SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Rabu, 18 September 2019

7 Saran yang Bisa Orang Tua Lakukan saat Anak Gagap Bicara

Rabu, 18 September 2019 17:16:03

7 Saran yang Bisa Orang Tua Lakukan saat Anak Gagap Bicara

Gagap (stuttering) alias ketidaklancaran berbicara pada anak, bila dibiarkan bisa menjadi masalah baginya kini dan nanti. Misalnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dalam bersosialisasi, karena sering kali menjadi bahan ledekan teman sebayanya. Hal ini pun bisa berdampak pada prestasi sekolahnya.

Dr.dr. Rini Sekartini, Sp.A(K) dan dr. Daniel Surjadinata, Sp.A dalam laman Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa penyebab gagap belum sepenuhnya dipahami dan diperkirakan merupakan gabungan antara faktor genetik dan lingkungan. Namun, gejala gagap pada anak bisa dikenali.

Gejala gagap pada anak dapat berupa gangguan pengucapan kata, dapat berupa pengulangan sebagian kata atau seluruhnya (saya saya saya, sa..sa..sa..ya), pemanjangan pengucapan kalimat (ssssayaa ), blokade bagian kata (S ya) atau keragu-raguan dalam mengucapkan suatu kata (saya .mau..makan).

Gagap biasanya terjadi pada anak-anak usia 3 sampai 5 tahun dan akan normal kembali dalam waktu 6 bulan hingga usia sekolah. Namun sekitar 1 persen dari populasi anak yang menderita gagap, akan menetap sampai dewasa dan menjadi masalah dalam kehidupannya.

Baik pada anak laki-laki maupun perempuan, angka kejadian gagap hampir sama. Tetapi pada anak laki-laki, risiko terjadinya gagap permanen 3-4 kali lebih besar daripada perempuan, Moms. Di bawah ini dr. Rini dan dr. Daniel menyarankan beberapa hal untuk orang tua dalam membantu anak atasi gagap bicara. Yuk, simak!

Bicara dengan Santai

Berbicaralah pada anak tanpa terburu-buru, Moms. Berikan jeda beberapa detik setiap anak selesai berbicara, lalu Anda mulai meresponnya. Ritme kalimat Anda yang perlahan-lahan lebih efektif dibandingkan dengan peringatan pelan-pelan bicaranya.

Kurangi Memberikan Pertanyaan Pada Anak

Kurangi mengajukan pertanyaan pada si kecil. Namun, dengarkanlah perkataan atau cerita anak dan respon setiap pembicaraannya. Anak lebih bebas bercerita dibandingkan harus menjawab pertanyaan Anda.

Berekspresi

Gunakan ekspresi wajah atau gerakan tubuh ketika anak mulai gagap. Tujuannya untuk menenangkan dan meyakinkan si kecil bahwa Anda memahami isi pembicaraannya dan tidak mempermasalahkan gagapnya.

Gunakan Kalimat dan Intonasi Sesuai Usia Anak

Pilihlah kalimat yang sederhana, ketika berkomunikasi bersama anak dengan pengucapan perlahan dan suasana nyaman. Ketika umur anak bertambah, kecepatan berbicara dapat disesuaikan berdasarkan kemampuannya.

Bekerja Sama dengan Seluruh Anggota Keluarga

Ajak anggota keluarga lain untuk selalu mendengarkan percakapan anak dan tidak memotong percakapan tersebut. Jadilah pendengar yang baik.

Amati dan Evaluasi

Amati dan evaluasi saat anak berinteraksi dengan Anda, Moms. Usahakan selalu memberikan waktu yang cukup pada anak untuk bercakap-cakap. Hindari kritikan, bicara cepat, interupsi dan pertanyaan.

Yakinkan Anak

Terima keadaan gagap anak dengan apa adanya. Dengan cara meyakinkan si kecil bahwa gagap bukanlah menjadi sebuah masalah buat Anda. Sebagai orang tua, Anda selalu mendukungnya, sehingga anak akan merasa nyaman dan mengurangi keluhan gagapnya.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 17 September 2019

Tak Mau Beri Anak Susu Formula? Tapi Jangan Lakukan 3 Hal Ini, Moms!

Selasa, 17 September 2019 17:24:10

Tak Mau Beri Anak Susu Formula? Tapi Jangan Lakukan 3 Hal Ini, Moms!

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, dan tidak ada susu formula di dunia ini yang bisa menandingi nutrisi ASI. Tidak hanya bergizi tinggi, ASI juga merupakan makanan yang paling cocok bagi pencernaan bayi yang belum sempurna dan mengandung g.

Bertekad memberikan si kecil ASI dan hanya ASI hingga usianya 6 bulan? Bagus tuh, Moms! Ingin melanjutkan menyusui hingga anak berusia 2 tahun? Lebih bagus lagi! Keputusan dan usaha Anda tentu akan membawa banyak kebaikan bagi si kecil maupun diri Anda sendiri.

Tapi meski begitu, pastikanlah Anda tidak melakukan 4 hal ini:

1. Sangat fanatik terhadap ASI

Sikap terlalu fanatik berisiko membuat kita terlalu mudah menghakimi orang lain. Misalnya orang tua lain yang memberi anaknya susu formula. Padahal bisa saja, mereka bukannya tidak tahu kebaikan ASI namun terpaksa memberikan susu formula karena ada indikasi medis tertentu yang dimiliki ibu maupun si kecil.

Karena itu, hindari pula menyalahkan dan menghujani dengan kuliah kilat tentang pentingnya menyusui, meski Anda merasa dekat dengan mereka. Fanatisme is a BIG no-no, Moms! Ini hanya akan membuat teman atau saudara Anda merasa tidak dipahami, diserang, memandang Anda sok tau dan bisa jadi bersikap antipati.

2. Melakukan Mom Shaming

Mom Shaming? Maksudnya, merendahkan sesama ibu yang memiliki pilihan pengasuhan berbeda dari kita. Misalnya komentar-komentar seperti: "Ih, kok dikasih susu formula? Nanti anaknya obesitas, lho!" atau "Kok, enggak dikasih ASI? Kasihan bayinya, ibunya tidak mau menyusui."

Maksud Anda mungkin baik, tapi menurut Psikolog Keluarga, Monica Sulistiawati, perilaku mom shaming seperti ini dapat dikategorikan bullying, lho! Tentu tak menyenangkan kan, bila ini terjadi pada diri kita?

3. Membanding-bandingkan Anak

Setiap anak unik dan sebaiknya tidak dibanding-bandingkan. Misalnya membanding-bandingkan anak kita yang sudah bisa bicara dengan anak teman yang belum bisa meski umurnya sama. Apalagi kalau Anda lantas mengaitkannya dengan pemberian ASI atau susu formula.

Orang tua memang perlu memerhatikan setiap tahap tumbuh kembang anak dengan seksama. Tapi membandingkan anak (meski dengan saudaranya sendiri) tetap bukan hal yang bijak. Jadi, jangan deh, Moms!

*Sumber: kumparan.com

Senin, 16 September 2019

Waspada Bila Anak Tampak Begitu Lamban dan Mudah Jatuh

Senin, 16 September 2019 17:25:00

Waspada Bila Anak Tampak Begitu Lamban dan Mudah Jatuh

Moms, pernahkah Anda menyadari bahwa gerakan anak begitu lamban? Saat mengenakan pakaian sendiri, misalnya. Tak cuma di rumah, guru pun sudah melaporkannya pada Anda selama si kecil beraktivitas di sekolah.

Ternyata dalam istilah bebas medisnya disebut clumsy child. Dalam terminologi terbaru, ini disebut Gangguan Perkembangan Koordinasi atau GPK, sebagai terjemahan dari Developmental Coordination Disorder. Artinya gangguan gerak yang berpengaruh terhadap kemampuan untuk melakukan tugas umum sehari-hari.

Dr. Jenni K. Dahliana, Sp.A dalam laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa gangguan ini bukan karena kelainan virus atau ketajaman penglihatan, mental retardasi atau palsi serebral. Tetapi karena ketidakmampuan melakukan koordinasi antara beberapa fungsi sensoris, gerak kasar dan halus.

Anak yang menderita gangguan ini kata Dr. Jenni, perlu mendapat perhatian yang serius dari orang tua dan guru sekolah dasar, Moms, mengingat dampaknya terhadap tumbuh kembang anak. Gangguan pertumbuhan yang dimaksud di sini adalah anak bisa menjadi gemuk atau obesitas, karena menarik diri dari aktivitas fisik. Bagaimana tidak, saat teman-temannya semua bisa lebih cepat dan ia tertinggal, ia pun merasa gagal dan semakin menghindari dari kegiatan fisik.

Sedangkan gangguan perkembangan dapat berupa prestasi belajar atau akademik yang rendah, sering gagal dalam ujian karena tulisan yang jelek dan lamban.

Adapun gejala-gejala anak yang mengalami GPK adalah sebagai berikut:
Anak Usia Pra-Sekolah:

- Terlambat dalam perkembangan motor kasar dan halus.

- Sering menabrak benda, mudah jatuh, makan cenderung berantakan dan lebih memilih menggunakan tangan, kesulitan dalam menggenggam pensil atau menggunakan gunting.

Anak Usia Sekolah:

Aspek fisik :

- Mudah terjatuh bila berjalan atau lari, tidak dapat memperkirakan jarak secara akurat.

- Kesulitan beraktivitas fisik bersama teman seperti bermain sepak bola.

- Komentar dari guru olahraga: lamban dan kesulitan mempelajari aktivitas fisik yang baru.

Aspek belajar:

- Sering mengubah postur tubuh selama menulis untuk menyesuaikan posisi buku, lambat dalam menulis, tulisan tangan jelek karena kesulitan dalam memanipulasi pulpen.

- Tidak dapat memotong, melipat ketika melakukan kerajinan tangan.
Aspek perawatan diri:

- Sulit mengancingkan baju, mengikat tali sepatu, sehingga tampak lusuh.

- Mudah menjatuhkan benda atau menumpahkan minuman.

Yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru untuk membantu anak adalah dengan mendorong si kecil agar giat berpartisipasi dalam olahraga yang disukainya, menetapkan tujuan jangan pendek yang realistis untuk anak, perkenalkan kegiatan individu terlebih dahulu baru berkelompok, fokus pada tujuan dari pelajaran yang diberikan, dan saling bekerja sama antar guru dan orang tua untuk membahas anak dan cara mengatasinya lebih detail, Moms.

*Sumber: kumparan.com

Minggu, 15 September 2019

3 Tips untuk Tetap Tenang saat Melakukan Public Speaking

Minggu, 15 September 2019 17:55:20

3 Tips untuk Tetap Tenang saat Melakukan Public Speaking

Pernahkah Anda merasa gugup saat secara tiba-tiba mendapatkan tugas untuk berbicara di hadapan banyak orang?

Istilah 'public speaking' memang bukan hal yang asing lagi dalam dunia profesional. Bahkan, banyak studi yang menyebutkan bahwa keahlian public speaking harus dimiliki setiap individu dalam dunia kerja. Namun, hal ini memang jadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang. Anda salah satunya?

Jika ya, tak perlu khawatir! Mengutip Huffpost, ada beberapa riset yang nyatanya bisa membantu Anda untuk mengatasi rasa gugup saat menghadapi public speaking. Bagaimana caranya?

1. Manipulasi pikiran Anda dengan mengartikan rasa gugup sebagai kegembiraan

Saat Anda gugup, mungkin hal yang sering Anda dengar adalah ucapan seperti 'Jangan gugup!' atau 'Santai saja.' Namun, pada kenyataannya, merasa tenang saat kita dalam keadaan gugup adalah hal yang tidak mungkin.

Menurut studi tahun 2014 dari Harvard Business School, Anda bisa menyiasati rasa gugup tersebut dengan berpikir bahwa segala bentuk respons tubuh Anda seperti tangan berkeringat, jantung berdetak cepat, hingga rasa gemetar, adalah tanda Anda sedang gembira. Ya, Anda bisa memanipulasi kegugupan tersebut seolah sebagai reaksi tubuh saat sedang 'excited' terhadap sesuatu.

Dalam studi yang sama, saat kita mengartikan kecemasan dalam perspektif lain, maka saraf-saraf gugup dalam tubuh pun secara tidak disadari akan tenang. Faktanya, cara Anda memahami kecemasan dapat membantu Anda untuk mengatasinya dengan lebih baik.

2. Fokus pada ide yang ingin Anda sampaikan

Saat melakukan public speaking, banyak dari kita merasa khawatir terhadap pandangan orang tentang diri kita sendiri. Padahal, tujuan Anda melakukan public speaking adalah untuk menyampaikan ide atau aspirasi yang Anda miliki.

Menurut Amanda Hennessey, pendiri dari Boston Public Speaking di Amerika Serikat, Anda tak perlu terlalu fokus terhadap diri sendiri saat berbicara di hadapan banyak orang. Namun, fokuslah pada pesan yang ingin Anda sampaikan.

Dengan begitu, Anda tidak akan cemas dengan pemikiran sepele, seperti: 'Apakah saya terlihat baik?', 'Apakah bos saya suka dengan cara saya berbicara di depan?', dan 'Apakah mereka bosan saat saya berbicara?'

Oleh sebab itu, fokuslah pada pesan dan ide yang ingin Anda sampaikan. Dengan begitu, public speaking bisa terasa seperti diskusi yang menyenangkan.

3. Tak perlu terobesesi pada setiap kata yang ingin disampaikan

Menurut Sian Beilock, psikolog sekaligus penulis buku Choke: What the Secrets of the Brain Reveal About Getting It Right When You Have To, saat Anda akan melakukan public speaking, tentu Anda akan melakukan persiapan. Namun, jangan sampai segala persiapan tersebut malah jadi boomerang bagi diri Anda sendiri.

Saat kita memiliki catatan tentang hal yang ingin kita sampaikan, tak jarang, kita terlalu fokus untuk mendapatkan padanan kata demi kata yang tepat sesuai yang dipersiapkan. Hal ini bukan hanya bisa membuat Anda terbebani, cara Anda melakukan public speaking pun bisa terasa kaku dan monoton.

"Terkadang, alasan kita melakukan kesalahan adalah karena terlalu fokus pada detail-detail yang terlalu kita persiapkan. Jangan terlalu mengontrol diri Anda sendiri dan terlalu fokus terhadap kata apa yang ingin Anda sampaikan," kelas Beilock.

Untuk menyiasatinya, Anda cukup menuliskan poin-poin penting dengan beberapa kata saja. Biarkan pesan yang ingin Anda sampaikan, tersalurkan secara natural dan mengalir.

*Sumber: kumparan.com

Jumat, 13 September 2019

Pemicu Mudah Lelah dari Gaya Hidup dan Kesehatan Mental

Jum'at, 13 September 2019 17:46:01

Pemicu Mudah Lelah dari Gaya Hidup dan Kesehatan Mental

Usai bekerja atau beraktivitas berat, kita kerap mendapatkan kondisi tubuh yang lelah. Kondisi itu wajar terjadi sebagai tanda tubuh meminta waktu istirahat. Tapi lain ceritanya untuk yang mudah lelah, pemicunya beragam dari faktor gaya hidup, kondisi medis atau adanya penyakit, hingga masalah kesehatan mental.

Tanpa disadari, banyak hal yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, malah menjadi penyebab kita mudah lelah. Faktor-faktor yang termasuk dalam gaya hidup ini meliputi terlalu banyak atau kurang olahraga, kurang tidur, pola makan tidak sehat, kegemukan, serta konsumsi kafein atau alkohol yang berlebihan.

Untuk mengatasi mudah lelah serta meningkatkan energi karena gaya hidup, Anda dapat melakukan langkah-langkah mudah seperti berolahraga secara rutin, istirahat cukup, tidur cukup untuk orang dewasa berusia 18 hingga 64 tahun dianjurkan untuk tidur selama 7-9 jam per harinya.

Selain itu, mengatur pola makan dengan gizi seimbang, minum cukup cairan supaya tidak mengalami dehidrasi, batasi konsumsi kafein serta alkohol, jangan merokok, dan luangkan waktu untuk rekreasi atau melakukan kegiatan relaksasi.

Jika Anda sudah memperbaiki pola makan dan gaya hidup, namun tetap mengalami mudah lelah selama lebih dari dua minggu, mungkin disebabkan oleh adanya penyakit.
Berikut ini sejumlah kondisi medis yang menyebabkan mudah lelah

1. Anemia
Kondisi kekurangan sel darah merah ini menimbulkan gejala umum berupa mudah lelah dan lesu. Anemia lebih sering dialami perempuan, terutama yang mengalami menstruasi dengan darah haid dalam jumlah banyak. Penyebab anemia lainnya adalah defisiensi zat besi, serta kekurangan vitamin B9 atau vitamin B12. Mengatasi mudah lelah akibat anemia bisa dilakukan dengan konsumsi suplemen serta makanan yang kaya zat besi.

2. Alergi
Gangguan alergi, seperti rhinitis, bisa menyebabkan mudah lelah. Selain itu, penderitanya juga akan sering pilek, sakit kepala, serta gatal-gatal. Untungnya, alergi ini mudah diatasi dan dikendalikan selama penyebab alergi diketahui. Penyebab yang umum meliputi debu, bulu binatang, jamur dan kapas, serta udara dingin. Hindari hal-hal tersebut untuk mencegah serangan alergi.

3. Apnea tidur
Salah satu gejala apnea tidur adalah mendengkur dengan keras saat tidur, diselingi dengan henti napas sesaat. Saat henti napas terjadi, penderita otomatis terbangun untuk menarik napas. Hal ini bisa terjadi berkali-kali selama tidur malam tanpa disadari oleh penderita. Dampaknya adalah mudah lelah dan selalu mengantuk di keesokan harinya. Apnea juga berdampak pada rendahya kadar oksigen dalam darah, sehingga memengaruhi kerja jantung dan otak. Kadangkala, mudah lelah menjadi satu-satunya keluhan penderita apnea saat memeriksakan diri ke dokter.

4. Fibromialgia
Penyakit ini menyebabkan mudah lelah jangka panjang (kronis), sakit pada otot dan titik-titik tertentu di tubuh, sulit tidur, dan depresi. Hingga saat ini, para pakar belum diketahui penyebab penyakit fibromialgia. Sampai sekarang pun, belum ada obat yang menyembuhkannya. Meredakan gejala fibromialgia bisa dilakukan dengan konsumsi obat-obatan dari dokter, menerapkan pola hidup sehat, dan mengontrol stres.

5. Penyakit jantung
Jika mudah lelah selalu timbul bahkan saat melakukan aktivitas fisik yang relatif ringan, Anda perlu mewaspadai adanya penyakit jantung. Butuh pemeriksaan medis dari dokter untuk mengetahuinya dengan pasti. Apabila penyebabnya memang masalah jantung, penggunaan obat-obatan dan membiasakan pola hidup sehat akan membantu Anda dalam mengatasi mudah lelah dan gejala gejala lainnya, serta bisa mengembalikan energi untuk beraktivitas.

Selain itu, sejumlah masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi, juga bisa berdampak pada munculnya rasa mudah lelah. Risiko menderita masalah kesehatan mental akan meningkat bila ada anggota keluarga Anda yang juga pernah mengalaminya. Perempuan yang baru melahirkan pun berisiko menderita depresi pascamelahirkan.

Kelelahan setelah beraktivitas berat memang wajar terjadi. Namun jika Anda mudah lelah tanpa alasan yang jelas, jangan meremehkan kondisi ini, terlebih disertai gejala-gejala mencurigakan lainnya.

Sumber: https://www.cantika.com/read/1247149/
pemicu-mudah-lelah-dari-gaya-hidup-dan-kesehatan-mental

Rabu, 11 September 2019

Wajah Anda Jenis Kulit Kombinasi? Ini Cara Pilih Pelembapnya

Rabu, 11 September 2019 16:50:00

Wajah Anda Jenis Kulit Kombinasi? Ini Cara Pilih Pelembapnya

Saat belanja di toko obat-obatan ataupun kosmetik, kita sudah sering terbantu dengan tulisan di label khusus kulit wajah kering, berminyak kering dan berminyak, atau normal. Namun untuk jenis kulit kombinasi kerap menemui tantangan tersendiri saat berbelanja produk perawatan kulit, seperti saat memilih pelembap.

Biasanya, jenis kulit kombinasi berarti beberapa area wajah Anda mungkin berminyak, sebagian mungkin kering, atau bahkan 'normal'. Minyak cenderung bertahan di zona-T, sementara pipi sering terasa kering.
Para ahli di Paula's Choice menjelaskan bahwa penyebab kulit kombinasi biasanya turun temurun, dan menggunakan produk-produk tertentu dapat membuat kulit tidak seimbang, sehingga meningkatkan kemungkinan Anda mengalami kulit kering dan berminyak.

Tidak mengherankan, dan mungkin karena alasan ini, ada peningkatan yang jelas pada kulit kombinasi.“Selama dekade terakhir kami telah mengamati peningkatan prevalensi kulit kombinasi di antara pelanggan kami, terutama di iklim yang lebih hangat, dan mereka merasa semakin sulit untuk mengelola jenis kulit yang menantang dan sering reaktif ini,” kata Manajer Inovasi dan Penelitian Aesop, Rebecca Watkinson, seperti dilansir dari laman Bustle.

Saat menggunakan pelembap, bagian kulit yang normal atau kering kulit Anda akan mendapat manfaat dari kelembapan, tetapi bagaimana dengan yang sedikit berminyak. "Bahkan jika itu tampaknya berlawanan dengan intuisi, jangan berhenti melembapkan jika Anda memiliki kulit berminyak, cenderung berjerawat," ucap Dr. Eric Schweiger, pendiri Schweiger Dermatology Group di New York City.

"Dengan melewatkan pelembap, kulit Anda akan kering dan pada gilirannya akan kembali dengan lebih banyak produksi minyak. Kondisi tersebut menyebabkan lebih banyak berjerawat."

Dalam hal jenis pelembap yang harus Anda gunakan, Mona Gohara, MD, associate professor klinis dermatologi di Yale, mengatakan ketika mencari pelembap terbaik untuk kulit kombinasi, cari pelembap kulit yang tidak membuat kulit terlalu jauh ke arah salah satu sisi spektrum.

"Bebas minyak adalah frasa utama, dan Anda harus selalu mencari hidrator yang lebih ringan, seperti losion dan serum, sebagai lawan dari produk yang lebih berat, seperti krim, balm, atau minyak,” ungkap Mona Gohara.

Sumber: https://www.cantika.com/read/1246032/ wajah-anda-jenis-kulit-kombinasi-ini-cara-pilih-pelembapnya

Selasa, 10 September 2019

4 Hal Penting yang Sering Terlewat dari Tumbuh Kembang Anak

Selasa, 10 September 2019 17:28:50

4 Hal Penting yang Sering Terlewat dari Tumbuh Kembang Anak

Di usia golden age anak antara 0-5 tahun, banyak orang tua yang mengeksplorasi kemampuan berbicara dan berbahasa pada anak. Seolah-olah hanya itu saja yang penting untuk terus diperbarui.

Padahal, ada empat hal penting terkait tumbuh kembang yang juga perlu terus dikawal orang tua. Apabila keempat hal ini tidak sesuai dengan anjuran dokter pediatri, maka bisa dipastikan anak butuh penangan khusus.

Dalam urusan tumbuh kembang, setiap anak tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya. Hal itu dipengaruhi oleh faktor genetik orang tua sebesar 30 persen.

Menurut dr. Mira Irmawati,SpA (K), spesialis anak dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Kendangsari Merr (RSIA Merr) Surabaya, empat unsur tersebut meliputi berat badan sesuai umur, tinggi badan anak sesuai umur, berat badan menurut tinggi badan, dan lingkar kepala yang bisa dilihat dalam range Kartu Menuju Sehat.

Menurut dr. Mira untuk memastikan normal atau tidaknya pertumbuhan seorang anak, orang tua harus mengikuti standar tumbuh kembang anak yang ditetapkan oleh para ahli atau dokter anak tentunya.

Dalam urusan tumbuh kembang, setiap anak tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya. Hal itu dipengaruhi oleh faktor genetik orang tua sebesar 30 persen.

"Kalau orang tuanya tidak sama tentu saja anaknya tidak akan sama. Jadi jangan membandingkan kok anak saya seperti ini, anak itu seperti itu. Karena tentu tidak sama," ujar dr. Mira.
Karena itu Kartu Menuju Sehat (KMS) bisa dijadikan patokan orang memantau tumbuh kembang anak.

"Tapi yang harus diperhatikan adalah jika ada lebih atau kurang dalam pertumbuhan anak, orang tua tidak boleh menyimpulkan sendiri. Melainkan harus dikonsultasikan pada dokter tumbuh kembang anak untuk mengetahui penyebab yang pasti," kata dr. Mira.

dr. Mira juga menyarankan para orang tua untuk melakukan pemeriksaan anak di usia tumbuh kembang secara rutin.

"Misalnya saja saat anak usianya di atas dua tahun itu bisa melakukan pemeriksaan rutin tiga bulan sekali," ucapnya.
Selain cara-cara di atas, para orang tua juga bisa menggunakan aplikasi yang telah dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bernama Prima.

*Sumber: kumparan.com