau air hangat.

Selain itu, lakukan latihan peregangan atau mengonsumsi obat yang dijual bebas seperti asetaminofen.

Terakhir, ingatlah meskipun hampir tidak mungkin untuk sepenuhnya membatasi penggunaan ponsel, tetap luangkan waktu untuk beristirahat atau menggunakan ponsel lebih singkat.

*Sumber: kompas.com

Senin, 19 Oktober 2020

9 Cara Terbaik untuk Kontrol Kemarahan

Senin, 19 Oktober 2020 18:06:22

9 Cara Terbaik untuk Kontrol Kemarahan

Rasa marah mungkin sering menguasai kita karena keadaan tertentu. Misalnya, seseorang menabrak kendaraanmu padahal sudah berjalan pada jalurnya. Hal ini tentu akan membuatmu marah.

Namun rupanya, kemarahan tak selamanya berarti buruk. Yang penting adalah bagaimana kita mengatasinya.

Brad Bushman, PhD, profesor komunikasi di The Ohio State University yang mempelajari kemarahan, agresi, dan kekerasan mengatakan bahwa kemarahan adalah emosi negatif, tetapi tak selalu merupakan hal yang buruk.

"Kemarahan membuat orang merasa kuat dan berkuasa, yang dapat memotivasi mereka untuk membela apa yang mereka yakini benar,” katanya.

Kemarahan juga dapat memberikan hasil yang lebih diinginkan, seperti mengingatkan orang lain untuk mau mendengarkanmu.

Misalnya, si kecil yang masih berusia 5 tahun akan patuh pada perintah saat kamu menunjukkan ekspresi marah ketika dia tidak mau belajar.

Meski begitu, kamu harus mengendalikan kemarahan sebelum menjadi seuatu yang tidak sehat.

Berikut adalah sembilan tips untuk membantumu mengontrol kemarahan

1. Kenali diri sendiri

Sulit untuk mengambil tindakan yang tepat dan obyektif saat kita sedang marah.

Karenanya, untuk mengendalikan amarah, kenali tanda-tanda bahwa kamu mulai kesal. Saat sudah mengenalinya, menjauhlah dari situasinya, atau coba teknik relaksasi untuk meminimalkan kemarahan.

2. Turunkan ekspektasimu

Kita kerap memiliki harapan yang tinggi terhadap sesuatu. Ketika hal itu tak terwujud, hal ini akan membuat kita merasa marah.

“Begitu banyak kemarahan yang berasal dari ekspektasi yang tidak realistis terhadap orang lain, dunia pada umumnya, dan diri kita sendiri,” kata psikolog Bernard Golden, PhD, pendiri Anger Management Education dan penulis Overcoming Destructive Anger: Strategies That Work.

Sayangnya, hal ini seringkali tidak kita disadari. Untuk itu, kendalikan kemarahan dengan menurunkan ekpektasi kita.

3. Ambil jarak

Lain kali jika seseorang membuatmu marah, cobalah strategi ini untuk mengendalikannya: anggaplah kamu sedang melihat pemandangan dari kejauhan.

Dengan kata lain, anggaplah kamu sedang mengamati sekitar, alih-alih terlibat dalam situasi itu.

"Orang yang marah seringkali tenggelam dalam emosi dan merasa menjadi bagian tentang apa yang membuat mereka marah," kata Bushman.

“Namun jika kita mengadopsi perspektif pengamat atau fly-on-the-wall, mereka kurang terlibat (dalam cekcok). Mereka bisa mundur dari situasi provokatif,” imbuhnya.

4. Berlatih meditasi

"Dalam dua dekade terakhir, telah terjadi peningkatan studi tentang penggunaan meditasi untuk mengatasi kemarahan dan agresi," kata Golden.

Dalam satu studi, yang diterbitkan pada 2017 di Mindfulness, para peneliti menemukan peserta yang berlatih meditasi harian selama tiga minggu, secara substansial berhasil mengurangi perilaku agresif.

