PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO

PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO

PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO


Senin, 05 Januari 2026

Ovulasi dan Masa Subur serta Kaitannya dengan Peluang Kehamilan

Ovulasi dan Masa Subur serta Kaitannya dengan Peluang Kehamilan

Senin, 05 Januari 2026

Ovulasi dan masa subur merupakan dua siklus yang saling berkaitan dengan peluang kehamilan seorang wanita.


Ovulasi adalah salah satu istilah medis yang bagi para wanita. Nah, istilah ini berkaitan erat dengan masa subur wanita. Sebab, masa subur wanita juga menjadi proses alami yang berkaitan dengan peluang kehamilan. 

Bagi kamu dan pasangan yang sedang merencanakan kehamilan atau justru ingin mencegahnya, kamu perlu memahami mengenai vulasi dan masa subur sekaligus kapan keduanya terjadi. 

Karena itu, tidak ada salahnya untuk memahami ovulasi dan masa subur serta kaitannya dengan peluang kehamilan lebih mendalam. 

Apa itu Ovulasi dan Masa Subur?

Ovulasi adalah fase dalam siklus menstruasi ketika ovarium melepaskan sel telur (ovum) yang sudah matang. Jadi bisa dikatakan, peristiwa pelepasan sel telur dari ovarium disebut ovulasi.

Setelah sel telur matang meninggalkan indung telur, sel telur tersebut bergerak ke saluran tuba falopi. 

Kemudian, sel telur matang aka menunggu terjadinya pembuahan oleh sperma.

Jika tidak terjadi pembuahan, sel telur dan lapisan dinding rahim akan luruh sehingga keluar sebagai darah menstruasi. Ovulasi rata-rata terjadi pada hari ke 14 dari 28 hari siklus menstruasi. 

Sebenarnya, masa subur seorang wanita erat kaitannya dengan ovulasi. Namun, perbedaannya terletak pada fakta bahwa masa subur yang berawal sekitar 5 hingga 7 hari sebelum terjadinya ovulasi. 

Sebagai gambaran, jika siklus menstruasi seorang wanita berlangsung selama 28 hari, biasanya masa subur dapat terjadi antara hari ke-10 hingga ke-14 dari siklus tersebut.

Memahami Proses Terjadinya Ovulasi

Ovulasi adalah salah satu tahap utama dalam siklus reproduksi wanita. Dalam proses ini, sebuah sel telur matang dilepaskan dari ovarium dan bergerak menuju tuba falopi. 

Proses ini biasanya terjadi sekali dalam satu siklus menstruasi, sekitar pertengahan siklus, atau pada hari ke-14 dari siklus yang berlangsung selama 28 hari. 

INi merupakan fase yang krusial untuk pembuahan, karena sel telur hanya dapat bertahan hidup selama 12 hingga 24 jam setelah dilepaskan.

Jika sperma berhasil membuahi sel telur dalam rentang waktu tersebut, kehamilan bisa terjadi.

Proses ini dipicu oleh peningkatan hormon luteinizing (LH), yang terjadi akibat perubahan kadar estrogen dalam tubuh.

Saat sel telur dilepaskan, lendir serviks juga berubah menjadi lebih encer dan licin, memudahkan sperma bergerak menuju sel telur.

Mengenal Tanda-Tanda Ovulasi

Tanda-tanda ovulasi dapat bervariasi antara wanita. Namun, ada beberapa tanda umum yang dapat muncul, seperti:

1. Perubahan cairan serviks

Cairan serviks yang menyerupai “putih telur” merupakan tanda seorang wanita mendekati masa ovulasi atau sedang mengalaminya. 

Setiap wanita bisa mengalami jenis cairan serviksnya masing-masing, dan tidak semua cairan serviks terlihat sama. 

Biasanya, proses ini terjadi pada hari ketika wanita memiliki jumlah cairan basah paling banyak. 

2. Perubahan suhu basal tubuh

Suhu basal tubuh adalah suhu tubuh terendah yang dapat dicapai saat istirahat.

Untuk mengetahui masa ovulasi dan masa subur, kamu dapat memeriksa suhu basal tubuh.

Bagi kebanyakan wanita, suhu basal tubuh cukup konsisten sebelum ovulasi.

Saat mendekati masa ovulasi, suhu basal ini mungkin mengalami sedikit penurunan. Namun, hal ini akan diikuti oleh peningkatan tajam setelah proses alami ini. 

Peningkatan suhu merupakan tanda bahwa proses ini baru saja terjadi.

Melacak suhu basal tubuh secara akurat selama beberapa bulan dapat membantu seorang wanita memperkirakan kapan siklus ini akan terjadi.

3. Perubahan posisi atau kekencangan serviks

Serviks mengalami banyak perubahan saat wanita berovulasi. Selama periode ini, leher rahim akan menjadi lunak, tinggi, terbuka, dan basah. 

Bagi sebagian besar wanita, diperlukan waktu untuk dapat membedakan seperti apa serviks biasanya dan perubahan yang terjadi selama siklus ini.

4. Perubahan lainnya 

Selain beberapa tanda sebelumnya, masih ada beberapa indikasi lainnya kalau seorang wanita mengalami ovulasi, meliputi: 

  • Perubahan sensasi di area panggul. Beberapa wanita melaporkan perasaan berat atau sensasi tertentu di daerah panggul selama ovulasi.
  • Peningkatan gairah seksual. Beberapa wanita merasa peningkatan gairah seksual selama ovulasi.
  • Perdarahan flek. Beberapa wanita mengalami perdarahan kecil atau flek selama ovulasi, yang dikenal sebagai perdarahan ovulasi.

Cara Mengetahui Masa Ovulasi

Jika kamu ingin melacak masa ovulasi, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Memeriksa siklus menstruasi

Mengetahui siklus menstruasi adalah langkah awal yang penting dalam melacak masa ovulasi. 

Jika siklus menstruasi teratur, yakni berlangsung selama 28 hari, ovulasi umumnya terjadi pada hari ke-14. 

Namun, setiap wanita bisa memiliki siklus yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk melacak siklus selama beberapa bulan untuk mendapatkan pola yang lebih akurat. 

Ovulasi biasanya terjadi sekitar 12 hingga 16 hari sebelum menstruasi berikutnya dimulai.

2. Metode perhitungan kalender

Nah, metode kalender adalah cara sederhana untuk memperkirakan masa subur dengan menghitung mundur dari tanggal menstruasi berikutnya. 

Metode ini lebih efektif untuk wanita yang memiliki siklus menstruasi yang teratur.

Caranya adalah dengan mencatat kapan menstruasi terakhir dimulai, kemudian menghitung mundur 14 hari untuk menemukan perkiraan hari ovulasi. 

Sebagai contoh, jika siklus menstruasi berlangsung selama 30 hari, maka ovulasi kemungkinan terjadi pada hari ke-16.

3. Menggunakan ovulation test kit

Untuk lebih akurat, kamu bisa menggunakan ovulation test kit.

Alat ini mendeteksi kadar hormon luteinizing (LH) dalam urine, yang umumnya meningkat tajam sekitar 24 hingga 36 jam sebelum ovulasi. 

Tes ini sangat membantu, terutama bagi wanita yang memiliki siklus tidak teratur. Sebab, alat ini bisa mendeteksi kapan tubuh sedang dalam masa subur.

Studi Terkait Prediksi Ovulasi

Studi yang dipublikasikan dalam Fertility and sterility, meneliti cara menentukan waktu yang paling tepat untuk mengambil sel telur dari ovarium wanita. 

Dengan menggabungkan berbagai metode seperti pemantauan hormon (LH, estradiol, dan progesteron), pemeriksaan ultrasonografi, dan pengambilan sampel cairan folikel, para peneliti menemukan bahwa waktu terbaik untuk mengambil sel telur adalah sekitar 28 jam setelah terjadi peningkatan kadar hormon LH. 

Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak selalu diperlukan peningkatan kadar LH yang sangat signifikan untuk memicu ovulasi.

Selain itu, kenaikan kadar hormon progesteron setelah peningkatan LH dapat menjadi indikator yang baik bahwa ovulasi telah terjadi. 

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang proses ovulasi dan dapat membantu para dokter menentukan waktu yang paling optimal untuk melakukan prosedur medis seperti bayi tabung, sehingga meningkatkan keberhasilannya.

Kaitan Ovulasi dengan Peluang Kehamilan

Bagi pasangan yang mencoba untuk hamil, mengetahui kapan ovulasi terjadi dapat membantu mereka menentukan waktu terbaik untuk berhubungan seksual dan meningkatkan peluang kehamilan. 

Sebaliknya, bagi mereka yang ingin mencegah kehamilan, hindari berhubungan seksual selama masa subur bisa menjadi metode kontrasepsi yang efektif.

Sebab, ketika ovulasi terjadi, sel telur bergerak melalui saluran tuba. Di tuba falopi, sel telur bertemu dengan sperma untuk pembuahan. Selama ovulasi, peluang terjadinya kehamilan meningkat secara signifikan. 

Sebab, masa subur biasanya terjadi beberapa hari sebelum ovulasi dan beberapa hari setelahnya.

Nah, sel sperma dapat bertahan dalam tubuh wanita selama beberapa hari sampai akhirnya memicu pembuahan sel telur.  

Jika terjadi pembuahan, setelah sekitar satu minggu, proses implantasi embrio akan dimulai.  Kemudian, tubuh akan melepaskan hormon estrogen dan progesteron.

Kedua hormon ini menyebabkan penebalan endometrium yang berperan penting dalam menyediakan nutrisi yang blastokista butuhkan untuk tumbuh sampai menjadi bayi. 

Bagi kamu yang sedang merencanakan kehamilan, ada sejumlah cara yang juga bisa meningkatkan peluangnya.

Kondisi Medis yang Dapat Memengaruhi Proses Ovulasi 

Beberapa kondisi medis dapat memengaruhi ovulasi, antara lain:

  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS). Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mengganggu ovulasi atau membuatnya tidak teratur.
  • Gangguan tiroid. Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) atau kurang aktif (hipotiroidisme) dapat mempengaruhi siklus ovulasi.
  • Stres. Tingkat stres yang tinggi bisa menghambat pelepasan hormon yang diperlukan untuk ovulasi.
  • Berat badan ekstrem. Baik kelebihan berat badan maupun terlalu kurus dapat memengaruhi produksi hormon dan menghentikan ovulasi.


Sumber : halodoc.com

Sabtu, 03 Januari 2026

Ketahui Cara Menghitung Defisit Kalori untuk Turunkan Berat Badan

Ketahui Cara Menghitung Defisit Kalori untuk Turunkan Berat Badan

Sabtu, 03 Januari 2026

Menghitung defisit kalori perlu dilakukan secara bertahap agar hasil penurunan berat badan lebih aman.


Defisit kalori merupakan konsep dasar yang penting dalam program penurunan berat badan. 

Tanpa memahami defisit kalori, usaha diet dan olahraga sering kali terasa sia-sia karena berat badan tidak kunjung turun atau justru naik kembali.

Yuk, simak bagaimana cara menghitung defisit kalori di bawah ini!

Begini Cara Hitung Defisit Kalori

Menghitung defisit kalori perlu dilakukan secara bertahap agar hasil penurunan berat badan lebih aman dan berkelanjutan. 

Berikut langkah-langkahnya lengkap dengan rumus yang bisa kamu gunakan.

1. Hitung Basal Metabolic Rate (BMR)

BMR adalah jumlah kalori minimum yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi dasar, seperti bernapas, detak jantung, dan metabolisme saat istirahat total.

Rumus BMR yang umum digunakan adalah rumus Mifflin-St Jeor:

Untuk pria:

BMR = (10 × berat badan dalam kg) + (6,25 × tinggi badan dalam cm) − (5 × usia dalam tahun) + 5

Untuk wanita:

BMR = (10 × berat badan dalam kg) + (6,25 × tinggi badan dalam cm) − (5 × usia dalam tahun) − 161

Contoh:

Seorang wanita berusia 30 tahun, berat badan 65 kg, tinggi badan 160 cm:

BMR = (10 × 65) + (6,25 × 160) − (5 × 30) − 161

BMR = 650 + 1000 − 150 − 161 = 1.339 kalori

Artinya, tubuh membutuhkan sekitar 1.339 kalori per hari untuk bertahan hidup tanpa aktivitas.

