SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS/WA 0852 5968 1245 || Facebook : Nuansa Bojonegoro || Twitter : @nuansafmbjn || Instagram : @nuansaradio || E-Mail : nuansaradio722@gmail.com || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Senin, 13 April 2020

Bikin Emosi, Mertua Suapi Anak Sambil Jalan-jalan

Senin, 13 April 2020 18:28:00

Bikin Emosi, Mertua Suapi Anak Sambil Jalan-jalan

Mertua oh mertua. Ada saja yang kelakuan mertua yang bikin emosi. Bagi Cici, salah satu kebiasaan mertua yang tak bisa ditoleransi adalah menyuapi anaknya makan sambil jalan-jalan. Apakah Cici berani speak up? Simak curhatannya.

Pengalamanku menjadi ibu memang belum banyak. Anak baru satu, usiaku baru 27. Aku baru merasakan peran sebagai ibu selama 2 tahun terakhir. Tapi bukan berarti aku minim pengetahuan tentang pola pengasuhan.

Aku banyak membaca tips parenting dari sumber yang kredibel. Ikut komunitas parenting yang bermutu. Aku juga punya kenalan dokter anak andalan. Jadi aku cukup percaya diri dengan apa yang aku terapkan ke si kecil.

Tapi sebanyak apapun data yang aku paparkan, rasanya tak akan mempan untuk ibu mertuaku. Ya, aku dan ibu mertua sering berseberangan terkait pengasuhan anak. Yang paling bikin aku emosi adalah dia sering menyuapi makan anakku, Rachel, sambil jalan-jalan.

Tentu aku pernah menegurnya dengan cara yang halus.

“Ma, Rachel makan di dalam rumah aja ya. Kalau sambil jalan-jalan nanti makannya jadi lama,” saranku.

“Nggak apa ah di luar aja. Kasihan loh kalau makan di rumah terus dia cepat bosan. Makannya jadi dikit,”

“Tapi kalau makan di luar nggak bagus juga loh Ma. Nanti makanannya kena debu. Kalau makan di rumah kan enak bisa sambil ngajarin etika makan sambil duduk,”

“Itu mah bisa nanti. Yang penting masa balita gini Rachel makannya banyak,” jawab ibu mertua lalu pergi sambil menggandeng anakku.

Begitulah ibu mertuaku. Selalu merasa benar dan meremehkan saranku hanya karena dia merasa berpengalaman.

“Kalau cara Mama salah, buktinya suami kamu sehat-sehat aja tuh sampai gede,” tuturnya. Kalimat ini jadi andalannya kalau kami sedang berdebat.

Mertua memang hampir setiap hari berkunjung ke rumah kami. Jarak rumah kami berdekatan, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Intensitasnya berkunjung membuatnya ingin terlibat dalam cara kami mengasuh Rachel.

Menyuapi Rachel makan sambil jalan-jalan tak hanya dilakukan mertua sekali dua kali. Hampir setiap dia punya kesempatan menyuapi anakku, pasti dilakukan sambil keliling komplek.

Karenanya, aku berusaha lebih dulu menyuapi Rachel sebelum ibu mertua datang. Sayangnya, dia sering datang pada waktu yang tidak terduga.

Kalau aku dan mertua berdebat, suami biasanya berusaha netral. Netral yang dimaksud adalah dia tidak berkomentar apapun, bahkan berusaha menghindar. Katanya, kalau dia ikut bicara, perdebatan ringan bisa-bisa jadi konflik besar.

Tapi ini sudah tidak bisa dibiarkan. Suamiku tak bisa terus-terusan bersikap netral. Dia harus mengambil sikap demi kebaikan Rachel.

Aku memaksa suami menjelaskan ke ibu mertua bahwa cara terbaik menyuapi anak adalah sambil duduk. Selain mencegah tersedak, cara ini juga mengajarkan anak etika makan sejak dini.

Untungnya suami mau dan ibu mertua pun menurut. Ternyata kalau yang menjelaskan anaknya sendiri dia mau mendengarkan. Nasib memang, menantu selamanya tak bisa dianggap seperti anak sendiri.

*Sumber: kumparan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar