SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Jumat, 30 Agustus 2019

Yang Bisa Orang Tua Lakukan Agar Balita Tumbuh Cerdas

Jum'at, 30 Agustus 2019 17:20:00

Yang Bisa Orang Tua Lakukan Agar Balita Tumbuh Cerdas

Setiap orang tua pasti menginginkan balita tumbuh cerdas, baik secara intelektual ataupun emosional. Peran orang tua dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk membantu si kecil mengembangkan kemampuannya.

Cara pengasuhan yang tepat juga bisa membantu mengembangkan kemampuan dan kecerdasan anak. Melansir dari Baby Centre, berikut ini ada 5 kiat efektif, yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan pengalaman dan pengetahuan balita Anda agar tumbuh menjadi anak yang cerdas:

1. Sering-seringlah Mengajak Bicara

Editor Brain Rules for Baby, Tracy Cutchlow mengatakan bahwa semakin Anda banyak bicara dengan balita, semakin banyak pula kata yang akan dia ucapkan. Para ahli juga merekomendasikan untuk sering menceritakan tentang keseharian Anda padanya.

Hal itu bisa membuat si kecil terbiasa dengan kata-kata baru dari ibunya. Anda juga bisa membacakan buku cerita padanya. Bercerita dengan kosakata yang beragam, bagus untuk mengembangkan keterampilan

2. Ajarkan Cara Menyampaikan Emosi

Menurut Ross Flom, seorang profesor psikologi dan ilmu saraf di Universitas Brigham Young di Provo, Utah, mengembangkan kecerdasan emosional sejak dini sangat penting bagi perkembangan dan sosial balita Anda.

"Misalnya ketika ia menabrak kotak pasir, katakan padanya bahwa itu adalah ketidaksengajaan. Hal itu membuat ia berpikir agar tidak marah dan memang itu kesalahannya," ujar Flom.

Hal ini akan membantunya mengembangkan emosi positif dan lebih berempati dengan orang lain. Dengan membantunya menghubungkan perasaan dan tindakan akan membangun kecerdasan emosionalnya seumur hidup.

3. Pemainan Kecerdasan

"Cobalah memainkan jenis permaiann tertentu yang berfokus pada kontrol impulsif dan pengaturan diri," kata Tracy. Misalnya, ketika ia bermain drum, Anda memukul sekali dan balita Anda seharusnya memukul 2 kali. Hal ini akan membuatnya berpikir sejenak dan mengesampingkan respons yang datang lebih dulu.

Permainan seperti ini cocok untuk mengembangkan keterampilan matematika, yang merupakan kunci untuk membangun fungsi eksekutif. Fungsi eksekutif yang dimaksud adalah kemampuan otak untuk merencanakan, menetapkan tujuan, dan konsisten. Selain itu, fungsi ini juga menjadi indikator prediksi keberhasilan akademiknya di sekolah.

4. Buat Ruang Kreatif

Ahli biologi molekuler dan Brain Rules for Baby, John Medina mengatakan untuk menumbuhkan kreativitas alami balita, orang tua bisa menciptakan lingkungan yang ramah imajinsi. Buatlah ruang kecil di satu sudut rumah khusus meletakkan kotak kosong beberapa krayon dan mainan yang menyenangkan. Misalnya Anda bisa meletakkan alat musik kecil, alat menggambar atau melukis, permainan balok, dan apapun yang bisa mendorong kreativitasnya.

5. Berikan Apresiasi

Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang sering memberi apresiasi atas kerja keras anak, membuatnya lebih berprestasi di sekolah. Tracy mengatakan, ketika balita tumbuh dewasa, mereka akan memiliki apa yang disebut 'mindset berkembang', yaitu keyakinan bahwa mereka bisa berbuat lebih banyak jika mencoba) daripada 'mindset tetap', yaitu keyakinan bahwa apa yang bisa mereka lakukan ditentukan oleh bawaan atau IQ mereka).

