SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS/WA 0852 5968 1245 || Facebook : Nuansa Bojonegoro || Twitter : @nuansafmbjn || Instagram : @nuansaradio || E-Mail : nuansaradio722@gmail.com || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Minggu, 02 Agustus 2020

Bisa Cegah Stroke, Ini Manfaat Lain Bunga Pepaya

Minggu, 02 Agustus 2020 17:14:35

Bisa Cegah Stroke, Ini Manfaat Lain Bunga Pepaya

Meski bunga pepaya meninggalkan rasa pahit di lidah sehingga tidak populer dikonsumsi oleh banyak orang. Namun, manfaat bunga pepaya untuk kesehatan tetap tidak bisa dianggap remeh karena bagian ini kaya akan berbagai senyawa kimia tumbuhan, seperti flavonoid, sterol, triterpenoid, tanin, hingga polifenol.

1.Mencegah kanker

Dikutip dari berbagai jurnal yang menayangkan hasil riset, mengonsumsi bunga pepaya dapat menurunkan resiko infeksi dalam tubuh. Seperti kita ketahui bersama bahwa peradangan merupakan cikal bakal tumbuhnya sel tumor yang berpotensi berubah menjadi kanker ganas.

2.     Mencegah Stroke

Tidak hanya penyakit jantung, manfaat bunga pepaya gantung untuk melancarkan peredaran darah juga berdampak pada penurunan resiko serangan stroke. Penyakit stroke adalah penyakit serius yang diakibatkan oleh tidak adanya aliran darah ke otak. Penyakit ini tentu saja berbahaya karena bisa menyebabkan kematian.

3.     Memperlancar Aliran Darah

Bunga pepaya memiliki semua zat yang diperlukan untuk memperlancar aliran darah di dalam tubuh kita. Tidak hanya itu, Anda yang menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi juga bisa mengonsumsi bunga pepaya untuk menurunkan tekanan darah.

4.     Mengobati Infeksi Lambung

Manfaat bunga pepaya dalam mengatasi penyakit infeksi lambung memang harus diimbangi dengan sejumlah metode pengobatan lainnya, tak terkecuali soal pengaturan pola makan Anda. Kendati demikian, kadar antioksidan yang terdapat di dalam bunga pepaya memang tak bisa dipungkiri efektif mengobati lambung yang terinfeksi.

5.     Melancarkan Sistem Pencernaan

Buah pepaya dikenal memiliki manfaat untuk mengatasi masalah pencernaan. Tidak hanya buahnya, ternyata bunga pepaya pun memiliki manfaat yang sama. Hal ini dimungkinkan karena bunga pepaya juga memiliki kandungan enzim papain yang memang berfungsi melancarkan sistem pencernaan dan mencegah konstipasi. [lis]

Sumber: ringtimesbanyuwangi.com

Jumat, 31 Juli 2020

3 Cara Mendidik Anak Jadi Orang yang Jujur

Jum'at, 31 Juli 2020 18:08:00

3 Cara Mendidik Anak Jadi Orang yang Jujur

Mampu mendidik anak hingga memiliki perilaku yang jujur, bisa dipercaya, dan mempunyai pemikiran terbuka adalah target bagi semua orangtua.

Namun, dengan segala kondisi yang ada di saat ini, tidak semua orangtua bisa memastikan anak mereka tumbuh dengan perilaku- perilaku positif tersebut.

Co-director Making Caring Common dan pengajar senior di Harvard Graduate School of Education, Rick Weissbourd berbicara soal persoalan ini.

Menurut dia, ada sejumlah trik yang bisa dibagi kepada para orangtua agar bisa mendidik anak-anak menjadi pribadi yang jujur.

1. Mengajarkan kejujuran

Tentu saja, bukan hal yang mengagetkan jika poin pertama yang harus dilakukan adalah mengajarkan kejujuran itu sendiri.

Meskipun, pada beberapa kondisi orangtua kadang terpaksa berbohong atau tidak memberi tahu semua kebenaran pada anak, karena alasan tertentu.

