Pages

Selasa, 31 Desember 2019

3 Tipe Perempuan Kekinian, Apa Saja?

Selasa, 31 Desember 2019 16:16:22

3 Tipe Perempuan Kekinian, Apa Saja?

Kini perempuan semakin bebas mengekspresikan diri. Cara untuk mengekspresikan diri tersebut bermacam-macam: bisa lewat penampilan, hobi, koleksi, dan lain-lain. Apalagi, dengan pesatnya perkembangan teknologi, perempuan semakin mudah berekspresi lewat media sosial dan mengikuti tren kekinian.

Karena berbagai cara untuk mengekspresikan diri tersebut, perempuan pun memiliki beragam karakteristik yang unik. Berikut beberapa tipe perempuan kekinian yang mungkin Anda temui sehari-hari — atau, justru Anda adalah salah satunya.

Perempuan feminin

Kalau Anda menyukai film asmara, indahnya Paris, serta lebih nyaman berpenampilan manis, Anda bisa jadi merupakan tipe perempuan feminin. Perempuan feminin juga biasanya menyukai hal-hal romantis seperti kejutan dari si dia atau orang-orang tercinta.

Untuk penampilan yang semakin berkesan feminin, Anda bisa gunakan body mist PARIS Escape dari Imperial Leather yang didesain untuk gaya feminin Anda, yang terinspirasi dari Paris sebagai kota romantis, dengan sentuhan sweet floral dan fruity scent.

Perempuan elegan

Perempuan elegan suka dengan gaya hidup berkesan eksklusif dan mewah. Biasanya penampilannya pun berkelas, misalnya dengan gaya modern retro look agar tetap tampil elegan namun kekinian.

London Adore dari Imperial Leather bisa jadi pilihan untuk perempuan bernuansa elegan. Terinspirasi dari kota London yang mewah nan megah, body mist tersebut memiliki harum red berries, fruity, dan floral yang tak terlupakan.

Perempuan energik

Suka bergerak cepat, memiliki beragam aktivitas, serta suka bergaul adalah beberapa ciri perempuan energik. Perempuan energik dikenal tangguh dan tidak mudah menyerah. Penampilannya pun dinamis dan sporty dalam mobilitasnya yang tinggi.

Kalau Anda termasuk perempuan energik, gunakanlah New York Invigorating yang merupakan varian terbaru Imperial Leather dan terinspirasi oleh kota New York yang sibuk dan seolah tak pernah mati. Body mist ini memiliki aroma segar red berries, fruity, dan floral yang siap menemati aktivitas Anda.

Apapun tipe perempuan yang Anda miliki, wanginya body mist dari Imperial Leather membantu Anda semakin gaya dan kekinian, tentunya dengan berbagai varian yang menarik untuk dipilih.

*Sumber: kumparan.com

Sabtu, 28 Desember 2019

Musim Hujan, Cegah Flu dengan Rajin Cuci Tangan dan 6 Hal Lain

Sabtu, 28 Desember 2019 18:06:54

Musim Hujan, Cegah Flu dengan Rajin Cuci Tangan dan 6 Hal Lain

Banyak yang beranggapan tubuh lebih rentan penyakit, seperti flu atau infulenza saat musim hujan. Sebenarnya musim hujan dan hawa dingin, bukanlah penyebab flu. Penyebabnya adalah virus influenza dan kondisi cuaca, seperti hujan dan hawa dingin, hanya ‘mendukung’ terjadinya penularan.

Di negara tropis, flu dapat terjadi sepanjang tahun. Namun studi menemukan, flu salah satunya memang sering terjadi di musim hujan dengan kondisi udara yang lembap. Lalu, mengapa banyak orang mengalami flu di musim hujan?

Satu hipotesis terkait hal ini adalah, saat musim hujan orang-orang cenderung menghabiskan waktu di dalam ruangan. Hal ini menyebabkan kita lebih sering kontak satu sama lain sehingga penularan penyakit pun juga meningkat.

Langkah terbaik untuk mencegah flu, termasuk di musim hujan, adalah dengan menjalankan gaya hidup sehat dan bersih seperti berikut.

1. Rajin mencuci tangan

Virus dapat bertahan di permukaan benda padat selama 24 jam, sehingga Anda harus rajin dalam membersihkan tangan. Beberapa waktu yang penting untuk mencuci tangan adalah sebelum menyiapkan makan, sebelum makan, sebelum menyentuh area wajah, serta usai menggunakan toilet.

2. Gunakan hand sanitizer

Kadang Anda terlalu repot untuk mencuci tangan ke kamar mandi. Solusinya, Anda bisa menyiapkan hand sanitizer di meja kerja atau di tas. Pilihlah hand sanitizer yang setidaknya mengandung 60% alkohol.

Sebelum Anda menyentuh wajah, saat hendak makan, atau setelah dan sebelum menyentuh orang lain, pastikan hand sanitizer dioleskan di kedua tangan.

3. Kuatkan sistem imun

Sistem imun yang kuat dapat melawan infeksi yang masuk ke tubuh. Saat Anda sudah terinfeksi virus pun, sistem imun juga akan mencegah agar infeksi tersebut tak kian parah.

Ada banyak cara untuk menguatkan sistem imun dan mencegah flu, yaitu dengan konsumsi makanan sehat, terutama yang kaya dengan vitamin dan molekul antioksidan. Buah dan sayuran juga harus rutin dikonsumsi tiap harinya. Istirahat yang cukup, yakni sekitar 7-9 jam per hari.

Jangan lupa rutin berolahraga. Tak usah berlebihan, Anda bisa berolahraga selama 30 menit dalam sehari sebanyak tiga kali dalam seminggu.

4. Berhenti merokok

Musim hujan kali ini dapat menjadi momentum Anda untuk berhenti merokok. Tak hanya demi mencegah flu, namun juga mencegah penyakit lain yang dapat merusak organ. Rokok dapat memengaruhi sistem imun tubuh yang membuat Anda lebih rentan untuk terserang flu maupun pilek atau common cold.

5. Gunakan masker

Menurut studi, masker dapat membantu Anda untuk mencegah flu. Anda bisa mengenakan masker apabila rutin bepergian menggunakan transportasi umum dan saat Anda berada di keramaian.

Saat di kantor dan ada rekan Anda yang sudah terkena flu, menggunakan masker juga tak ada salahnya. Anda yang sudah terkena flu dan pilek pun sebaiknya mengenakan masker agar tak menularkan ke orang lain.

Pastikan Anda sudah paham cara menggunakan masker dengan benar, yakni sisi biru atau hijau di luar, dan sisi putih di dalam.

6. Dapatkan vaksin flu tahunan

Virus flu yang beredar kadang dapat berubah seiring waktu. Dengan demikian, vaksin flu penting dilakukan untuk menurunkan risiko Anda tertular penyakit ini, bisa didapatkan di berbagai fasilitas kesehatan terdekat.

Selain vaksin flu, Anda juga boleh menanyakan kepada dokter vaksin PCV. Vaksin ini dapat menurunkan risiko Anda terserang meningitis, pneumonia, dan infeksi lainnya.

Sumber: https://www.cantika.com/read/1287797/
musim-hujan-cegah-flu-dengan-rajin-cuci-tangan-dan-6-hal-lain

Kamis, 26 Desember 2019

Berencana Menikah Tahun 2020, Sudah Siap?

Kamis, 26 Desember 2019 17:33:07

Berencana Menikah Tahun 2020, Sudah Siap?

Tahun baru, harapan baru. Banyak yang berkeyakinan seperti itu, hingga akhirnya menuliskan banyak resolusi atau harapan yang disemogakan supaya tercapai di tahun yang baru. Buat para fakir asmara alias kaum jomlo, atau pun yang sudah pacaran lama melebihi kredit motor, biasanya salah satu harapannya berbunyi "menikah di tahun ini".

