Senin, 04 Februari 2019

Mencegah Salah Paham Komunikasi dengan Pasangan

| Senin, 04 Februari 2019
Senin, 04 Februari 2019 18:33:10

Mencegah Salah Paham Komunikasi dengan Pasangan

Di balik pernikahan yang terlihat ideal dan selalu mesra, ada usaha keras dan kemauan untuk saling memahami yang dilakukan pasangan.

Sebagian besar terapis hubungan akan menyebutkan, kunci hubungan yang sehat dan sukses adalah komunikasi.

Karena itu, mempelajari komunikasi secara efektif adalah hal wajib bagi pasangan, terutama ketika harus memberi tahu pasangan bagaimana perasaan yang dialami, mulai dari diri sendiri hingga peristiwa buruk di tempat kerja.

Menurut konselor dan terapis hubungan Monte Drenner, sebagian besar pria tidak memahami pentingnya memperhitungkan emosi pasangan, sehingga perbedaan pendapat kecil dapat dengan cepat menjadi sangat panas.

Untuk menambah skill kita dalam berkomunikasi dengan pasangan, ketahui apa saja yang perlu diperbaiki:

1. Jangan canggung Ilustrasi pasangan

Sebagian besar orang, terutama laki-laki, belum belajar cara mengungkapkan perasaan secara langsung dan jujur, sehingga yang ada rasa canggung pada awalnya.

Namun berbicara jujur dan langsung perlu untuk menggambarkan perasaan. Kamu bisa memulai, seperti ketika ingin meminta izin untuk menciumnya, menjelaskan mood yang buruk, atau merasa tidak nyaman dalam hubungan serta mencoba menjelaskan alasan di balik hal tersebut.

Terapis hubungan Rosara Torrisi menyarankan untuk menggunakan metode "Marshall Rosenberg's Non Violent Communication", di mana mendorong semua orang untuk memiliki kosa kata yang lebih baik tentang kebutuhan, emosi, dan nilai-nilai mereka.

Terlepas kamu mencoba atau tidak, yang terpenting adalah fokus pada perasaan sendiri, seperti "saya merasa", dibandingkan menunjukkan perasaan terhadap pasangan, atau mencoba melakukan sesuatu hal lain.

2. Jika ragu harus berapa banyak, ceritakan semua

Jika kamu tidak yakin berapa banyak cerita dan perasaan yang harus dibagikan, mulailah dengan asumsi bahwa kamu harus membagikan semuanya.

"Sebagian besar pria cenderung menahan daripada berterus-terang, dan pilih berkomunikasi pakai telepati daripada secara tegas," ujar terapis pernikahan dan keluarga Paul Hokemeyer.

"Untuk alasan ini, saya mendorong mereka untuk mengatakan hal-hal yang mereka rasa tidak perlu dikatakan dan tidak apa menjelaskan secara lengkap pengalaman dan perasaan pada pasangan," katanya.

3. Jika mulai terasa "panas", ambil langkah mundur

Amarah dan komunikasi tidak bisa bersatu. Coba ingat lagi, ketika kamu menyakiti pasangan, mungkin saat itu kamu sedang marah. 

"Ketika tengah bertikai dengan pasangan, kita diperintah oleh bagian paling dasar dan primitif dari sistem saraf pusat," kata Hokemeyer.

Karena itu, saat marah upaya kita berkomunikasi bukan memperbaiki masalah, namun justru berakhir lebih buruk karena kita tanpa sadar melontarkan kata-kata yang menyakiti.

Untuk menghindari lingkaran yang merusak tersebut, cobalah melangkah mundur ketika komunikasi semakin panas.

Katakan, "Ini bukan waktu yang baik untuk membicarakan hal ini sekarang. Saya akan berjalan-jalan dan menjernihkan pikiran saya."

Menurut Torrisi, idealnya ambil jeda setidaknya 30 menit saat konflik untuk membiarkan detak jantung beristirahat, pikiran tenang dan memikirkan cara lebih baik mengekspresikan diri.

Jika pasangan benar-benar tidak akan membiarkan kamu pergi, Hokemeyer menyarankan menghitung hingga 50 kali di kepala sebelum merespons.

Hal ini dilakukan agar tidak ikut larut dalam konflik, serta memikirkan strategi lebih baik untuk penyelesaiannya. 

4. Jangan mencoba memperbaiki semuanya

Drenner menyebutkan, salah satu kesalahan terbesar yang cenderung dilakukan pria dalam komunikasi adalah berusaha untuk memperbaiki masalah yang bahkan mungkin tidak ada.

"Sering kali, pasangan hanya ingin berbagi apa yang sedang ia hadapi atau melampiaskan sesuatu, bukan benar-benar mencari solusi,” katanya.

Yang mereka butuhkan terkadang hanya ingin didengarkan dan diperhatikan.

5. Jangan hanya bicara

Kebanyakan pasangan berdebat karena alasannya sepele--salah satu atau keduanya belum mencoba mendengarkan pasangan mereka.

Yang dilakukan hanya bicara, tapi lupa mendengarkan.

Kamu mungkin sangat fokus untuk membuktikan pendapat sendiri, sehingga tidak benar-benar mendengarkan pendapat pasangan.

Bahkan jika kamu tidak setuju dengan apa yang dikatakan pasangan, penting untuk mendengarkan dan secara aktif mencoba memahami perspektif mereka.

"Cobalah berusaha untuk memahami daripada dipahami," kata Drenner.

6. Gunakan perasaan

"Laki-laki umumnya dibiasakan untuk berpikir daripada merasa," kata Hokemeyer.

Karena anak laki-laki diberi tahu baik secara sadar maupun tidak sadar bahwa mereka lemah ketika menunjukkan emosi. Makanya saat dewasa pria sulit untuk menggunakan perasan.

Langkah awal untuk memperbaiki berkomunikasi dengan pasangan adalah belajar bagaimana membagikan perasaan.

"Komunikasi, terutama komunikasi bersama pasangan, membutuhkan tingkat sensitivitas yang sering kali menimbulkan perasaan tidak nyaman dan di luar kendali," kata Hokemeyer.

Bahkan, bisa berbicara secara rasional dan jujur tentang perasaan lebih menarik daripada tanpa emosi sana sekali. Seringkali perempuan, melihat pria yang jujur tentang perasaannya, dan menunjukkan sisi emosinya, adalah pria yang kuat.  

7. Meminta bantuan

Hal hebat tentang belajar berkomunikasi saat menjalin hubungan adalah tidak sendiri.

Setiap masing-masing dari kamu harus saling membantu, terutama dalam hal belajar komunikasi. Jika memang perlu, mintalah masukan dari pasangan.

Hal itu lebih baik daripada mengkritik dan mempermalukan mereka karena kesulitan serta ketidaksempurnaan.

Belajar berkomunikasi secara lebih langsung, jujur, dan emosional adalah suatu proses, dan sebagian dari proses itu adalah mengakui bahwa kamu tidak akan segera menjadi sempurna.

*Sumber: kompas.com

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar