SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS/WA 0852 5968 1245 || Facebook : Nuansa Bojonegoro || Twitter : @nuansafmbjn || Instagram : @nuansaradio || E-Mail : nuansaradio722@gmail.com || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Sabtu, 25 September 2021

Tergantung Keluhan yang Dialami Pasien, Pengobatan Nyeri Dibedakan Menjadi 3 Level

Sabtu, 25 September 2021 18:20:01

Tergantung Keluhan yang Dialami Pasien, Pengobatan Nyeri Dibedakan Menjadi 3 Level

 

 

 

 

 

 

 

Tidak semua keluhan nyeri di badan diobati dengan cara yang sama. Terlebih dalam kondisi wabah Covid-19, penanganan medis harus ada yang disesuaikan.

Dokter spesialis bedah saraf dr. Dwikoryanto, Sp. BS. FINPS., mengatakan bahwa dilihat dari gejalanya, nyeri dibedakan menjadi tiga level. Dokter akan memberikan pengobatan kepada pasien nyeri sesuai diagnosis levelnya.

"Kalau level 1, misalnya, pada pasien yang nyeri ringan sampai sedang, penyebab dan diagnosisnya jelas, kemudian kalau dia memiliki komorbid relatif terkontrol. Maka dia juga bisa menggunakan perangkat telemedicine," jelas dokter Dwikoryanto dalam webinar daring Brain Awareness Week, Rabu (22/9/2021).

Pengobatan terhadap pasien nyeri level 1 hanya perlu melakukan rawat jalan melalui telemedicine. Dokter biasanya akan memberikan obat anti nyeri untuk meredam gejala yang dirasakan.

Sedangkan pasien dengan keluhan nyeri level 2 memiliki gejala yang serupa dengan level 1. Hanya saja, pasien dalam kondisi terkonfirmasi infeksi virus Corona atau masih menjadi suspek Covid-19 akibat adanya riwayat kontak juga memiliki gejala seperti flu.

"Maka kita harus menduga pasien ini juga memiliki problem Covid, jadi tentu memerlukan pendekatan penanganan yang berbeda," imbuh dokter Dwikoryanto.

Dalam kondisi tersebut, pasien harus menjalani isolasi mandiri di rumah ataupun di rumah sakit sesuai gejala Covid-19 yang dihadapinya.

Nyeri pada level 3, digambarkan kondisi pasien yang alami gejala sangat berat. Dokter Dwikoryanto mengatakan, biasanya pasien harus segera mendapatkan tindakan medis darurat. Sehingga perlu dilakukan rawat di nap.

Dalam kondisi tersebut, dokter akan memeriksa kondisi organ tubuh pasien untuk memastikan apakah ada cedera serius yang jadi penyebab nyeri.

*Sumber: suara.com

Jumat, 24 September 2021

Catat! 5 Fakta Penting Soal MPASI yang Wajib Diketahui Orang Tua

Jum'at, 24 September 2021 17:31:55

Catat! 5 Fakta Penting Soal MPASI yang Wajib Diketahui Orangtua

 

 

 

 

 

 

 

Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu alias MPASI wajib dilakukan setelah anak berusia di atas 6 bulan.

Sebab di usia tersebut, kebutuhan gizi dan nutrisi anak tidak dapat tercukupi hanya dari ASI.

Untuk itu, penting bagi orangtua mengetahui apa saja bahan MPASI yang direkomendasikan hingga bagaimana cara mengatasi bayi yang sulit makan MPASI.

Dirangkum Suara.com, berikut ulasannya:

1. Bayi Sulit Makan Saat MPASI, Bisa Jadi Ini Sebabnya

Sulit makan jadi permasalahan umum yang terjadi pada anak usia di bawah satu tahun. Lantaran anak juga belum bisa bicara dengan jelas, sehingga terkadang membuat orangtua bingung mengetahui penyebab anak enggan makan.

Biasanya anak akan enggan membuka mulutnya ketika disuapi makanan. Atau juga mengeluarkan kembali makanan yang sudah di dalam mulut.

2. Dokter Gizi: Membiasakan Anak Makan Sayur Harus Dilakukan Sejak MPASI

Tak sedikit orangtua merasa kewalahan membujuk anak makan sayur. Segala cara dikerahkan, mulai dari menyembunyikan sayur di dalam makanan hingga memaksa anak. Tapi tahukah Anda, menurut ahli gizi dan Ketua Indonesia Sport Nutrition Association, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, anak yang susah makan sayur sesungguhnya dipengaruhi oleh pola asuh orangtua sejak pemberian makanan pendamping ASI di usia enam bulan.

“Umumnya kesalahan terjadi saat orangtua salah memberikan MPASI pertama anak, sepatutnya memang perlu dilakukan sejak dini,” ujar Rita dalam pernyataannya secara virtual, Kamis (3/12/2020).

3. Penting, Konsumsi MPASI Organik Bisa Tingkatkan Kekebalan Tubuh Bayi

Pemberian MPASI atau makanan pendamping ASI merupakan momen terpenting bagi bayi. Selain itu merupakan pertama kalinya menerima makanan selain ASI, masa MPASI juga akan menjadi pondasi bagi kebiasaan makan dan status gizi anak kelak.

Bahkan, organisasi WHO menganjurkan bayi mulai mengkonsumsi MPASI berupa makanan solid dan halus agar nutrisinya memadai bagi pertumbuhan tubuh dan otak. MPASI ini idealnya harus kaya nutrisi, seperti makanan bahan organik untuk memenuhi kebutuhan di 1000 hari pertama.

4. Mesti tahu, Ini Tips Pilih Alat Masak yang Aman Untuk MPASI

Menjelang usia enam bulan banyak orangtua mulai mempersiapkan untuk memberi Makanan Pendamping ASI (MPASI). Momen pemberian MPASI adalah masa yang penting dalam mengenalkan serta mengembangkan kemampuan anak untuk menerima makanan lainnya selain air susu ibu.

Namun seringkali ditemui masalah, akibat ketidaktahuan sang ibu dalam pemberian MPASI. Salah satunya ialah luka pada usus anak, yang disebabkan oleh tekstur MPASI yang terlalu kasar.

5. Tips Masak MPASI Enak dan Bergizi: Karbo dan Protein Dipisah Ya Bunda

Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) diberikan pada anak saat memasuki usia 6 bulan, setelah periode ASI eksklusif berakhir.

Biasanya para ibu akan galau tingkat tinggi memikirkan apa makanan pertama atau MPASI (makanan pendamping ASI) yang akan diberikan kepada anaknya.

*Sumber: suara.com

Kamis, 23 September 2021

Benarkah Berjalan 10.000 Langkah Bisa Menurunkan Berat Badan? Begini Faktanya

Kamis, 22 September 2021 17:48:29

Benarkah Berjalan 10.000 Langkah Bisa Menurunkan Berat Badan? Begini Faktanya

 

 

 

 

 

 

 

Banyak orang percaya dengan gagasan berjalan 10.000 langkah per hari sebagai tujuan kebugaran yang populer di hampir seluruh dunia.

Direktur medis di pusat kesehatan bariatrik dan metabolik di Rumah Sakit O'Connor di San Jose, California, Thomas Hirai, MD, mengatakan gagasan 10.000 langkah per hari berasal dari tahun 1965 ketika sebuah perusahaan Jepang mengembangkan pedometer Manpo-kei, yang artinya '10.000 langkah meter'.

"Target 10.000 langkah tercapai karena mudah diingat dan di atas rata-rata langkah harian bagi kebanykan orang," jelas Thomas, dilansir Insider.

Tapi, apakah berjalan 10.000 langkah bisa menurunkan berat badan?

Kebanyakan orang membakar 30-40 kalori per 1.000 langkah, artinya kalori yang terbakar 300 hingga 400 ketika berjalan 10.000 langkah. Namun, ini hanya perkiraan.

"Tingkat pembakaran kalori bisa sangat bervariasi," sambung Thomas.



Thomas menjelaskan hal yang memengaruhi pembakaran kalori adalah berat badan, panjang langkah, dan tingkat kebugaran, kecepatan, serta kemiringan area tempat berjalan.

Untuk menurunkan berat badan, Thomas menjelaskan bahwa perlu lebih banyak kalori yang dibakar daripada yang dimakan.

"Orang yang ingin menurunkan atau mempertahankan berat badan harus berolahraga minimal 150 hingga 200 menit per minggu, dan berjalan 10.000 langkah per hari dapat membantu mencapai tersebut," imbuhnya.

Namun, berat badan lebih mungkin turun jika orang tersebut juga fokus pada makan makanan sehat.

"Penurunan berat badan melalui olahraga menjadi jauh lebih efektif bila dikombinasikan dengan strategi diet yang diawasi," tandasnya.

*Sumber: suara.com


Sabtu, 18 September 2021

Mau Anak Tumbuh Tinggi dan Sehat, Coba Terapkan Lima Kebiasaan Berikut

Sabtu, 18 September 2021 17:56:57

Mau Anak Tumbuh Tinggi dan Sehat, Coba Terapkan Lima Kebiasaan Berikut

 

 

 

 

 

 

 

Beberapa faktor mempengaruhi tinggi badan anak Anda, seperti lingkungan, pola makan, dan olahraga. Dari semua kontributor utama, gen Anda dan pasangan menyumbang 60 hingga 80 persen tinggi akhir anak Anda. 

Meskipun gen mungkin tak bisa direkayasa, namun memberikan nutrisi dan pola makan yang tepat sejak usia dini masih dapat membantu meningkatkan tinggi badan anak Anda beberapa inci. Melansir dari Times of India, berikut 5 kebiasaan yang dapat meningkatkan tinggi badan anak, antara lain:

1. Pola Makan Bergizi 

Baik itu orang dewasa atau anak-anak, pola makan yang seimbang dan bergizi adalah kebutuhan dasar bagi semua orang. Setidaknya 3 kali makan dalam sehari dan 2 kali camilan sehari yang sarat dengan semua nutrisi membantu perkembangan otak dan tubuh anak. 

Tambahkan lebih banyak buah segar, biji-bijian, susu, dan sumber protein ke dalam makanan mereka. Hindari gula dan makanan olahan.

2. Hindari Suplemen

Untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan jumlah nutrisi yang cukup, beberapa orang tua sering kali memberi anak mereka suplemen yang sebenarnya tidak diperlukan. Suplemen hanya boleh diberikan kepada anak-anak ketika mereka kekurangan beberapa nutrisi atau menderita masalah yang berhubungan dengan pertumbuhan. 

Asupan suplemen juga seharusnya baru diberikan setelah berkonsultasi dengan dokter. 

3. Berolahraga

Mengajari anak-anak Anda untuk berolahraga setiap hari sejak usia dini adalah salah satu hal terbaik yang dapat Anda lakukan. Tetap aktif secara fisik memiliki banyak manfaat kesehatan, termasuk meningkatkan tinggi badan Anda. 

4. Bergelantungan

Menggantung selalu dianggap sebagai cara terbaik untuk menambah tinggi badan anak-anak. Menggantung dari palang memanjang tulang belakang yang menambah tinggi badan mereka. 

Menggantung secara konsisten dapat meningkatkan ketinggian dari waktu ke waktu. Selain itu, juga dapat membantu memperkuat otot.

5. Tidur Cukup

Tidur selama 7 hingga 8 jam sangat penting untuk semua orang. Anak-anak membutuhkan lebih banyak tidur daripada orang dewasa karena mereka lebih aktif. 

Pastikan anak Anda tidur tepat waktu dan tidur nyenyak sepanjang malam. Jika dia mengalami masalah tidur, konsultasikan dengan dokter Anda.

*Sumber: suara.com

Senin, 13 September 2021

Pandemi Bikin Risiko Ibu Alami Depresi Meningkat, Ini Sebabnya

Senin, 13 September 2021 17:20:37

Pandemi Bikin Risiko Ibu Alami Depresi Meningkat, Ini Sebabnya

 

 

 

 

 

 

 

Pandemi COVID-19 membuat risiko seseorang mengalami gangguan jiwa dan masalah kejiwaan meningkat.

Bahkan menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, risiko depresi meningkat pada ibu, akibat beban dan tanggung jawab yang bertambah.

Hasto menjelaskan pandemi COVID-19 menyebabkan seorang ibu harus mendominasi peran dalam suatu keluarga. Beberapa peran yang dilakukan yaitu mengasuh anak, membelikan kebutuhan rumah tangga, mengingatkan kebutuhan hidup sehat, mengingatkan beribadah serta mengingatkan keluarga untuk selalu berfikir positif.

Berdasarkan data survei yang dilakukan oleh pihaknya, dominasi peran tersebut mengakibatkan sebanyak 2,5 persen perempuan telah mengalami depresi selama masa pandemi COVID-19.

Masalah pada ibu selanjutnya yang dia beberkan, walaupun pemerintah telah melakukan sosialisasi vaksinasi dinyatakan aman untuk ibu hamil, rupanya masih banyak ibu hamil yang ragu untuk melakukan vaksinasi.

Ia mengatakan hal ini perlu menjadi perhatian bersama mengingat angka kematian ibu dan bayi telah meningkat selama pandemi.

“Padahal dari literatur sudah jelas. Itu bisa kita kerjakan dan tidak masalah. Oleh karena itu saya kira sosialisasinya seperti ini (penting dilakukan). Bagi BKKBN, ini penting karena kematian ibu dan bayi meningkat selama pandemi,” kata dia.

Menurutnya, permasalahan yang harus dihadapi oleh keluarga di Indonesia selama masa pandemi COVID-19 meningkat.

Kemiskinan yang menyebabkan angka pengangguran meningkat, menjadi permasalahan serius bagi pihaknya karena berpengaruh terhadap jumlah anak yang mengalami kekerdilan (stunting). Hal tersebut terjadi karena pendapatan yang berkurang, membuat anak mengalami keadaan wasting (gizi pada anak tidak terpenuhi) meningkat sehingga menjadi lebih kurus.

Hasto menegaskan kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi masa depan bangsa Indonesia yang memiliki sebanyak 23 juta anak baduta (bayi usia dua tahun).

“Ini khawatir kalau angka anak kurus meningkat, maka kemudian akan menjadi stunting. Ingat bahwa kita punya baduta sebanyak 23 juta, sehingga ini dua juta mengalami kondisi kurus, kemudian kalau berlanjut tiga bulan, enam bulan akan menjadi stunting,” kata Hasto.

Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB Euis Sunarti mengatakan mengatakan pandemi COVID-19 sangat berdampak pada food insecurity (kerawanan pangan) keluarga.

“Relatif tingginya food insecurity, kerawanan pangan tentunya akan berdampak pada status gizi keluarga khususnya balita. Tentunya program untuk menurunkan stunting, menjadi tantangan tersendiri pada saat COVID-19,” kata Euis.

Ia mengatakan bila melihat kondisi strategi pangan yang dimiliki keluarga pada masa pandemi, dapat memungkinkan angka wasting ataupun stunting mengalami peningkatan.

Berdasarkan data penelitian yang Euis miliki, sebanyak 47,3 persen keluarga menghemat pengeluaran untuk membeli bahan pangan. Penghematan tersebut menyebabkan sebanyak 73,1 persen keluarga beralih membeli bahan pangan yang memiliki harga lebih murah.

Sebanyak 47,3 persen keluarga mengurangi jenis-jenis lauk yang dikonsumsi serta satu dari lima keluarga atau sebesar 21,5 persen telah mengurangi porsi makan dalam keluarga.

Euis mengatakan masalah pendapatan pada keluarga dapat memberikan dampak pada kesehatan. Masalah tersebut dapat semakin memburuk apabila kepala keluarga yang sedang mencari sumber nafkah, belum tentu menemukan pekerjaan ataupun bantuan sosial.

“Masalah-masalah dalam keluarga juga cukup besar karena jika pendapatan menurun maka kesehatan keluarga juga menurun. Sehingga ketika mencari sumber nafkah tetapi kemudian saat mencari pun belum tentu dapat, mencari dukungan sosial yang dilakukan juga lebih sedikit dari yang mencari sumber pendapatan,” kata dia.

*Sumber: suara.com

Minggu, 12 September 2021

Ikutilah Ziarah & Wisata Religi Di Akhir Tahun 2021 Bareng Radio Nuansa Group

Ikutilah dan daftarkan diri anda sekarang juga untuk mengikuti Ziarah dan Wisata Religi di akhir tahun 2021 bersama RADIO NUANSA GROUP yang terdiri dari (Radio Nuansa FM 104,5 Bojonegoro, Angling Darma FM 89,9 Bojonegoro, dan Suara Bumi Wali FM 91,5 Tuban).

Lokasi yang akan dituju :
1. MAKAM SUNAN POJOK BLORA
2. MAKAM JOKO TARUB
3. MAKAM KI AGENG SELO
4. MAKAM JOKO TINGKIR & KEBO KENONGO
5. MAKAM MBAH SUHARTO ASTANA GIRI BANGUN
6. MALIOBORO 

Pelaksanaan :
HARI          :  SABTU
TANGGAL : 11 DESEMBER 2021
 
Biaya : Rp. 200.000,-

Tempat Pendaftaran :
1. Gerai Sehat Cabang Rengel : Jln. Raya Rengel - Plumpang / 100 meter timur GOA Ngreong (Tuban)
2. Gerai Sehat Cabang Baurno : Jln. PUK Baurno - Kanor / Gg. Cokro Masuk Ke Utara Pasinan (Bojonegoro)
3. Gerai Sehat Cabang Sumberrejo : Jln. Raya Sumberrejo 1192 Bojonegoro (Bojonegoro)
4. Gerai Sehat Cabang Balen : 100 meter Perempatan Balen ke selatan (Bojonegoro)
5. Gerai Sehat Cabang Kapas : Barat Koramil Kapas Bojonegoro (Bojonegoro)

Info Pendaftaran HUB : 

Jumat, 10 September 2021

Jangan Tertukar, Ini Bedanya Pertumbuhan Anak dengan Perkembangan

Jum'at, 10 September 2021 17:59:12

Jangan Tertukar, Ini Bedanya Pertumbuhan Anak dengan Perkembangan

 
 

 

 

 

 

 

Di berbagai informasi seputar pola asuh anak, pentingnya pertumbuhan dan perkembangan buah hati selalu menjadi fokus bahasan, khususnya di 1.000 hari pertama kehidupan.

Tapi bunda tahu nggak sih pertumbuhan dan perkembangan anak itu dua hal yang berbeda loh!

Dokter Spesialis Anak Miza Dito Afrizal, Sp.A, BmedSci. M.Kes mengatakan anak tidak bisa hanya sekedar bertumbuh, tapi juga anak harus bisa berkembang.

"Tumbuh dan kembang adalah 2 kata yang terpisah, bertumbuh dan juga berkembang," ujar dr. Miza dalam acara Tokopedia, Rabu (10/3/2021).

Menurut dr. Miza pertumbuhan anak itu artinya berfokus pada perkembangan fisik yang bertumbuh, seperti tinggi, berat, dan lingkar kepala anak.

"Perbedaannya adalah kalau bertumbuh itu, ada penambahan volume tubuh jadi dia bertambah tinggi, dia bertambah gemuk, dan bertambah berat," jelas dr. Miza.

Pertumbuhan anak ini harus sangat diperhatikan khususnya sebelum anak berusia 2 tahun. Apabila pertumbuhan fisik sebelum 2 tahun tidak seperti anak normal pada umumnya, maka orangtua harus segera berkonsultasi ke dokter.

Pertumbuhan ini, biasanya diukur dari buku kesehatan ibu dan anak (KIA), yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

"Sebisa mungkin setiap bulan terpantau berat badan, tinggi badan dan lingkar kepalanya. Karena kalau misalnya itu terjadi apa-apa di bawah 2 tahun, kita koreksinya jauh lebih gampang, dibandingkan udah lewat dari 2 tahun," paparnya.

Sementara itu perkembangan anak, yakni mengacu pada berkembangnya skill atau kemampuan anak, dan sangat berhubungan dengan kognitif (daya tangkap dan berpikir) si anak.

"Skill yang bertambah pada anak, pada motorik juga sensorik. Motorik itu pergerakannya anak bisa jalan, lompat-lompatan, turun tangga, anak bisa merangkak," terang dr. Miza.

Ada juga perkembangan berupa kemampuan sensorik anak, yang biasanya dihubungkan dengan kinerja indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaran dan indera perasa.

"Itu harus terstimulasi dengan baik sesuai dengan umurnya," pungkas dr. Miza.

*Sumber: suara.com