Harapan tersebut makin membuat pemiliknya senyum-senyum sendiri, saat mengingat ada banyak tanggal cantik di 2020, seperti 2 Februari 2020 (02-02-2020) atau 20 Februari 2020 (20-02-2020). Bagi perempuan, berharap sang pujaan hati segera datang melamar, dan bagi pria, berharap segera diberi kesiapan yang matang untuk datang melamar.

Tapi, apakah kamu sudah siap menikah di tahun 2020?

Nikah bukan cuma soal “ena-ana” saja, lho. Selepas pesta pernikahan yang katanya kamu dan dia jadi “Raja dan Ratu” sehari, akan ada banyak tantangan selanjutnya. Cicilan rumah tangga, gunjingan tetangga kalau tak segera punya anak, tanggungan orangn tua, belum lagi mahalnya biaya pendidikan untuk anak kelak.

Berita bahagianya, kamu tidak lagi sendiri. Ada pasanganmu yang siap sedia menemanimu di kala resah, mendukungmu di kala gelisah, dan mendengarkanmu di kala gundah. Meski terdengan menyenangkan, coba tanyakan betapa besar efeknya pada yang sudah menikah dengan orang yang tepat.

Tanpa panjang-lebar, simak saran dan masukan tentang apa-apa yang kamu butuhkan untuk merealisasikan harapanmu menikah di tahun 2020.

1. Ilmu

Apa pun di dunia ini ada ilmunya, termasuk ilmu pernikahan, seperti ilmu manajemen rumah tangga, ilmu parenting, dan lain-lain. Nah, menikah adalah sebuah amal ibadah, maka sebelum mengamalkannya harus ada ilmunya terlebih dahulu.

2. Fisik

Setelah menikah, akan ada tambahan peran bagi diri kita baik sebagai istri atau suami. Peran-peran ini diikuti berbagai tanggung jawab, misal, istri bertanggung jawab mengurus rumah dan suami, dan suami bekerja giat untuk mencari nafkah. Maka tanggung jawab ini akan berjalan maksimal ketika didukung oleh fisik yang sehat dan kuat. Belum lagi ketika dikaruniai anak, tentu peran dan tanggung jawab pun semakin bertambah.

3. Psikis

Tentu akan banyak ujiannya ketika dua orang yang tadinya asing disatukan dalam satu ikatan, dengan dua kebiasaan yang berbeda, dua kepribadian dan dua pemikiran yang berbeda. Maka pengendalian emosi tentu jadi salah satu bekal yang harus dimiliki. Kesiapan mental atau psikis adalah hal yang perlu disiapkan.

4. Finansial

Terutama bagi para laki-laki yang memiliki kewajiban menafkahi keluarga. Finansial di sini tidak hanya tentang harta yang sudah banyak, tapi bagaimana laki-laki sebagai calon suami dapat berdaya dan memberdayakan dirinya sehingga mampu menafkahi keluarga. Untuk perempuan sebagai calon istri, ilmu manajemen keuangan keluarga harus mulai disiapkan sebelum menikah.

Satu lagi. Akan lebih baik saat kamu dan pasangan sudah saling mengenal diri sendiri dan satu sama lain. Ditambah, kamu dan dia tahu di bidang apa kalian akan luar biasa saat bekerja sama. Kamu bisa mengajak calonmu untuk mengikuti Talents Mapping for Couple untuk mengetahuinya, di sini.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 24 Desember 2019

Ini 10 Kalimat Menyakitkan yang Ibu Dapat dari Ibu Lain

Selasa, 24 Desember 2019 16:37:01

Ini 10 Kalimat Menyakitkan yang Ibu Dapat dari Ibu Lain

Menjadi ibu memang banyak tantangannya. Selain harus mengurus anak dan keluarga, Anda mungkin juga harus menghadapi kritikan orang lain terkait pola pengasuhan yang Anda terapkan. Perilaku yang bisa menyudutkan ibu seperti itu, dikenal dengan istilah mom shaming. Misalnya saja,

"Kok anaknya kurus banget, enggak bener ya ngasih makannya,"

atau "Kok anaknya umur segini belum bisa baca, anak saya udah jago lho."

Hal seperti itu, sedihnya lagi, kerap kali juga diucapkan oleh sesama ibu. Padahal, apa gunanya sih, mengucapkan hal-hal menyudutkan seperti itu? Kita sesama ibu, harusnya saling mendukung bukan saling menjatuhkan!
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan di akun Instagram @kumparanMOM, berikut adalah 10 kalimat menyakitkan yang pernah didengar ibu dari sesama ibu lainnya.

1. "Hamil terus kayak kucing, nanti anaknya enggak keurus lho"

Kalimat seperti ini memang tak perlu diutarakan ke sesama ibu, apalagi menyamakannya dengan hewan. Ingin punya berapa anak adalah hak setiap pasangan dan hak ibu atas tubuhnya. Tentu mereka sudah punya pertimbangan masing-masing, jadi tak perlu dikomentari ya, Moms.

2. "Lebar banget badannya pas hamil"

Kenaikan berat badan saat hamil adalah hal yang sangat wajar. Tenang saja, jika sudah melahirkan nanti, Anda bisa kok mengembalikan bentuk tubuh dengan berolahraga dan menerapkan pola makan sehat.

3. "Badannya jelek banget deh habis melahirkan"

Meski sudah melahirkan, bukan berarti badan Anda langsung balik ke ukuran normal ya, Moms. Semua butuh proses. Nikmati saja momen-momen mengurus si kecil dan tak usah terlalu mempedulikan omongan orang lain tentang bentuk tubuh Anda.

4. "Melahirkannya caesar? Wah belum jadi ibu seutuhnya"

Melahirkan normal vs melahirkan caesar masih jadi bahan mom shaming yang cukup populer. Padahal tak ada yang perlu dipermasalahkan dari kedua metode melahirkan itu, karena nyatanya Anda tetaplah seorang ibu yang akan membesarkan bayi Anda.

Bagi banyak kasus, melahirkan caesar bahkan diperlukan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan Anda dan janin. Jadi, tak perlu lagi berkomentar soal metode melahirkan seorang ibu ya, Moms. Lebih baik memberinya semangat agar cepat pulih setelah proses persalinan.

5. "Bayinya nangis terus, ASI-nya gak keluar ya?"

Komentar seperti ini juga kerap didengar ibu baru. Padahal, bayi baru lahir bisa menangis karena banyak alasan, bukan melulu karena lapar, Moms. Mungkin saja karena popoknya basah, karena kedinginan, atau karena sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berbeda dari kondisi saat di dalam rahim ibu.

6. "Payudaranya kecil, emang ada ASI-nya?"

Tak perlu ditanggapi jika ada ibu yang berkomentar seperti ini. Karena faktanya, ukuran dan bentuk payudara seorang wanita tidak mempengaruhi kuantitas ASI di dalamnya. Yakin saja kalau ASI yang Anda produksi cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.

7. "Enggak bisa mandiin anak ya, harus sewa pembantu segala"

Moms, Anda yang tahu tentang kondisi Anda, maka Anda pula yang paling mengetahui kapan Anda membutuhkan bantuan. Tak ada yang salah jika Anda membutuhkan pengasuh bayi untuk memudahkan pekerjaan Anda sebagai seorang ibu.

8. "Manja banget anakanya, makanya biasain untuk bla bla...."

Komentar seperti ini bisa jadi sangat menyebalkan, apalagi jika orang yang memberikan komentar kemungkinan besar tidak tahu pola pengasuhan yang Anda terapkan. Berikan saja senyuman pada ibu lain yang memberikan komentar seperti ini dan anggap saja angin lalu, Moms. 

9. "Anaknya kok kurus banget sih"

Mendapat kritikan soal bentuk fisik anak umumnya jadi hal yang sangat sensitif bagi banyak ibu. Tapi tenang saja, Moms. Komentar seperti ini tidak perlu ditanggapi serius.
Ingat, anak yang gendut bukan berati lebih sehat. Sehingga pastikan saja, Anda memenuhi kebutuhan nutrisi anak dan pantau terus tumbuh kembangnya sesuai usia.