2. Hitung Total Daily Energy Expenditure (TDEE)

TDEE adalah total kalori yang dibutuhkan tubuh dalam sehari, termasuk aktivitas fisik. 

Untuk menghitungnya, kalikan BMR dengan faktor aktivitas berikut:

  • Sangat jarang olahraga: BMR × 1,2
  • Aktivitas ringan (1–3x/minggu): BMR × 1,375
  • Aktivitas sedang (3–5x/minggu): BMR × 1,55
  • Aktivitas berat (6–7x/minggu): BMR × 1,725
  • Aktivitas sangat berat: BMR × 1,9

Contoh:

Jika BMR = 1.339 kalori dan aktivitas sedang:

TDEE = 1.339 × 1,55 = 2.075 kalori

Artinya, untuk menjaga berat badan, kamu membutuhkan sekitar 2.075 kalori per hari.

3. Tentukan Target Defisit Kalori

Setelah mengetahui TDEE, langkah selanjutnya adalah menentukan defisit kalori. Defisit yang dianjurkan umumnya berkisar 300–500 kalori per hari.

  • Defisit 300 kalori → penurunan berat badan lebih lambat tapi stabil
  • Defisit 500 kalori → penurunan berat badan lebih optimal dan masih aman

Contoh:

Jika TDEE = 2.075 kalori:

  • Defisit 300 → target konsumsi = 1.775 kalori/hari
  • Defisit 500 → target konsumsi = 1.575 kalori/hari

Target inilah yang menjadi acuan jumlah kalori harian dari makanan dan minuman.

Manfaat Menghitung Defisit Kalori untuk Turunkan Berat Badan

Menghitung defisit kalori bukan sekadar soal mengurangi porsi makan. 

Jika dilakukan dengan tepat, cara ini memberikan banyak manfaat bagi kesehatan secara keseluruhan.

1. Membantu Penurunan Berat Badan Lebih Terarah

Defisit kalori terjadi ketika jumlah kalori yang masuk ke tubuh lebih sedikit dibandingkan kalori yang dibakar. 

Dengan menghitungnya secara sadar, kamu memiliki target yang jelas, bukan sekadar menebak-nebak apakah pola makanmu sudah “cukup diet” atau belum.

2. Menghindari Diet Ekstrem

Banyak orang tergoda untuk memangkas kalori secara drastis agar berat badan cepat turun. 

Padahal, defisit kalori yang terlalu besar justru bisa memperlambat metabolisme, memicu rasa lelah, hingga meningkatkan risiko kehilangan massa otot.

Dengan perhitungan yang tepat, kamu bisa menurunkan berat badan secara bertahap dan lebih aman.

3. Menjaga Massa Otot

Defisit kalori yang terkontrol, terutama jika disertai asupan protein cukup dan latihan kekuatan, membantu tubuh membakar lemak tanpa mengorbankan massa otot. 

Hal ini penting agar tubuh tetap bugar dan metabolisme tetap optimal.

4. Membantu Mengontrol Pola Makan

Saat terbiasa menghitung defisit kalori, kamu akan lebih sadar terhadap apa yang dikonsumsi setiap hari. 

Kesadaran ini membantu mengurangi kebiasaan ngemil berlebihan, makan emosional, dan konsumsi kalori tersembunyi dari minuman manis. 

5. Mendukung Kesehatan Jangka Panjang

Penurunan berat badan yang sehat dapat menurunkan risiko berbagai penyakit, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, serta gangguan sendi. 

Defisit kalori yang tepat menjadi fondasi penting untuk mencapai manfaat ini.

Kapan Harus ke Dokter?

Kamu sebaiknya mempertimbangkan konsultasi ke dokter jika:

  • Berat badan tidak turun meski sudah menghitung defisit kalori dengan benar
  • Mengalami kelelahan berlebihan, pusing, atau gangguan menstruasi
  • Memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti diabetes, gangguan tiroid, atau masalah hormon
  • Sedang menjalani program penurunan berat badan dalam jumlah besar


Sumber : halodoc.com