Pertama, bicaralah pada anak tentang pentingnya bersikap jujur.

Jika mereka ingin teman-teman dan keluarga mempercayai apa yang mereka katakan, mereka harus bersikap jujur setiap waktu.

Meski hal ini mungkin sulit, namun ingatkanlah bahwa bersikap jujur akan membawa kebaikan pada diri mereka sendiri.

Misalnya, dengan mengingatkan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika mereka diketahui berbohong.

Katakanlah pada mereka, meskipun mereka berbuat kesalahan, mereka harus tetap mencoba jujur, dan tidak menutupi kesalahan.

Namun, terkadang berbohong demi kebaikan mungkin masih dapat dilakukan. Apalagi jika itu menyangkut perasaan seseorang atau keamanan diri sendiri ketika bermain.

Misalnya, memberitahu anak bahwa berbohong ketika seseorang menanyakan informasi pribadi mereka adalah hal yang masih diperbolehkan.

Apalagi, jika yang bertanya adalah orang asing.

Contoh lainnya, ketika seseorang menyampaikan cerita kepada mereka dan membuat mereka bosan.

Tak masalah untuk tetap mendengarkannya atau mengatakan mereka menyukai cerita tersebut, karena penolakan akan membuat orang yang menyampaikan cerita menjadi sedih.

2. Mencontohkan kejujuran

Anak-anak mencontoh apa yang dilakukan orangtuanya, terutama ketika mereka masih amat kecil.

"Kita tidak bisa menyuruh mereka untuk jujur, sementara pada beberapa waktu mereka melihat kita tidak melakukannya," kata Weissbourd.

Berusahalah lebih untuk menjadi model bagi perilaku yang ingin ditanamkan pada anak.

Namun, sadarilah bahwa orangtua memang tidak bisa menjadi contoh yang selalu sempurna untuk mereka. Katakan pula hal ini pada mereka.

Misalnya, ketika berbicara dengan pasangan tentang rencana yang ingin kalian hindari.

Saat itu, kamu meminta pasanganmu untuk mengatakan pada anak-anak, "katakan saja kita sedang sibuk".

Namun belakangan anak-anakmu tahu bahwa kamu tidak sibuk. Maka, cobalah menjelaskan dengan baik, mengapa kamu berbohong.

Jelaskan pula apa yang akan kamu lakukan untuk menjadi lebih baik ke depannya.

3. Memuji kejujuran

Ketika kamu sudah mendiskusikan kejujuran dengan anak-anakmu, pujilah mereka karena sudah bersikap jujur.

Terutama pada situasi di mana kamu tahu jujur adalah hal yang sulit bagi mereka.

Weissbourd mencatat, terkadang bersikap jujur adalah pilihan yang sulit dan membutuhkan keberanian.
"Kita harus menghargai keberanian mereka," kata dia.

*Sumber: kompas.com

Kamis, 30 Juli 2020

Mengapa Remaja Perlu Makan Daging?

Kamis, 30 Juli 2020 17:48:46

Mengapa Remaja Perlu Makan Daging?

Masa pertumbuhan tidak hanya terjadi di usia sekolah dasar. Memasuki masa remaja pun -kurang lebih antara usia 13-19 tahun, tubuh masih melalui periode pertumbuhan dan perkembangan.

Makanya, remaja harus lebih memerhatikan asupan makanan demi membantu mendukung perubahan ini.

Pola makan yang kurang bergizi bisa menimbulkan masalah seperti jerawat, gampang lelah, menstruasi yang terlalu berat atau ringan, dan mood yang naik-turun.

Salah satu bahan makanan yang amat disarankan untuk remaja adalah daging sapi yang berkualitas.

Daging sapi tanpa lemak merupakan sumber nutrisi penting seperti protein, zat besi, seng, dan vitamin A, B2, B6, dan B12.

Dr Emma Derbyshire dari Meat Advisory Panel beberapa tahun lalu pernah mengungkapkan, terpenuhinya asupan daging akan memengaruhi kondisi fisik remaja.

Dampak yang bakal dirasakan antara lain adalah:

1. Kulit dan rambut

Kandungan riboflavin (vitamin B2) pada daging merah akan membantu menjaga kesehatan kulit.

Seng merupakan substansi lain yang bermanfaat untuk memelihara kesehatan rambut. Kalau rambut mulai terlihat lepek, tak ada salahnya langsung menyantap daging.

2. Ketajaman otak

Zat besi, mineral utama pada daging merah, membantu mengusir rasa lelah. Itu sebabnya kalau kekurangan zat besi bisa memengaruhi kinerja mental.

Daging merah juga mengandung vitamin B6 yang membantu otak berfungsi secara normal. Penting dikonsumsi saat menjelang ujian.

3. Kebugaran

Daging sapi juga merupakan sumber protein yang membantu tubuh membangun massa otot, sekaligus membantu kita merasa lebih kenyang dan lebih lama.

Niacin, nutrisi lain pada daging merah, fungsinya membantu tubuh mendapatkan energi, sehingga tubuh terasa lebih bugar dan kuat.

4. Kekebalan

Vitamin A pada daging merah mempunyai peran dalam menormalkan fungsi sistem kekebalan. Hasilnya, daya tahan tubuh lebih baik dan Anda tak mudah terkena flu.

5. Menstruasi

Kandungan zat besi pada daging merah amat membantu remaja putri menghadapi masa haidnya. Sebab, perempuan akan kehilangan banyak zat besi selama menstruasi.

Itu sebabnya saat mens perempuan akan merasa lemas dan cepat lelah. Tingkatkan kembali asupan zat besi di dalam tubuh dengan mengonsumsi daging sapi.

*Sumber: kompas.com

Rabu, 29 Juli 2020

Hindari Mengolah Daging Kurban Jadi Sate, Ini Alasannya

Rabu, 29 July 2020 17:34:10

Hindari Mengolah Daging Kurban Jadi Sate, Ini Alasannya

Idul Adha akan segera tiba dalam hitungan hari. Mungkin Anda sudah merencanakan menu masakan tertentu untuk mengolah daging kambing atau sapi hasil kurban.

Dari tahun ke tahun, banyak orang memilih mengolah daging kurban menjadi menu sate. Namun ternyata, hal itu tidak disarankan. Apa sebabnya?

Executive Chef Aprez Catering by Amuz Group Chef Stefu Santoso menjelaskan, daging kurban yang baru dipotong masih sangat segar sehingga tidak bisa langsung dikonsumsi karena teksturnya masih keras.

Diperlukan waktu untuk proses aging atau pelayuan sehingga tekstur daging menjadi lebih empuk.

"Untuk dijadikan sate saya tidak rekomen karena akan keras," kata Chef Stefu dalam sesi kulwap media, beberapa waktu lalu.

Agar tidak terlalu keras, daging bisa dibungkus terlebih dahulu dengan daun pepaya. Namun, tidak dianjurkan dilakukan terlalu lama karena bisa memunculkan rasa pahit.

Pengolahan selain sate

Chef Stefu menyarankan agar daging kurban diolah dengan metode wet cooking atau metode makanan dimasak dengan menempatkannya pada air panas atau terekspos uap panas.

Metode ini bisa membuat serat-serat daging menjadi lebih empuk untuk dikonsumsi.

"Cara terbaik adalah dimasak dengan cara stewed (direbus) atau wet cooking, atau masak dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan rempah-rempah," ujar President of Association of Culinary Professionals ini.

Beberapa menu yang bisa dicoba antara lain sop, gulai, tongseng, dan lainnya.

Untuk daging kambing, misalnya, menu lainnya yang juga bisa dicoba adalah "lamb kofta", di mana daging kambing giling diberi bawang bombai dan bawang putih cincang, daun ketumbar cincang, hingga jinten bubuk kemudian dibuat menjadi masakan mirip perkedel.

"Aduk semua bahan jadi satu, dibentuk bulat sesuai ukuran yang diinginkan kemudian panggang di atas pan dengan panas sedang hingga matang," ucapnya.

* Sumber: kompas.com

Selasa, 28 Juli 2020

Benarkah Hipertensi Sebabkan Sakit Kepala?

Selasa, 28 Juli 2020 17:28:06

Benarkah Hipertensi Sebabkan Sakit Kepala?

Tekanan darah tinggi atau hipertensi bisa menjadi indikator kuat adanya risiko gangguan kardiovaskular.

Sayangnya, banyak orang yang tak menyadari adanya hipertensi. Hal ini bisa berpotensi menyebabkan komplikasi serius.

Itu sebabnya, memeriksakan tekanan darah secara rutin adalah hal penting untuk memastikan kondisi tubuh kita.

Hipertensi dan sakit kepala

Banyak orang berpikir sakit kepala adalah salah satu gejala hipertensi.

Faktanya, riset dari American Heart Association membuktikan sakit kepala bukanlah gejala tekanan darah tinggi.

Menurut penelitian tersebut, penderita hipertensi lebih kecil kemungkinannya mengalami sakit kepala berulang.

Namun, tekanan darah yang terlalu tinggi memang bisa memicu hipertensi maligna atau yang juga dikenal dengan krisis hipertensi.

Hipertensi maligna adalah kondisi meningkatnya tekanan dalam tengkotak karena tekanan darah yang melonjak drastis. Hal ini bisa memicu sakit kepala.

Selain sakit kepala, hipertensi maligna juga bisa memicu penglihatan kabur, nyeri dada, dan mual.

Cara mengatasi

Apapun penyebab sakit kepala yang kita alami, kondisi ini memerlukan perawatan dengan cepat dan tepat.
Beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi sakit kepala antara lain:

1. Mengonsumsi makanan antiinflamasi

Sakit kepala biasanya disebabkan oleh pradangan. Untuk mengatasinya, kita bisa mengonsumsi makanan antiinflamasi untuk mengurangi peradangan dan memperbaiki sirkulasi di tubuh.
Makanan yang bisa mengurangi peradangan antara lain:

- seledri
- bit
- bluberi
- biji rami.

2. Gunakan minyak esensial

Minyak esensial tertentu, seperti peppermint dan lavender, menenangkan sistem saraf pusat.

Minyak ini dapat membantu meringankan rasa sakit kepala, terutama dalam kasus sakit kepala yang disebabkan oleh stres.

3. Mengurangi kafein

Konsumsi terlalu banyak kafein telah terbukti meningkatkan rasa sakit kepala dan tekanan darah.

Itu sebabnya, kita harus mengontrol jumlah asupan kafein agar tidak menjadi kecanduan.

4. Konsultasi ke dokter

Sakit kepala yang terlalu sering membutuhkan perawatan dokter dengan tepat untuk mengetahui penyebabnya.

Pasalnya, ada berbagai faktor yang bisa memicu sakit kepala, seperti gangguan kesehatan mental, pola diet, atau gangguan sirkulasi dalam tubuh.

*Sumber: kumparan.com

Sabtu, 25 Juli 2020

4 Keahlian yang Harus Dimiliki untuk Menunjang Karier di Tengah Pandemi

Sabtu, 25 Juli 2020 17:15:07

4 Keahlian yang Harus Dimiliki untuk Menunjang Karier di Tengah Pandemi

Pandemi corona yang menerjang seluruh dunia sejak awal tahun ini membawa sejumlah dampak untuk umat manusia. Salah satu yang paling berdampak adalah dari segi karier. Banyak orang yang kehilangan pekerjaannya karena perusahaan mengurangi pegawai, atau bisnis yang dijalani terpaksa tak beroperasi lantaran sepinya penjualan.

Meski hal ini membawa duka mendalam, namun jangan sampai kita larut dalam kesedihan. Ingatlah bahwa kita masih punya harapan untuk bangkit dan berjuang menjalani hidup di tengah pandemi, salah satunya adalah dengan terus mengasah keahlian yang kita miliki.

Melansir Times of India, ada empat keahlian utama yang sebaiknya kita kuasai untuk menunjang karier di tengah pandemi. Apabila Anda termasuk salah satu orang yang tengah mencari pekerjaan atau justru baru ingin memulai usaha, ada baiknya simak ulasan berikut ini.

1. Keahlian dalam memimpin

Dalam situasi krisis saat ini, orang-orang dengan kualitas kepemimpinan yang kuat dapat bertahan dan membawa timnya menuju kesuksesan. Terlebih lagi kini banyak perusahaan yang mempekerjakan karyawannya dari rumah, hal ini pun tak akan terwujud dan berhasil tanpa adanya keahlian dalam memimpin tim dari jarak jauh.

Selain itu, seseorang yang memiliki kualitas kepemimpinan yang bagus akan mendorong rekan satu tim untuk lebih bersemangat dalam bekerja. Maka dari itu, tak ada salahnya mengasah kemampuan yang satu ini.

2. Emotional intelligence

Emotional intelligence adalah salah satu keahlian yang dapat membantu seseorang untuk memahami perasaan orang lain sekaligus mengontrol emosi yang kita miliki. Biasanya, para pemimpin yang baik memiliki kemampuan ini dan lebih berempati serta memantau kesehatan mental dari para timnya. Terlebih lagi saat pandemi corona, keahlian ini sangat diperlukan karena ada banyak orang yang mungkin merasa berat dalam menjalani hari-hari mereka.

3. Keahlian teknologi

Salah satu keahlian yang dapat membuat para karyawan bertahan di tengah pandemi corona adalah kemampuan mereka dalam mengoperasikan teknologi. Karena sejak pandemi, kita diharuskan untuk bekerja di rumah dan mengerjakan segala sesuatunya secara online, mulai dari meeting hingga seminar. Dengan demikian, memiliki keahlian di bidang teknologi juga menjadi hal penting yang harus dikuasai agar tidak ketinggalan informasi dan lebih efisien saat bekerja.

4. Kemampuan beradaptasi dalam perubahan

Semenjak corona dan diberlakukannya lockdown, mau tidak mau kita harus beradaptasi dalam menerima segala perubahan yang ada. Hal ini juga berlaku dalam dunia karier kita, mulai dari jam kerja yang berubah, fungsi kantor yang tak sama dengan dulu, hingga sistem kerja yang disesuaikan dengan berbagai perubahan.

Terlebih lagi, kita pun harus beradaptasi dalam bekerja di rumah, mengatur antara urusan rumah dan pekerjaan. Sehingga, tak ada salahnya untuk menyiapkan diri dalam beradaptasi dengan segala perubahan di tengah pandemi corona ini. Karena, karyawan yang mampu beradaptasi dengan baik dapat dengan cepat menerima segala perubahan di perusahaan.

*Sumber: kumparan.com

Jumat, 24 Juli 2020

Orangtua Harus Tahu, Ini Efeknya Jika Terlalu Sering Marah pada Anak

Jum'at, 24 Juli 2020 17:17:39

Orangtua Harus Tahu, Ini Efeknya Jika Terlalu Sering Marah pada Anak

Apakah kamu merasa lebih sering marah dan meneriaki anak selama pandemi Covid-19 ini? Jika ya, tenang, kamu tidak sendirian.

Dr Lim Boon Leng, mengatakan, ketika keluarga terjebak di rumah selama pandemi Covid-19, dia telah mendengar laporan banyak sekali orangtua yang menjadi lebih sering marah dan frustrasi dengan anak-anak mereka saat terjebak di rumah. “
Orangtua biasanya merasa sangat bersalah ketika kehilangan kontrol. Namun demikian, saya belum pernah menemukan kasus yang terlalu ‘lepas kendali’, ”kata Dr Lim di Pusat Kesehatan Psikologis Dr. BL Lim.

Hal senada diungkap oleh Theresa Pong, penasihat utama Focus on the Family, Singapura, bahwa tinggal di rumah selama berbulan-bulan telah meningkatkan stres orangtua dalam berbagai aspek.

Mulai dari cabin fever yang entah kapan akan berakhir, hingga mengelola anak-anak sendirian sambil memenuhi komitmen pekerjaan, dipaksa untuk bekerja lebih dekat dengan pasangan mereka, dan belum lagi kekhawatiran tentang keuangan, kesehatan, dan gaya hidup keluarga.
Sementara di sisi lain, orangtua sebenarnya memiliki harapan tinggi tentang bagaimana mereka ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka selama masa karantina.

Sehingga, mereka berjuang menyeimbangkan bekerja dari rumah dan merawat anak-anak mereka.

“Seiring dengan garis batas antara pekerjaan dan keluarga yang makin tak terlihat jelas, bertambahnya tekanan dapat mengakibatkan kekecewaan dan bahkan kebencian, yang kemudian menyebabkan mereka kehilangan regulasi emosional", kata Theresa.

Ibu ternyata lebih stres daripada ayah

Meskipun hal ini dapat terjadi pada ibu dan ayah, Ibu lebih rentan terhadap stress, karena mereka cenderung menjadi pengasuh utama, jelas Christine Wong, pendiri dan pelatih kepala psikotrauma di Rhemaworks International, Singapura.

Fokus pada survei Keluarga terhadap 1.076 ibu di bulan Maret dan bulan April lalu membuktikan hal ini.

Enam puluh persen ibu yang disurvei oleh badan amal setempat, menilai tingkat stres mereka adalah 7 dari 10. Ini adalah peningkatan yang nyata dari 52 persen dalam survei tahun lalu.

Laporan tersebut mencatat, para ibu juga berisiko terhadap kesehatan emosi dan mental yang buruk, karena lebih dari 6 dari 10 responden tidur kurag dari enam jam.

Wong mengatakan, orangtua harus mewaspadai ‘bendera merah emosional’, di antaranya menetapkan terlalu banyak aturan dan emosi ketika anak tidak mematuhinya, terlalu mengontrol dan menggunakan metode seperti berteriak dan memukul, serta menyalahkan anak atas kelakuan buruk.

"Yang benar adalah, itu bukan kesalahan anak. Mereka hanyalah anak kecil. Kita semua tahu ini. Namun kita secara tidak sadar mengharapkan mereka memiliki kapasitas intelektual dan perilaku orang dewasa," katanya.

Masalahnya lanjut Wong, orangtua dapat menimbulkan trauma emosional yang tidak disadari ketika mereka menyebut nama anak-anak, kemudian menyebut mereka nakal atau bodoh, atau membuat mereka merasa bersalah.

“Seiring waktu, trauma tersebut terus tertanam dalam sistem kepercayaan diri anak. Ketika mereka menjadi ibu atau ayah kelak, mereka akan mengulangi pola perilaku negatif orangtua mereka, dan itu menjadi lingkaran setan,” jelas Wong.
Bagaimana stress orangtua berpengaruh pada anak

Lim menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, anak-anak yang mengalami kekerasan emosional dapat semakin melekat pada orangtua mereka, takut bahwa mereka akan ditinggalkan. Mereka juga dapat bertindak lebih.

"Dalam jangka panjang, jika kekerasan emosional terus berlanjut, anak kemungkinan tumbuh dengan harga diri yang rendah, kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian," katanya.

Pong menambahkan, bahwa meskipun banyak anak yang tangguh dan dapat mengatasi kesulitan, ini seharusnya tidak menjadi alasan bagi orangtua untuk menormalkan apa yang berpotensi menjadi kekerasan emosional.

“Sebagai gantinya, kita dapat mengubah 'momen pengasuhan yang gagal' menjadi momen yang dapat dipelajari untuk anak-anak kita dan diri kita sendiri,” dia menjelaskan.

“Itu dimulai dengan orang dewasa yang mengakui bagaimana mereka lepas control atau bereaksi berlebihan, meminta maaf kepada anak mereka atas reaksi / perilaku yang tidak seharusnya, dan bersama anak menentukan cara yang lebih baik untuk mengatasi stres, ketegangan, atau perilaku buruk bersama ketika itu terjadi kemudian," pungkas Pong.

*Sumber: kompas.com