Tak perlu lama-lama menghabiskan waktu untuk bermeditasi, beberapa menit saja, sudah cukup. Golden mengatakan, meditasi akan meningkatkan kapasitas otak untuk mengamati pikiran, perasaan, yang pada akhirnya akan membantumu mengatasi kemarahan.

“Ini membantu orang berhenti sejenak untuk merenungkan arti kemarahan mereka dan bagaimana menanggapinya daripada (harus) bereaksi,” ujar Golden.

5. Tarik napas

Jika tak memiliki waktu untuk bermeditasi, kamu bisa mencoba menjalani latihan pernapasan.

"Menarik napas dalam-dalam akan mengurangi gairah psikologis," kata Bushman.

Secara khusus, latihan pernapasan juga bisa membantu memperlambat detak jantung dan menjaga pikiran kita agar tetap fokus pada hal lain selain sumber stres yang kamu pikirkan.

6. Olahraga

Olahraga adalah jalan keluar yang sehat untuk agresi dan merangsang pelepasan zat kimia otak yang membuatmu merasa nyaman.

Maka, tidak mengherankan jika penelitian, termasuk tinjauan studi yang diterbitkan pada 2019 di Acta Scientific Medical Sciences, menemukan bahwa olahraga adalah cara yang efektif untuk mengelola amarah.

7. Kenang momen bahagia

Lain kali jika kamu marah dengan teman, pasangan, atau anggota keluarga lainnya, pejamkan mata dan bayangkalah kembali momen-momen bahagia saat kamu memiliki cinta yang besar untuk mereka.

Bayangkan juga bagaimana bila kamu di masa mendatang mengenang semua pengalaman hidupmu yang ternyata berisi dengan kemarahan.

8. Tidur cukup

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2020 di jurnal Sleep, para peneliti menganalisis buku harian dari 202 mahasiswa.

Hal ini dilakukan untuk mencari tahu pukul berapa mereka tidur, stres harian yang mereka rasakan dan kemarahan mereka selama sebulan.

Dari penelitian ini, peserta melaporkan bahwa mereka lebih cepat merasa marah saat kurang tidur.

9. Terapi

Jika marahmu kerap tak terkendali dengan emosi yang juga meluap-luap, kamu bisa mencoba untuk menjalani terapi perilaku kognitif.

Hal ini bisa membantumu belajar mengenai pemicu kemarahan dan mengendalikan reaksimu saat sedang marah.

"Restrukturisasi kognitif melibatkan pembelajaran untuk mengidentifikasi dan menantang distorsi dalam berpikir," kata Golden.

*sumber.kompas.com

Sabtu, 17 Oktober 2020

Mengapa Air Mata Mengandung Garam dan Fakta Menarik Lainnya

Sabtu, 17 Oktober 2020 17:26:59

Mengapa Air Mata Mengandung Garam dan Fakta Menarik Lainnya

Mengeluarkan air mata identik dengan perasaan sedih atau marah tapi ternyata air mata punya banyak manfaat.

Menurut pakar kesehatan, Michael Roizen, MD, air mata dapat membantu kita untuk melihat dengan jelas. Cairan ini juga membersihkan kotoran dari mata.

Mengenai hal ini, pastinya ada segudang pertanyaan terkait air mata dan Dr. Roizen menuntun kita untuk melihat fakta-fakta menakjubkan dari air mata.

Mengapa kita mengeluarkan air mata?

Mengeluarkan air mata bisa terjadi karena alasan emosional yang membuat kita merasa lebih baik dengan melepaskan ketegangan dan membuat kita pulih secara psikis.

Selain itu, mengeluarkan air mata juga bisa terjadi karena alasan fisik untuk mengirimkan nutrisi dan membersihkan racun yang disebabkan oleh stres.

Ada pula yang mengeluarkan air mata karena alasan sosial untuk mengomunikasikan kesusahan, ketulusan, ketertarikan, keengganan yang tergantung pada konteksnya.

"Cairan yang membentuk air mata mengandung air, untuk kelembaban dan minyak untuk pelumasan yang mencegah penguapan cairan air mata" kata Dr. Roizen.

Air mata mengandung lendir untuk meratakan air mata di permukaan mata serta antibodi dan protein khusus untuk ketahanan terhadap infeksi.

Oksigen dan nutrisi juga diangkut ke sel permukaan mata melalui air mata karena tidak ada pembuluh darah di mata.

Ada 3 jenis air mata

1. Basal

Ini adalah air mata dasar. Mata berputar-putar di dalamnya sepanjang hari. Cairan ini mengandung minyak, lendir, air dan garam yang membantu melawan infeksi. Minyak menahan air mata dan mencegahnya menguap ke atmosfer. Berkedip akan menyebarkannya secara merata di atas permukaan mata.

2. Irritant

Biasa dikenal sebagai air mata pencuci mata. Air ini keluar dari kelenjar di bawah alis saat mengupas bawang, muntah atau terkena debu di mata. Cairan ini menghilangkan iritasi untuk menjaga mata tetap bersih.

3. Emosional

Air mata ini mengalir sebagai respon atas emosi yang kuat, seperti kesedihan, kegembiraan, atau kemarahan.

Semuanya mengandung bahan kimia yang sama, tetapi lebih banyak hormon stres dan obat penghilang rasa sakit alami daripada jenis air mata lainnya.

Berdasarkan American Academy of Ophthalmology, air mata emosional dipicu oleh empati, rasa sakit sosial, fisik, terkait keterikatan, dan perasaan sentimental.

Beberapa penelitian pun menunjukkan, orang mungkin akan merasa lebih baik setelah menangis jika mereka mendapat dukungan sosial saat melakukannya.

Air mata mengandung garam

Semua cairan di tubuh memiliki sedikit garam di dalamnya. Maka, air mata rasanya asin karena mengandung garam. Kandungan garam pada air mata hampir sama dengan kandungan garam pada plasma darah.

Garam tersebut memang diperlukan untuk berfungsinya tubuh secara keseluruhan.
Perempuan lebih banyak mengeluarkan air mata

Menurut Dr. Roizen, sekitar 60 persen perempuan lebih banyak mengeluarkan air mata. Meskipun belum ada penjelasan yang pasti.

Namun, bahan kimia dalam air mata psikis dikaitkan dengan produksi ASI jadi itu adalah sesuatu yang dipertimbangkan oleh penelitian.

Selain itu, pria juga memiliki saluran air mata lebih kecil yang membuatnya tidak terlalu mengeluarkan air mata banyak.

Air mata keluar dari hidung

Nah, sering kali saat kita menangis, pasti air mata juga ikut keluar dari hidung dan itu adalah sesuatu yang timbul secara alami.

Hidung dan mata dihubungkan oleh bagian-bagian kecil maka air mata sebenarnya dimaksudkan untuk mengeringkan hidung dan tenggorokan kita.

Ketika kita memproduksi banyak air mata

Lubang kecil di sudut dalam kelopak adalah saluran pembuangan. Saat kita masuk angin, mereka bisa membengkak dan tersumbat kemudian air mata membanjiri wajah.

Terkadang, kelenjar air mata menghasilkan terlalu sedikit minyak untuk campuran air mata basal. Ini juga dapat menyebabkan tumpahan air mata terus-menerus.

Mata bisa kering

Mata bisa mengering untuk sementara karena kondisi atmosfer tetapi juga disebabkan penyakit.

Beberapa obat dan perawatan kanker juga dapat menyebabkan mata kering.

“Toko obat menyediakan berbagai jenis air mata buatan untuk mengobati mata kering,” terang Dr. Roizen.

"Apabila hal semacam ini terus berlanjut, sebaiknya temui dokter untuk mendapatkan perawatan yang dapat membantu dengan kondisi mata apapun," sambung dia.

*Sumber: kompas.com

 

 

Jumat, 16 Oktober 2020

Ternyata Sariawan Bisa Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak, Apa Sebabnya?

Jum'at, 16 Oktober 2020 17:11:09

Ternyata Sariawan Bisa Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak, Apa Sebabnya?

Sariawan seringkali dianggap sebagai penyakit ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya. Tapi, siapa sangka bahwa sariawan ternyata bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Ya, hal itu seperti diungkapkan oleh dr. Herwanto, Sp.A, dokter spesialis anak RSUD Kembangan, Jakarta Barat.

Dikutip dari ANTARA, menurut Herwanto hal itu karena saat sariawan bayi dan anak-anak biasanya tidak nafsu makan dan minum.

Oleh sebab itu, ketika sariawan terjadi, pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah selalu rajin memberikan minum untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Hal tersebut dapat dilakukan sebelum menemukan obat yang tepat.

"Kalau makannya menurun bisa dimaklumi, tapi kalau minumnya yang turun bisa dehidrasi. Minum harus diberi yang banyak agar anak tidak dehidrasi," kata dr. Herwanto dalam acara "Kenali Sariawan pada Bayi dan Anak-anak".
Sementara itu, orangtua bisa memberikan paracetamol yang sesuai dengan dosisnya untuk meredakan nyeri yang dialami. Obat tersebut dapat membantu untuk menghilangkan rasa sakit anak untuk sementara.

"Pertolongan pertama, nyerinya diatasi, lukanya jangan sampai kotor, jangan sampai infeksi sehingga menjadi besar dan makanan yang kita berikan harus sesuaikan bentuknya. Misalnya kasih yang lunak, bubur, sayur, atau susu sehingga kalau kena sariawan tidak nyeri," ujar dr. Herwanto.

Selain itu, alo aloevera atau lidah buaya juga bisa jadi alternatif pengobatan pada bagian sariawan. Namun, pastikan bahwa lidah buaya tersebut sudah dibersihkan terlebih dahulu.

Untuk obat sariawan, dr. Herwanto menyarankan memberikan yang bersifat oles pada bayi dan anak-anak. Jika sariawan berada pada rongga mulut bagian dalam, carilah yang berbentuk spray atau semprot.

"Kalau bayi apa pun yang masuk ke mulut pasti ditelan, kalau oles kan tepat sasaran. Kalau sudah 8 tahun atau remaja, mungkin bisa menggunakan yang kumur," kata dr. Herwanto.

*Sumber: suara.com

Kamis, 15 Oktober 2020

Orangtua, Begini Cara Bikin Sekolah dari Rumah Lebih Menyenangkan!

Kamis, 15 Oktober 2020 17:25:44

Orangtua, Begini Cara Bikin Sekolah dari Rumah Lebih Menyenangkan!

Kebanyakan anak akan merasa senang saat pergi ke sekolah karena akan bertemu dengan teman-temannya.

Demikian kata Psikolog Anak dan Remaja Rosdiana Setyaningrum Mp.Si saat webinar 'Mencetak Anak Unggul dengan Cara Hidup Bijaksana dan Baik di Era PSBB', Senin (28/9/2020).

Namun dampak dari wabah virus corona Covid-19 mengharuskan anak-anak untuk sekolah dari rumah dan belajar secara virtual.

Kondisi itu, kata Rosdiana, bisa memberatkan psikis anak karena tidak dapat bertemu teman-temannya. "Mereka kan jadi cuma bisa ketemu secara virtual. Rasanya pasti beda," kata Rosdiana.

Kata Rosdiana, menjadi tugas orangtua untuk membuat anak tetap semangat sekolah walau harus dilakukan dari rumah. Ia menyarankan agar suasana belajar anak dibuat seperti ruang kelas.

"Jadi misal taruh papan tulis di depannya, ada beberapa mainan edukatif, jadi anak belajar di situ," ucapnya.

Rosdiana menjelaskan bahwa otak manusia bekerja dengan kebiasaan. Itu sebabnya anak perlu memakai seragam saat sekolah atau orang dewasa memakain pakaian tertentu saat bekerja.

Hal itu akan dibaca oleh otak untuk menyesuaikan kondisi fisik dengan aktivitas yang akan dijalankan.

"Karena otak sudah punya slotnya. Kalau pakai baju main berarti mau keluar main. Kalau pakai baju tidur berarti tidur. Jadi kalau pakai atasan lain, bawahan lain jadi otak fokusnya bingung. Kalau kita aja bingung apalagi anak," katanya.

Selain itu, ia menyarankan agar biarkan anak untuk bergerak selama lima menit sebelum memulai belajar. Cara itu dinilai bisa membangkitkan fokus dan konsentrasinya.

"Biarkan anak senam ringan atau joget sekitar lima sampai sepuluh menit. Nanti kalau udah belajar 30 menit biarkan berdiri dari kursinya dan jalan dulu. Jangan kasih gerakan ekstrem yang bikin capek. Kita juga harus observasi anak gerak berapa lama. Intinya harus duduk, gerak, duduk gerak," ujar Rosdiana.

Orangtua juga harus menanamkan pikiran kepada anak bahwa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan.

Karena itu, Rosdiana mengingatkan jangan pernah mengomel di depan anak mengenai tugas sekolah yang terlalu rumit atau merepotkan.

"Hindari ngomel saat anak mulai belajar online. Nanti akibatnya anak melihat sekolah tidak meyenangkan. Buktinya orangtua aja ngomel apalagi dia. Akibatnya dia gak mau jadi pembelajar seumur hidup," tutur Rosdiana.

Terakhir, ia mengingatkan bahwa orangtua tidak harus selalu menjadi guru bagi anak. Sehingga wajar jika ada pelajaran sekolah yang tidak dimengerti oleh orangtua.

Kuncinya, kata Rosdiana, orangtua juga perlu berkomunikasi dengan guru di sekolah.

"Kita bukan guru. Semua ada porsi masing-masing. Diskusikan dengan guru apa baiknya kalau anak kurang ngerti. Tapi tugas kita tetap satu, menjalankan tugas orangtua, yaitu membuat perkembangan kepribadian anak berjalan baik," tuturnya.

*Sumber: suara.com

Selasa, 13 Oktober 2020

Dampak Psikis Anak Setelah Dimarahi Orangtua, Ini Kata Psikolog

Selasa, 13 Oktober 2020 18:21:07

Dampak Psikis Anak Setelah Dimarahi Orangtua, Ini Kata Psikolog

Rasanya, setiap orangtua pasti pernah memarahi anaknya. Tapi, tentu masing-masing orangtua punya kadar dan cara yang berbeda ketika marah pada anaknya. Nah, yang tak disadari, ada dampak psikis yang terjadi pada anak setelah dimarahi orangtua.

Psikolog daro RSIA Bina Medika Bintaro, Tanti Diniyanti, S. Psi, menyebut bahwa umumnya para ibu akan merasakan penyesalan dan rasa bersalah begitu memarahi anak. Terlebih jika anak menangis. Anak menangis adalah tanda anak merasa tidak nyaman secara psikologis dan juga merasa takut.

Tanti mengatakan bahwa sepatutnya memarahi anak sebaiknya dihindari, karena anak yang menjadi korban akan mengalami trauma berkepanjangan hingga dewasa nanti.

“Ibaratnya membuat luka hati anak, kemudian itu menjadi pola semakin mendalam dan itu bisa menjadi potensi yang berbahaya di masa yang akan datang,” ujar Tanti ketika memberi keterangan melalui Instagram live Orami Parenting beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, anak itu punya bagian memori mendalam sejak berusia 2 tahunan. Dan pada anak usia 3 tahun, ada tema tertentu yang diulang, karena itu anak akan selalu mengingatnya hingga dewasa nanti.

Dampak panjangnya, anak akan selalu meniru perilaku orangtua. Dan, semakin sering orangtua memarahi, besar kemungkinan anak akan mengikuti perilaku yang dilakukan oleh orangtua terhadapnya.