10. "Ibu rumah tangga enak ya, enggak usah kerja"

Satu lagi topik mom shaming yang tampaknya masih sering dilontarkan, yaitu ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Hal ini sebetulnya tak perlu dipermasalahkan, sebab seperti yang sudah dijelaskan di atas, setiap ibu punya tantangannya masing-masing dalam menjalankan perannya.

Ibu bekerja tidak boleh merendahkan ibu rumah tangga karena tidak bekerja. Pun sebaliknya, ibu rumah tangga tidak boleh memberikan label buruk pada ibu bekerja karena tidak mendampingi anaknya terus menerus selama 24 jam.

Jadi, Moms, jangan ada lagi mom shaming di antara kita. Jika ada komentar 'pedas' dari ibu lainnya, tak perlu ditanggapi serius. Yakinlah bahwa kita bisa menjadi ibu terbaik versi diri kita masing-masing. Teruslah mencari beragam informasi terpercaya dan jangan sungkan untuk selalu memperbaiki diri.

Pun sebagai seorang ibu, jangan pernah kita memberikan komentar atau kritikan yang bisa menyudutkan ibu lain. Karena ingat, sesama ibu harusnya saling mendukung, Moms!

*Sumber: kumparan.com

Sabtu, 21 Desember 2019

Parenting Islami: Cara Terbaik Menasihati Anak Menurut Surat Luqman

Sabtu, 21 Desember 2019 18:02:00

Parenting Islami: Cara Terbaik Menasihati Anak Menurut Surat Luqman

Menasihati anak harus dilakukan dengan benar. Terkait hal itu, agama Islam juga mengaturnya di dalam Al-Quran, Moms. Dalam surat Luqman dijelaskan ada beberapa poin penting yang bisa dipetik orang tua saat menyampaikan nasihat pada anak.

"Kalau kita lihat dalam surat Luqman itu ada poin unsur parenting islaminya. Karena digambarkan dalam Al-Quran seorang Luqman itu memberikan nasihat kepada anaknya," ujar Ustaz Erick Yusuf kepada kumparanMOM, Senin (16/12).

Menurut Pimpinan Dakwah Kreatif iHAQi ini ternyata Surat Luqman ini tidak hanya menjelaskan nasihat apa yang sebaiknya diberikan pada anak, tetapi juga memberikan panduan bagi orang tua dalam menyampaikan nasihat pada anak.

"Kalau kita gali lebih jauh ternyata bukan soal menasihati saja. Ternyata ini memberikan nasihat dengan cara yang baik, memberikan poin-poin kebaikan dengan cara yang baik pula. Artinya sering kali kita dalam komunikasi itu miss karena kita tidak dorong dengan cara yang baik," kata Ustaz yang juga produser film 'Hayya: the Power of Love 2'.

Jangan menasihati anak saat orang tua dalam keadaan emosi, sebab kata Ustaz Erick Yusuf, tentu anak tidak akan menangkap pesan apa yang ingin disampaikan oleh orang tuanya. Artinya saat menasihati anak, usahakan Anda menyampaikan dengan cara yang baik pula, serta dengan rasa penuh kasih sayang.

"Harusnya pesannya bener dan caranya juga bener," katanya.

Selain itu, perhatikan pula momen atau waktu saat menyampaikan nasihat pada si kecil, Moms. Tentu tidak mungkin Anda menyampaikan pesan saat mood Anda atau si kecil sedang buruk. Tidak mungkin pula menasihati anak misalnya di depan khalayak umum yang bisa menjatuhkan harga diri anak.

"Kalau dikembangkan, itu juga bukan hanya memberikan nasihat dan cara nasihat yang baik, tetapi soal waktu yang tepat juga," jelas Ustaz Erick Yusuf.

Nah, untuk menerapkan nilai-nilai ini pada anak, menurut Ustaz Erick Yusuf, diperlukan kerja sama yang baik antara ibu dan ayah. Ayah berperan sebagai orang yang menanamkan nilai-nilai kebaikan pada si kecil. Sedangkan ibu berperan sebagai pengingat anak mengenai kebaikan yang telah ditanamkan oleh ayah, Moms.

"Intinya secara garis besar bagaimana faktor ayah yang memberikan pesan secara prinsip-prinsip. Jadi, ibu yang mengingatkan anak prinsip-prinsip yang ditanamkan oleh ayahnya," katanya.

Bila orang tua bisa menerapkan cara ini pada anak-anaknya, Ustaz Erick Yusuf yakin bahwa anak akan menerima dengan baik nasihat yang disampaikan oleh orang tuanya. Sehingga si kecil mudah menerapkan nilai-nilai kehidupan terbaik yang telah diberikan oleh ibu dan ayahnya.

"Yang saya angkat di sini adalah caranya bagaimana menanamkan kebaikan, komunikasi pembicara itu membekas masuk ke dalam hati anak. Cara Luqman bicara ke anaknya dan membekas pada anaknya," ujar Ustaz Erick sambil mengakhiri perbincangan.

Jadi, ada tiga hal yang bisa Anda petik dari Surat Luqman dalam menasihati anak menurut Ustaz Erick Yusuf, Moms. Pertama, adalah isinya atau kontennya. Kedua bagaimana cara menyampaikannya dengan rasa kasih sayang dan ketiga adalah momennya.

*Sumber: kumparan.com

Jumat, 20 Desember 2019

Penyebab Bayi Baru Lahir Sulit Tidur di Malam Hari

Jum'at, 20 Desember 2019 17:28:09

Penyebab Bayi Baru Lahir Sulit Tidur di Malam Hari

Bayi yang baru lahir setidaknya membutuhkan 14-18 jam sehari untuk tidur. Panjangnya waktu tersebut terbagi saat malam dan siang hari. Ya Moms, jumlah tidur yang cukup bisa membuat bayi lebih sehat dan menunjang perkembangannya baik secara mental maupun fisik.

Walaupun sebenarnya bayi memang lebih banyak tidur, namun ada juga bayi yang sulit tidur di malam hari.
Hal tersebut mungkin bisa membuat Anda dan suami kewalahan, sebab Anda menjadi kurang tidur dan tidak berstamina di pagi atau siang hari.

Nah Moms, dilansir Babygaga, berikut adalah beberapa penyebab bayi baru lahir sulit tidur di malam hari.
Bayi menangis

Terlalu banyak tidur di siang hari

Usahakan agar si kecil tidak tidur terlalu lama di siang hari. Terlalu banyak tidur di siang hari bisa membuat bayi susah tidur di malam hari. Namun jika bayi Anda masih sulit untuk tidur, cobalah untuk melakukan stimulasi seperti mengayun-ayun bayi sebelum masuk waktu tidurnya atau bisa juga memakaikan pengharum ruangan aroma lavender untuk menenangkannya.

Kamar terlalu panas atau dingin

Sama seperti orang dewasa, kamar tidur yang terlalu panas atau dingin bisa membuat tidur jadi tidak nyenyak. Oleh karena itu, usahakan untuk mengatur suhu kamar tidur bayi atau kamar tidur Anda berkisar antara 25-28 derajat celsius, Moms.

Bayi mengalami GERD

Penyakit GERD atau gastroesophageal reflux merupakan penyakit lambung yang mungkin menjadi penyebab si kecil sulit tidur sepanjang malam. Bila bayi Anda terindikasi GERD, cobalah untuk menjaga posisinya tetap tegak selama 30 menit setiap setelah menyusu dan sebelum meletakkannya di tempat tidur, Moms.

Bayi lapar

Salah satu penyebab umum bayi tidak bisa tidur di malam hari adalah karena lapar. Bayi baru lahir memang membutuhkan lebih banyak ASI daripada bayi yang sudah mendapat MPASI. Anda bisa memperhatikan frekuensi si kecil menyusu.

Di bulan pertama, bayi biasanya menyusu sebanyak 8-12 kali sehari. Jika Anda ingin menyusui sebelum menidurkannya, pastikan Anda menunggu setidaknya 30 menit sebelum membaringkannya di tempat tidur.
ilustrasi Bayi

Bayi tak nyaman karena gas

Ada banyak faktor yang membuat bayi tak nyaman bila ingin tidur, salah satunya adalah karena gas yang ada di perutnya. Untuk mencegah gas di perut bayi, cobalah untuk selalu menyendawakannya setelah selesai menyusui.

Bisa juga menggosok-gosok punggung untuk mengeluarkan gas tersebut. Bila gas sudah keluar, Anda bisa meletakkan bayi dengan posisi telentang.

*Sumber: kumparan.com

Rabu, 18 Desember 2019

Tips Mengatur Emosi Agar Lebih Bijaksana dalam Bertindak

Rabu, 18 Desember 2019 18:26:59

 

Tips Mengatur Emosi Agar Lebih Bijaksana dalam Bertindak

Merasa bad mood atau bahkan emosi adalah hal yang normal, setiap orang pasti pernah merasakan hal demikian. Namun penting sekali untuk menghadapi keadaan itu dengan positif. Kalau kita terus menuruti suasana hati yang kurang baik, malah akan berpengaruh pada semangat kita dalam beraktivitas.

Buruknya lagi, ketika kita tidak bisa mengendalikan emosi lalu melakukan tindakan yang membuat kita menyesal. Misalnya saja, memarahi rekan kerja hanya karena masalah sepele atau bersikap tidak baik pada atasan hanya karena emosi semata.

Tidak mau sampai seperti itu kan, Ladies? Ya, mengendalikan emosi adalah hal yang sangat penting. Ini dilakukan agar kita tetap bersikap dewasa dan tidak merugikan diri sendiri. Berikut tips mengendalikan emosi yang bisa Anda lakukan.

Menghitung mundur

Ketika Anda terpancing emosi pada sesuatu, cara sederhana untung meredam emosi adalah dengan berhitung mundur dari 100. Waktu yang dihabiskan untuk berhitung dapat membantu detak jantung melambat. Akhirnya rasa emosi dan kemarahan yang dirasakan akan mereda dengan sendirinya.

Ambil nafas yang dalam

Saat Anda sedang marah, alur pernapasan jadi meningkat dan pendek. Agar alur pernapasan kembali tenang dan menurunkan emosi, Anda perlu bernapas dalam-dalam dari hidung dan hembuskan dari mulut selama satu menit.

Berikan waktu untuk berjalan

Melakukan olahraga berguna untuk menenangkan saraf dan membantu mengurangi kemarahan. Jadi ketika sedang merasa emosi, ambil waktu untuk berjalan santai atau melakukan olahraga di gym sambil mendengar lagu favorit. Lakukan apa pun yang membuat Anda bisa merilekskan pikiran dan tubuh.

Bersyukur

Banyak hal yang membuat kita emosi, seperti selalu merasa bersalah dan kurang dalam menjalani sesuatu. Di saat semua terasa serba salah, luangkan waktu sejenak untuk fokus. Hitung berapa banyak hal baik yang Anda miliki dalam hidup akan membantu Anda mengendalikan amarah.

Memilih untuk diam

Rasa emosi yang membara membuat kita untuk melakukan suatu tindakan. Sebaiknya jangan dituruti perasaan seperti itu, Ladies. Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang membuat ketika menyesal karena tidak bisa menahan emosi.

Melansir Times of India, berikan waktu untuk menyendiri selama 10 menit, tarik napas, dan Anda akan merasa lebih baik. Diam bukan berarti kita orang yang lemah, tapi dengan diam dan tidak menumpahkan emosi membuat kita jadi orang yang bijaksana.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 17 Desember 2019

Anak Mengalami Kekerasan dalam Pacaran, Jangan Tinggal Diam!

Selasa, 17 Desember 2019 16:23:07

Anak Mengalami Kekerasan dalam Pacaran, Jangan Tinggal Diam!

Raisa suatu hari pulang dalam keadaan menangis. Tak mau ditanya, ia langsung menuju kamar dan mengunci pintu. Ibunya bingung, walau terbesit insting bahwa ini karena pacarnya. Baru beberapa bulan ini Raisa mengaku pacaran dengan teman sekolahnya, Ryan. Tapi, Ibu merasa ada yang tidak beres dengan Ryan, atau hubungan mereka. Semenjak pacaran, Raisa jadi jarang bertemu teman-temannya, dan Ryan hampir setiap hari mengantar Raisa. Belum lagi, telepon rumah yang berdering terus setelahnya. Ya, dari Ryan. Awalnya, Raisa terlihat bahagia, tapi belakangan ia terlihat tertekan. Kali ini, Ibu tak mau lagi tinggal diam. Ia mengetuk pintu kamar Raisa, menemukan anak perempuannya mengalami memar di wajah, dan di kedua lengannya. Ibu berusaha tenang, ia ingat nasehat dari seorang psikolog, Dr. Emilita Krisanti Cornain, MAPS, FCCLP dan berikut yang harus dilakukan. 

Tenang, jangan panik

Situasi ini sudah cukup menakutkan untuk anak, jangan ditambah dengan kepanikan Anda. Tarik nafas panjang, berusaha tenang. Perlihatkan pada mereka, bahwa Anda ada untuk membantu, bukan untuk menghakimi. Jika Anda merasa tidak bisa melakukannya sendiri, ajak pasangan untuk duduk bersama (dengan seizin anak, tentunya). Buat anak senyaman mungkin untuk mengungkap semua dengan Anda.

Validasi perasaan dan pengalaman mereka

Simpati dan empati sangat penting di situasi ini. Mengerti bahwa mereka sedih, bingung dan mungkin merasa sulit untuk mengakhiri hubungan dengan pacarnya. Berusaha bersikap objektif dan memposisikan diri sebagai mereka. Mulai dengan kalimat, “Ayah/Ibu perhatikan, ada yang berbeda dengan kamu. Ada bekas memar di badan dan kamu terlihat sedih. Mau nggak, sharing apa yang terjadi? Ayah/Ibu akan berusaha bantu jika itu yang kamu butuh.”

Ingatkan (lagi) tentang hubungan yang sehat

Ingatkan anak apa itu pacaran yang sehat. Biarkan mereka mencerna, apakah hubungan yang sedang mereka jalankan termasuk dalam pacaran yang sehat, atau justru sebuah masalah yang harus mereka hindari. Keputusan ada di tangan mereka, dengan catatan masih dalam kondisi fisik dan mental yang sehat. Jika tidak, Anda berhak untuk melarang mereka melanjutkan hubungan.

Pastikan anak tahu kekerasan yang terjadi padanya

Untuk kekerasan fisik, tentu ia dan Anda bisa melihat kasat mata. Namun, terkadang sulit untuk mengukur kekerasan emosi atau verbal, ini beberapa diantaranya:

• Pacar marah ketika kita ingin meluangkan waktu bersama teman

• Keluar kata-kata yang tidak layak yang ditujukan untuk kita

• Mengontrol hidup kita (mulai dari cara berpakaian, memilih teman-teman, mengecilkan kita dan merendahkan percaya diri)

• Mengancam dan mengakses semua data pribadi, termasuk sosial media

• Memaksa melakukan sesuatu yang kita tidak nyaman melakukannya

Orangtua pacar harus terlibat, jika..

Anak sudah mengalami kekerasan yang tidak wajar, baik emosi maupun fisik dan Anda sudah memiliki cukup bukti. Bukti disini dalam arti Anda sudah paham cerita dan pengalaman anak. Jika kekerasan berat, maka bukti visum mungkin diperlukan. Anda juga perlu paham tujuan dari diskusi, yaitu mencari solusi dan pertanggungjawaban (jika) sang pacar memang terbukti menyakiti anak.

Jika diskusi tidak menemukan titik terang, maka..

Jelaskan bahwa ini bukan perkara sepele. Jika usia anak lebih dari 18 tahun, kekerasan dalam pacaran bisa dilaporkan diantara tiga kategori pasal. Pasal 351 KUHP untuk penganiayaan ringan, pasal 352 KUHP untuk penganiayaan sedang dan pasal 354 KUHP untuk penganiayaan berat. Jika anak belum mencapai usia 18 tahun, maka pelaku penganiayaan dapat dijerat dengan pasal 76C jo, pasal 80 ayat (1) Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU 35/2014”).

*Sumber: kumparan.com

Minggu, 15 Desember 2019

Ini Cara Cegah Ular Masuk Rumah

Minggu, 15 Desember 2019 19:12:01

Ini Cara Cegah Ular Masuk Rumah
 
Pakar reptil Dr Amir Hamidy mengungkapkan beberapa cara untuk mencegah agar ular kobra tidak memasuki lingkungan rumah, termasuk dengan cara sederhana yaitu rajin membersihkan rumah dan mengepel lantai.

"Pencegahannya adalah buat rumah setidak nyaman mungkin untuk ular. Yang harus dilakukan pertama yaitu rajin dipel, setiap pagi harus dipel, karena pembersih lantai itu ada wangi menyengat yang sangat tidak disukai oleh ular. Kapur barus juga tidak disukai oleh ular," kata peneliti herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu ketika dihubungi di Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.

Tindakan pencegahan kedua, menurut  Amir, adalah harus menyingkirkan barang-barang tidak digunakan lagi yang membentuk tumpukan-tumpukan, seperti tumpukan kardus, kertas, batu dan genting, yang berada di sekitar rumah karena merupakan habitat yang disukai oleh ular untuk meletakkan telur-telurnya.

Langkah ketiga yang bisa diambil untuk mencegah ular menjadikan rumah sebagai habitatnya adalah menyingkirkan sisa makanan yang ada di dapur setiap harinya. Hal itu perlu dilakukan karena sampah organik yang menumpuk akan mengundang tikus yang merupakan mangsa alami bagi ular kobra.

Menurut dia tindakan pencegahan tersebut perlu dilakukan karena kobra, yang bisa tinggal di habitat yang dekat dengan aktivitas manusia, adalah jenis ular berbisa yang dapat membahayakan bagi manusia.
Selain itu, kata doktor dari Universitas Kyoto di Jepang tersebut, ular kobra adalah jenis ular yang bisa menelurkan 10 sampai 20 telur dengan siklus penetasan 2-4 bulan.

Kemunculan ular kobra di beberapa tempat di Indonesia yang menghebohkan masyarakat, kata dia, bukanlah hal mengejutkan karena musim hujan merupakan waktu anakan ular menetas dan merupakan siklus tahunan.

Jadi wajar, kata Amir, jika populasi ular kobra meningkat saat musim hujan karena telur ular memerlukan suhu yang lembab untuk menetas dan jika suhu panas, telur akan mengering.
Hal itu diperparah karena di daerah dekat kemunculan kobra di dekat permukiman sudah tidak terdapat predator alami ular yang bisa membantu mengurangi populasinya.

"Dulu predator alaminya itu seperti elang yang merupakan predator alami ular. Kobra itu dimakan sama dia. Tapi kan hewan-hewan itu sudah kita tembak, buru," kata Amir Hamidy.

Sebelumnya beberapa daerah dikejutkan dengan kemunculan belasan hingga puluhan ular kobrayang berada di sekitar permukiman warga. Kejadian itu terjadi di Jember, Jawa Timur, Cakung di DKI Jakarta dan Citayam di Jawa Barat. [lis]

Sumber: tempo.co.id

Jumat, 13 Desember 2019

Tips Pekerjaan: Begini Cara Atasi Baper di Kantor

Jum'at, 13 Desember 2019 18:51:20

Tips Pekerjaan: Begini Cara Atasi Baper di Kantor

Para pekerja saat ini didominasi oleh kalangan milenial. Salah satu hal yang jarang terlepas dari mereka adalah bawa perasaan (baper).

Rasa baper ini juga sering dibawa ketika merek di kantor. Padahal, ini tak baik untuk perjalanan karier seseorang. Lalu, bagimana cara mengatasinya?

Partnership Associate Kalibrr, Derrel Marvianus mengatakan, baper justru bisa membawa kerugian. Sebab, ini bisa membuat seseorang lebih sensitif dan moody. Untuk itu, penting mengatasi rasa baper di kantor.

“Yang pertama harus dilakukan untuk mengatasi baper di kantor adalah fokus. Mulai dengan buat daftar apa saja yang akan dilakukan di tempat kerja,” katanya saat dihubungi kumparan, Rabu (11/12).

Lebih lanjut dia menjelaskan, jangan sampai seseorang terlihat bingung dan menganggur di kantor. Ini akan membuat rekan kerja melontarkan komentar tentang kinerja seseorang. Ujungnya, akan memicu rasa baper.

“Selanjutnya, ada baiknya mempertimbangkan kritik yang masuk. Tempat kerja biasanya paling banyak ditemukan kritik, ini bisa saja membantu karier. Alih-alih bawa ke hati, coba renungkan kenapa kritik tersebut terlontar ke kamu,” tambahnya.

Hal terakhir yang bisa dilakukan adalah jadi lebih cuek. Kalau rasa tersinggung muncul, cukup biarkan hingga berlalu. Jangan sampai kritik atau rasa sakit itu membuat down dan menghilangkan mood dalam bekerja.

“Karier akan berjalan sebagaimana kamu menjalaninya. Jadi jangan terlalu memikirkan orang lain. Coba untuk sedikit lebih cuek dan santai dengan diri sendiri,” tutup Derrel.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 10 Desember 2019

5 Kebiasaan yang Dapat Merusak Gigi Anak

Selasa, 10 Desember 2019 17:04:00

5 Kebiasaan yang Dapat Merusak Gigi Anak

Menjaga kesehatan gigi penting dilakukan siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun ternyata ada kebiasaan anak yang tanpa disadari apabila sering dilakukan justru dapat merusak gigi.

"Ada beberapa kebiasaan yang terlihat normal-normal saja ternyata bisa merusak gigi anak," tukas drg. Dian Permata Asri, dokter gigi Rumah Sakit Islam A.Yani Surabaya, Sabtu (7/12).

Dian mengungkapkan beberapa kebiasaan yang suka dilakukan anak-anak dan berdampak buruk pada gigi:

1. Minum susu dengan botol dot sebelum tidur

Kebiasaan ini dapat membuat gigi anak berlubang dan menyebabkan terjadinya susunan gigi yang tidak rata. Ketika susu tersebut menggenang sepanjang malam di dalam rongga mulut anak, gula dalam susu akan merusak lapisan pelindung gigi secara perlahan.

"Jika tidak segera dibersihkan, lama-lama bisa terjadi karies. Jadi stop penggunaan botol dot dan gunakan gelas serta sedotan untuk minum susu sebelum tidur," ujar drg. Dian.

2. Kebanyakan makan yang manis-manis

Mengonsumsi makanan dan minuman manis seperti permen, cake, cokelat, gulali, dan lain-lain dapat membuat derajat keasaman yang ada pada rongga mulut meningkat karena sisa gula yang tertinggal di dalam mulut akan diubah oleh kuman-kuman plak menjadi asam.

"Jadi segera berkumur setelah makan atau minum yang manis-manis," tegasnya.

3. Mengisap jempol

Kebiasaan ini umumnya sering dilakukan anak saat ia sedang tumbuh gigi. Namun jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa membuat pertumbuhan gigi dan kontur rahang menjadi tidak proporsional dan optimal.

"Gigi atas akan terdorong ke arah depan, sehingga membuat gigi menjadi maju dari seharusnya alias tonggos. Selain itu, langit-langit mulut berubah menjadi lebih dalam. Ini semua dapat memengaruhi proses mengunyah makanan pada anak," jelas drg. Dian.

4. Menggigit kuku atau benda lainnya

Kebiasaan menggigit benda keras, misalnya kuku, pensil, atau benda lain, bisa menyebabkan kelainan struktur rahang. Gigi akan mengalami crossbite, yaitu kondisi gigi bawah lebih maju dari gigi atas. Selain itu, kebiasaan ini juga bisa membuat gigi retak dan rapuh.

5. Mengemut makanan

Mengemut makanan atau menyimpan makanan di rongga mulut dalam waktu yang lama bisa memicu gigi berlubang. Ini sama saja memberi makan bakteri di dalam mulut. Akibatnya, bakteri akan berfermentasi dan menghasilkan asam, yang perlahan dapat merusak gigi.

"Ini disebabkan karena saat mulut tertutup produksi saliva atau air liur akan berkurang. Jadi biasakan makan di meja makan supaya perhatian tak teralihkan dan mengemut makanan bisa diminimalisir," simpulnya.

*Sumber: kumparan.com

Senin, 09 Desember 2019

Apel Disebut Makanan Super, Ramah untuk Jantung dan 2 Alasan Ini

Senin, 09 Desember 2019 17:23:11

Apel Disebut Makanan Super, Ramah untuk Jantung dan 2 Alasan Ini

Ungkapan sebutir apel dulu sebelum ke dokter, nampaknya tidak berlebihan. Sebab apel memang kerap dianggap makanan super yang kaya nutrisi penting untuk mencegah dan mengobati berbagai macam gangguan kesehatan.

Apel buah yang  yang bergizi padat, bebas lemak, kolelsterol, dan sodium serta rendah kalori. Satu butir apel ukuran sedang mengandung sekitar 5 gram serat. Ada tiga alasan mengapa apel disebut sebagai makanan super.

1. Baik untuk otak

Peneliti di Cornell University menyimpulkan jika apel mengandung antioksidan kuat yang disebut quercetin. Adapun fungsinya ialah mampu mencegah radikal bebas yang dapat merusak sel-sel otak. Menurut President of Washington Apple Commision Todd Fryhover manfaat lain makan kulit apel karena mengandung quercetin. "Jadi sangat dianjurkan untuk mengonsumsi apel dengan kulitnya juga untuk mendapatkan manfaat lebih bagi kesehatan otak," ucap Todd yang ditemui dalam acara Washington Apple Week di Jakarta, Kamis 5 Desember 2019.

Masih berkaitan dengan otak, manfaat sehat apel lainnya dengan konsumsi apel bersama kulitnya dapat mengurangi risiko kehilangan memori dan timbulnya penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

2. Ramah untuk jantung
Sudah rahasia umum jika tingkat kolesterol tinggi akan meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung, yang menjadi penyebab utama kematian di Amerika Serikat dan juga di Indonesia. Sebuah studi yang diterbitkan Journal of Foods Fungsional menemukan bahwa kadar LDL (kolesterol jahat) peserta riset yang makan sebuah apel sehari selama 4 minggu turun sebanyak 40 persen dibandingkan dengan mereka yang tidak makan apel. "Jadi selain serat, buah apel juga kaya dengan kandungan antioksidan yang dikenal bermanfaat dan ramah untuk jantung Anda," ucap Todd.

3. Turunkan risiko diabetes
Bagaimana dengan pengidap diiabetes yang ingin tetap bisa mengonsumsi buah yang manis? Menurut sebuah studi yang dikoordinir Harvard School of Public Health, orang yang mengonsumsi setidaknya dua porsi buah-buahan tertentu seperti apel, blueberry dan anggur setiap minggunya, secara signifikan dapat menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2. "Kalau saya sendiri makan apel di waktu antara sesudah dan sebelum makan siang. Sehingga kita bisa mengurangi atau bahkan melewati makan nasi putih serta menggantinya dengan lauk dan sayur," imbuh Todd.

Sumber: https://cantik.tempo.co/read/1281004/
apel-disebut-makanan-super-ramah-untuk-jantung-dan-2-alasan-ini/full&view=ok

Jumat, 06 Desember 2019

3 Minuman yang Perlu Dibatasi Pemberiannya pada Balita

Jum'at, 06 Desember 2019 18:09:48

3 Minuman yang Perlu Dibatasi Pemberiannya pada Balita

Balita Anda paling suka mencicipi apapun, termasuk aneka jenis minuman? Wajar saja, Moms, sebab ini bagian dari usianya yang kerap penasaran dengan berbagai hal dan suka mencoba hal baru.

Sebagai orang tua, Anda juga perlu memandu anak, termasuk membatasi atau hanya sebatas mencicip minuman yang justru lebih banyak berdampak buruk baginya. Apa saja? Dilansir dari Pregnancy Birth & Baby berikut tiga di antaranya:

1. Jus Buah

American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar Anda memberikan jus buah pada anak saat umurnya sudah di atas 1 tahun. Mengapa? Karena pihaknya khawatir bila orang tua menjadikan jus buah sebagai makanan bayi dan menggantikan ASI.

Jus buah pada umumnya telah dianggap sebagai minuman sehat. Tapi hal ini bisa juga sebaliknya. Misalnya karena diberikannya tambahan gula. Selain itu, nutrisi dari buah juga bisa hilang ketika diblender.

Daripada dijus, lebih baik dan lebih sehat memberikan balita Anda buah potong saja, Moms!

2. Minuman Manis

Minuman manis seperti minuman berenergi, minuman isotonic, jus buah kemasan, juga tidak disarankan. Ini karena minuman tersebut mengandung gula tambahan yang dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan pada anak, Moms.

Misalnya saja satu kaleng minuman ringan standar berukuran 375 mL mengandung 40 hingga 44 gram gula yang setara dengan 10 hingga 11 sendok teh, kemudian sebotol minuman isotonik berukuran 600 mL memiliki 7 hingga 9 sendok teh gula. Lalu secangkir jus buah kemasan berukuran 250 mL mengandung 6 1/2 sendok teh gula dan vitamin water dengan ukuran yang sama mengandung hingga 3 1/2 sendok teh gula.

Daripada memberi minuman kemasan perasa, lebih baik buatkan anak smoothies, Moms!
 
3. Minuman Berkafein

Minuman berkafein seperti teh, kopi, minuman berenergi juga tidak baik untuk anak-anak. Dalam penelitian di Boston, balita berusia dua tahun yang minum kopi atau teh di antara waktu makan mereka, cenderung memiliki kemungkinan 3 kali lipat mengalami obesitas saat memasuki usia sekolah. Mengkonsumsi kafein dosis tinggi bahkan bisa menyebabkan masalah kesehatan yang berujung fatal, Moms.

"Kopi yang dikonsumsi secara berlebihan berapapun usianya (balita) memiliki efek negatif seperti, kecanduan, membuat anak hiperakif, susah tidur, nafsu makan memburuk, perubahan suasana hati, dan kecemasan berlebihan," kata Cassie Bjork, RD, LD, Founder dari A Healthy Simple Life dan Ahli Diet Berlisensi seperti dilansir Healthline.

Sementara untuk minuman yang disarankan dan menyehatkan tentunya, antara lain air putih dan susu, Moms. Pemberian air putih di pagi hari dapat melancarkan proses pencernaan dan membuat feses anak jadi tidak keras. Dan susu bisa memenuhi kebutuhan kalsium dan protein yang dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembang anak.

*Sumber: kumparan.com

Kamis, 05 Desember 2019

Jenis Nasi yang Baik Dikonsumsi Penderita Diabetes

Kamis, 05 Desember 2019 17:25:01

Jenis Nasi yang Baik Dikonsumsi Penderita Diabetes

Mereka yang memiliki kadar gula darah tinggi, atau bahkan sudah didiagnosa mengalami diabetes, kerap disarankan untuk tak mengonsumsi nasi putih. Pasalnya, nasi putih mengandung kadar indeks glikemik yang tinggi, dan berisiko menimbulkan lonjakan kadar gula darah.

Sebuah riset berjudul White rice consumption and risk of type 2 diabetes: meta-analysis and systematic review yang dipublikasikan dalam British Medical Journal menunjukkan, mereka yang mengonsumsi nasi putih dalam jumlah banyak, bisa lebih berisiko terkena diabetes tipe-2.

Tentu menjadi dilema tersendiri, apalagi bila sudah terbiasa mengonsumsi nasi putih sebagai makanan pokok. Belum kemasukan nasi, perut rasanya belum kenyang.

Bubur Beras Merah

Bila tak bisa lepas dari konsumsi nasi,sejatinya penderita diabetes bisa memilih jenis nasi lainnya yang lebih aman untuk dikonsumsi. Pilihlah nasi yang memiliki indeks glikemik rendah, serta serat tinggi. Salah satunya, adalah nasi merah.

Nasi merah memiliki glikemik indeks yang lebih rendah; yakni sebesar 50. Sehingga, tubuh akan lebih lamban mencernanya, dan tak terjadi lonjakan pada gula darah.

Bukan itu saja, kadar serat yang tinggi pada nasi merah akan mengurangi risiko munculnya komplikasi seperti gangguan saraf.

Serat tersebut juga berperan sebagai komponen penting untuk menjaga kestabilan gula darah. Sebab, serat tak akan diserap oleh tubuh, sehingga tidak terlalu memengaruhi kadar gula darah.

Nasi merah

Fakta ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard School of Public Health, bahwa mengonsumsi dua porsi atau lebih nasi merah setiap minggu bisa menurunkan risiko terkena diabetes tipe-2.

Selain nasi merah, jenis nasi lainnya yang aman dikonsumsi penderita diabetes adalah nasi basmati. Baik basmati merah maupun basmati putih, keduanya memiliki indeks glikemik yang rendah.

Menurut data dari University of Sydney GI Database, nasi basmati memiliki indeks glikemik dengan rentang 43-60, yang termasuk dalam kategori rendah ke sedang.

Dan, ketika dimasak, butiran-butiran nasi basmati akan tetap utuh, ringan, tak menggumpal satu sama lain. Tekstur tersebut mengindikasikan kalau kadar pati di dalamnya tak berubah jadi seperti agar-agar. Sehingga, kandungan pati akan dilepaskan ke aliran darah secara perlahan, membuat kadar gula darah tetap stabil.

Nasi basmati

Bukan itu saja, nasi basmati juga kaya akan kandungan magnesium yang berfungsi mengatur insulin. Konsumsi magnesium akan membantu mengontrol kadar gula darah pada mereka yang pre-diabetes.

Sama seperti nasi merah, nasi basmati pun kaya akan serat yang dapat menstabilkan gula darah. Kadar serat tersebut akan meningkatkan kesehatan pencernaan, menciptakan rasa puas, dan kenyang pada perut, serta mengurangi risiko timbulnya komplikasi pada penderita diabetes tipe-2.

Untuk mendapatkan manfaatnya secara maksimal, pastikan untuk mengonsumsi nasi basmati berkualitas tinggi. Pilihlah yang satu kemasannya berisi butiran beras basmati utuh, yang tidak rusak dan hancur.

Batasi porsi konsumsi

Meski kedua jenis nasi tersebut tergolong aman untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes, namun perlu dicatat untuk tetap memperhatikan jumlah konsumsinya.

Menurut Prof. Dr. dr. Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE, Ketua Persatuan Diabetes Indonesia Wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Depok, konsumsi nasi tetap tak boleh terlalu banyak. Ukur terlebih dahulu jumlah kalorinya sesuai dengan kebutuhan tubuh.

"Misalnya, tubuh membutuhkan 1.900 kalori per hari, ya untuk nasinya cukup 1,5 gelas saja sekali makan," jelasnya kepada kumparan beberapa waktu lalu.

Selain itu, seimbangkan menu makanan yang disantap. Padukan nasi dengan makanan lain yang lebih sehat; seperti kacang legum, kacang polong, atau sayuran hijau.

Dengan begitu, penderita diabetes tetap bisa menyantap nasi, dan kadar gula darah tetap stabil.

*Sumber: kumparan.com

Rabu, 04 Desember 2019

Cara Disiplinkan Anak Balita di Tempat Umum

Rabu, 04 Desember 2019 19:47:20

 

Cara Disiplinkan Anak Balita di Tempat Umum

Di usia balita, anak-anak biasanya sedang senang bereksplorasi banyak hal. Mulai dari memegang benda-benda, berlarian, sampai berteriak-teriak. Meskipun itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak balita, kadang Anda mungkin bisa dibuat kesal jika semua hal itu dilakukan di tempat umum.

Sehingga, Anda mungkin akan meninggalkannya atau bahkan memarahinya agar anak memahami bahwa perilakunya tidak baik. Namun, tunggu dulu, Moms! Hal itu ternyata tidak direkomendasikan oleh ahli.

Dilansir Young Parents Singapore, kepala penelitian dan pengembangan di Focus on The Family Singapore, Vicky Ho, mengatakan anak balita bisa menafsirkan bahwa orang tua yang meninggalkannya ketika ia berbuat kesalahan berarti Anda tidak menyayanginya.
"Untuk anak yang sudah frustasi dan berjuang untuk mengekspresikan dirinya, itu akan membuatnya (anak) jengkel," ujarnya.

Senada dengan pernyataan Vicky, Shu Mei Winstanley, pendiri Chapter Zero Singapore mengatakan bahwa otak anak balita belum sepenuhnya berkembang saat ia berusia 3 tahun. Sehingga ia sering mengamuk atau tidak bisa mengekspresikan emosinya dengan benar.

"Mereka tidak memiliki banyak kendali impuls dan tidak bisa mengatur emosi dengan baik. Sehingga orang tua perlu ada di sana untuk membantu mereka menetapkan batas dan mengatur emosi mereka," kata Shu Mei.

Nah, Moms, agar anak balita bisa bersikap lebih disiplin saat berada di tempat umum, berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan:

Tindakan pencegahan

Beberapa orang tua mengatakan, mengambil langkah pencegahan bisa membantu mengurangi kemungkinan anak rewel di depan umum. Misalnya saja, sebelum Anda pergi bersama si kecil, berikanlah ajaklah ia untuk berdiskusi dan memberi tahunya apa yang akan dilakukannya di tempat yang akan Anda tuju, lalu bagaimana anak sebaiknya bersikap.

Sebelum pergi, pastikan anak balita Anda sudah cukup makan dan tidur, supaya dia tidak rewel ketika diajak pergi. Bawakan juga mainan dan permainan yang disukainya agar selama perjalanan ke tempat yang dituju, dia tidak merasa bosan, Moms.

Melihat dari sudut pandangnya

Cobalah untuk bersikap empati dan melihat sudut pandangnya ketika balita Anda mulai bertingkah di depan umum. Misalnya ketika si kecil mulai merengek dan berteriak saat diajak pulang dari taman bermain, kemungkinan ia belum mau mengakhirinya. Bila itu terjadi, Anda bisa menawarkan sesuatu hal lain agar balita Anda mau beranjak dari sana atau bisa berjanji lagi untuk kembali ke sana bila ada waktu.

Jangan menanggapinya terlalu serius

Saat anak balita tak mendengarkan Anda, jangan cepat 'naik pitam', Moms. Cobalah untuk tetap tenang dan tidak terlalu menanggapi rengekannya terlalu serius. Anda bisa mulai mengajaknya mengobrol dengan lelucon sederhana.

Namun bila si kecil tak kunjung menghentikan perilakunya, jangan terpancing emosi dengan memberikan hukuman seperti memukulnya di tempat umum. Bukannya membuatnya lebih baik, justru hal itu akan menimbulkan trauma baginya, Moms.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 03 Desember 2019

Masalah Gigi dan Mulut yang Sering Dialami Anak

Selasa, 03 Desember 2019 17:24:35

´╗┐Masalah Gigi dan Mulut yang Sering Dialami Anak
Sebagai orang tua, Anda tidak boleh menganggap sepele urusan  kesehatan gigi dan mulut anak. Padahal, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, 93 persen anak-anak sering mengalami masalah gigi dan mulut, Moms.