Lebih lanjut, kata Tanti, kebiasaan memarahi anak akan memperburuk hubungan keluarga, karena anak yang dimarahi akan timbul rasa kesal, bahkan seringkali memberontak terhadap orangtua. Anak juga akan mudah menangis, karena ia merasa kurang mendapatkan rasa aman dan nyaman yang seharusnya ia dapat dalam keluarga. Hal ini bisam embuat anak tidak akan mudah percaya dengan orangtua lagi.

“Nah, ini terburuknya mengalami depresi. Karena apa yang dilakukan orangtua akan mempengaruhi psikisnya. Anak akan memiliki sifat menjadi pendiam, pemurung, dan kurang ekspresif. Bahkan, beberapa kasus menunjukan anak akan mengalami gangguan tidur dan makan,” jelasnya.

Dia pun menyarankan, untuk orangtua sebaiknya hindari emosi, lakukan leveling atau menyamakan suara dengan anak, dan menyatukan hati, pikiran, dan orangtua perlu mengajukan pertanyaan yang tidak mengintervensi.

“Mengajari anak mengeluarkan pendapatnya itu lebih baik, daripada kita terbawa emosi. Dan selalu lakukan diskusi bersama dan diakhiri selalu dengan memberikan pelukan untuk anak,” tuturnya.

*sumber: suara.com

Senin, 12 Oktober 2020

Usia di Atas 20 Tahun Masih Bisa Tambah Tinggi? Begini Penjelasan Dokter!

Senin, 12 Oktober 2020 18:26:57

Usia di Atas 20 Tahun Masih Bisa Tambah Tinggi? Begini Penjelasan Dokter!

Memiliki tumbuh tinggi ideal merupakan dambaan banyak orang. Beberapa bahkan rela melakukan olahraga apa pun untuk merangsang agar tubuh meninggi.

Sayangnya secara ilmiah, tubuh manusia memiliki batas waktu untuk bisa bertambah tinggi.

Dikatakan dokter spesialis olahraga dr. Andhika Raspati Sp.KO, ada bagian tulang yang membuat tubuh manusia lebih tinggi yaitu epiphyseal plate.

"Seorang manusia bisa bertambah tinggi saat masa pertumbuhan karena dia punya epiphyseal plate. Bagian itu tumbuh dan memanjang sehingga membuat orang bisa bertambah tiggi," jelasnya dikutip dari tayangan IGTV @dhika.dr, Minggu (11/10/2020).

Sayangnya 'kemampuan' epiphyseal plate untuk membuat tubuh bertambah tingg memiliki batas waktu. Rata-rata saat manusia berusia 18 tahun bagian tersebut akan menutup sehingga pertumbuhan tulang juga ikut berhenti.

"Dan kala epiphyseal plate sudah menutup dia gak akan bisa buka tutup. Akan menutup selamanya. Bayangin kalau epiphyseal plate bisa buka tutup orang akan terus tumbuh tinggi seumur hidup," ucap dokter Dhika.

Menurutnya, jika epiphyseal plate tidak menutup hingga usia seseorang lebih dari 20 tahun, maka kemungkinan terjadi kelainan.

Sementara itu, ada pendapat yang mengatakan  seseorang bisa bertambah tinggi meski telah melewati usia pertumbuhan. Dari sisi medis, Dhika menjelaskan bahwa itu terjadi karena alat yang meregangkan struktur tulang belakang.

"Tulang belakang ada bagian yang elastis. Kalau diregangkan maka itu bisa tambah panjang tulang belakangnya, makanya tambah tinggi. Tapi dipakai jalan lagi pakai aktivitas ya lama-lama kena tekanan pendek lagi. Itu juga paling cuma beberapa senti (tambah tinggi)," katanya.

"Jadi teman-teman yang udah usia dia atas 18-20 tahun teorinya gak bisa lagi tinggi," pungkas dokter Dhika.

*Sumber: suara.com