Jika tak merawat gigi dan mulut anak dengan baik, bukan tidak mungkin ia akan mengalami gangguan kesehatan yang lebih parah dan tumbuh kembangnya terganggu. Nah, agar anak tak mengalaminya, Anda perlu mencari tahu penyebab masalah gigi dan mulut anak terlebih dahulu.

Berikut ini adalah 4 masalah gigi dan mulut yang sering dialami oleh anak yang dirangkum kumparanMOM dari Pedoman Pemeliharaan Gigi dan Mulut Ibu Hamil dan Anak Usia Balita Dirjen Bina Upaya Kesehatan Tahun 2012:

Warna putih pada lidah

Warna putih pada lidah mungkin adalah kondisi yang Anda temui pada bayi yang minum ASI atau susu formula. Sisa-sisa air susu yang menempel pada lidah akan mengalami fermentasi sehingga merangsang tumbuhnya jamur.

Kondisi ini biasanya disebabkan oleh pemberian susu formula yang telah melewati 3 jam dari waktu pembuatan. Untuk mencegah hal ini, Anda bisa menggosok lidah bayi dengan kasa steril yang telah dicelupkan ke air hangat. Lakukan hal itu setiap kali bayi selesai menyusu, Moms.

Jika Anda melihat warna putih yang agak tebal di lidah anak dan menimbulkan bau tak sedap, segeralah periksakan ke dokter gigi atau dokter spesialis gigi anak.

Gigi berlubang

Ada beberapa faktor yang menyebabkan gigi anak berlubang, seperti kualitas gigi, makanan yang dikonsumsi, mikroorganisme yang ada dalam mulut, dan waktu. Gigi berlubang bisa terjadi pada gigi anterior (gigi atas) dan gigi posterior (gigi bawah).

Lubang pada gigi atas anak bisa disebabkan oleh pemberian susu menggunakan botol pada waktu tidur malam, karena pada saat tidur posisi kepala lebih rendah dari pada botol sehingga air susu menggenangi gigi anterior atas. Bila hal itu berlangsung lama, gigi bawah anak juga akan berlubang. Selain itu, gigi berlubang juga bisa disebabkan oleh pembersihan gigi yang kurang baik.

Pembengkakan gusi

Pembengakakan bisa disebabkan adanya radang pada gigi maupun pada gusi. Radang yang terjadi pada gigi bisa menjalar menjadi pembengkakan pada gusi. Kondisi ini yang meluas tidak hanya terlihat di dalam mulut namun bisa pula terlihat sampai pipi.

Waspadai jika anak Anda mengalami wajah yang terlihat sembab, disertai rasa sakit yang hebat dan demam. Pada keadaan yang lebih buruk, si kecil bisa mengalami kesulitan menelan. Oleh sebab itu, segeralah periksakan anak Anda ke dokter, Moms.

Bila sudah kronis, akan timbul fistula pada gusi di sekitar gigi tersebut. Fistula juga dapat terjadi pada gigi gangren (gigi busuk) yang tidak dirawat. Jika gigi gangren tidak dirawat, kerusakan akan semakin parah dan gigi harus dicabut. Bahkan bisa menyebabkan kelainan jantung, rematik, maupun alergi.

Stomatitis apthosa (sariawan)

Sariawan yang sering terjadi pada rongga mulut bisa disebabkan oleh adanya trauma. Misalnya ada gigi yang tajam menusuk gusi, makanan yang mengiritasi mukosa mulut, dan kekurangan vitamin C. Faktor pencetusnya bisa karena stres atau kurang memperhatikan kebersihan mulut anak.

*Sumber: kumparan.com

Minggu, 01 Desember 2019

Faktor Penyebab Epilepsi yang Perlu Diketahui

Minggu, 01 Desember 2019 17:54:10














Penyebab epilepsi atau yang dikenal sebagai “ayan” adalah suatu gangguan pada sistem saraf otak manusia karena terjadinya aktivitas yang berlebihan dari sekelompok sel neuron pada otak. Ini menyebabkan berbagai reaksi pada tubuh manusia seperti melamun, kesemutan, gangguan kesadaran, kejang-kejang dan atau kontraksi otot. Epilepsi merupakan gangguan neurologis keempat yang paling umum dan mempengaruhi orang-orang dari segala usia. Penyakit ini ditandai dengan kejang tak terduga dan dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya

Penyebab epilepsi

Otak manusia adalah sumber di mana epilepsi itu terjadi.. Meskipun gejala kejang dapat mempengaruhi setiap bagian dari tubuh, suatu peristiwa yang menghasilkan gejala epilepsi pusatnya terjadi pada otak. 

Seseorang didiagnosis dengan epilepsi jika mereka mengalami satu atau kejang berlebihan yang tidak disebabkan oleh beberapa kondisi medis yang telah dikenal seperti, mengonsumsi alkohol atau kadar gula darah yang rendah.

Kejang pada epilepsi dapat terjadi, terkait dengan cedera otak atau turunan pada keluarga, tetapi sering penyebabnya adalah benar-benar tidak diketahui. Faktor-faktor di bawah ini dapat membuat Anda lebih berisiko terkena epilepsi.

1. Usia

Epilepsi umumnya terjadi pada anak kecil dan manula. Biasanya anak kecil yang baru berusia 1 atau 2 tahun akan mengalami ayan atau kejang akibat epilepsi. Setelah usia seseorang mencapai 35 tahun ke atas, tingkat kasus baru epilepsi yang mulai muncul pun meningkat. Kondisi ini bisa disebabkan oleh stroke, tumor otak, atau penyakit Alzheimer, yang semua dapat menyebabkan epilepsi.

2. Jenis kelamin

Epilepsi adalah suatu kondisi yang dapat mempengaruhi setiap orang dengan berbeda faktor dan gejalanya. Jenis kelamin bisa menjadi faktor dalam bagaimana epilepsi akan mempengaruhi orang tertentu. Perawatan epilepsi juga harus dipertimbangkan terkait berbedanya epilepsi antara pria dan wanita. Contohnya, pertimbangan kesehatan seperti perubahan hormonal, dan fungsi sosial.

Dalam banyak hal, penyebab epilepsi berbeda bagi wanita daripada pria. Perbedaan timbul karena perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki, dan juga karena peran sosial yang berbeda dari masing-masing jenis kelamin pada penderita epilepsi

3. Faktor genetik

Jika Anda memiliki orangtua atau saudara yang mengidap epilepsi, faktor tersebut dapat menjadi penyebab epilepsi menurun pada diri Anda. Belum diketahui mengapa genetik pasti apa penyebab epilepsi terjadi, namun kesamaan DNA dan golongan darah pada saudara sekandung atau orangtua nyatanya dapat mempengaruhi epilepsi terjadi.

4. Trauma pada otak

Kerusakan atau cedera otak terjadi ketika sel-sel otak yang dikenal sebagai neuron menjadi hancur. Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan fisik antara lain pasca operasi bagian otak, kecelakaan, terbentur, dan hal yang mengakibatkana saraf otak manusia mengalamii kerusakan. Kerusakan saraf pada otak tersebut dapat menimbulkan epilepsi pada penderitanya.

5. Kondisi medis tertentu

Infeksi pada sistem saraf dapat mengakibatkan aktivitas kejang. Ini termasuk infeksi pada meliputi otak dan cairan tulang belakang atau penyakit meningitis, infeksi otak atau ensefalitis, dan virus yang memengaruhi imun manusia (HIV), serta infeksi saraf dan imun manusia terkait yang dapat menjadi penyebab epilepsi. [lis]
 
Sumber: halosehat.com