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 27 Agustus 2019

Perawatan Gigi Berlubang Ada 5 Tahapannya

Selasa, 27 Agustus 2019 18:09:18

Perawatan Gigi Berlubang Ada 5 Tahapannya

Gigi berlubang kemungkinan besar disebabkan kelalaian dalam merawat gigi. Di antaranya dipicu malas menyikat gigi sebelum tidur hingga cara sikat gigi yang salah. Saat Anda memiliki gigi berlubang, segera periksa ke dokter. Jenis perawatan gigi berlubang yang diberikan oleh dokter sesuai dengan tingkat keparahan gigi setiap orang.
Berikut ini beberapa jenis perawatan gigi berlubang yang mungkin Anda perlukan.

1. Perawatan fluoride

Jika gigi Anda baru saja berlubang, perawatan fluoride dapat membantu mengembalikan enamel gigi (lapisan luar gigi) sehingga gigi berlubang bisa kembali seperti semula. Perawatan fluoride bisa berupa cairan, gel atau busa yang disikatkan atau dioleskan pada gigi Anda.

2. Penambalan gigi

Dokter gigi akan menggunakan bur, dan menghilangkan kotoran yang ada pada lubang gigi. Setelah bersih, dokter gigi kemudian akan menambal gigi Anda menggunakan bahan tambal, yaitu resin komposit.

3. Pemasangan mahkota jaket

Tindakan ini dilakukan jika gigi berlubang sudah lebih parah, sehingga hanya menyisakan sedikit mahkota gigi. Dokter akan memasang penutup khusus yang pas pada gigi Anda untuk mengganti mahkota aslinya.

4. Perawatan saluran akar

Ketika kerusakan gigi menyebabkan kematian saraf, dokter gigi akan melakukan perawatan saluran akar untuk menyelamatkan gigi Anda. Dokter gigi akan menghilangkan jaringan saraf, jaringan pembuluh darah, dan area gigi yang membusuk. Kemudian, dokter akan memeriksa infeksi dan menerapkan obat pada saluran akar. Lalu, akan dilakukan penambalan gigi atau bahkan pemasangan mahkota jaket.

5. Pencabutan gigi

Ketika gigi yang berlubang menjadi sangat rusak, sehingga sudah tidak dapat dipulihkan maka harus dicabut. Pencabutan gigi dapat membuat celah yang memungkinkan gigi lain untuk bergeser. Oleh sebab itu, setelah melakukan pencabutan gigi Anda dianjurkan untuk melakukan pemasangan gigi palsu.

Sumber: https://www.cantika.com/read/1239879/
perawatan-gigi-berlubang-ada-5-tahapannya

Senin, 26 Agustus 2019

Tak Usah Isap dan Ikat Luka Gigitan Ular, Lakukan Ini Saja!

Senin, 26 Agustus 2019 17:46:06
 
Tak Usah Isap dan Ikat Luka Gigitan Ular, Lakukan Ini Saja!

Satpam di Gading Serpong, Iskandar (44), meninggal dunia usai digigit weling, ular nomor empat paling berbisa di dunia. Bila Anda digigit atau menemui kasus gigitan ular, lakukan langkah ini.

Dikatakan sang istri, Iskandar sempat mengisap bekas gigitan ular weling. Padahal cara ini termasuk salah satu yang tak perlu dilakukan. Hal ini disampaikan oleh Pakar penanganan gigitan hewan berbisa (toksinolog) sekaligus penasihat temporer WHO untuk gigitan ular, dr Tri Maharani.

Setidaknya ada enam langkah yang jangan Anda lakukan bila digigit ular: jangan bawa ke dukun, jangan diisap atau disedot, jangan ditoreh dan dikeluarkan darahnya, jangan dipijat, jangan diikat, dan jangan menggunakan obat herbal.

"Jangan sedot darahya. Orang Indonesia berpikir setelah digigit ular, maka bisa ular masuk lewat pembuluh darah. Padahal, bisa ular itu masuk ke kelenjar getah bening dulu," kata Maha, sapaan Maharani penyabet gelar Doktor biomedis dari Universitas Brawijaya ini.

Jadi, tak ada gunanya menyedot darah bekas gigitan ular. Bisa ular bukan bekerja mengandalkan pembuluh darah, melainkan kelenjar getah bening. Maka tak ada gunanya pula mengikat kencang-kencang dengan harapan untuk menghambat aliran pembuluh darah.

"Jangan ikat bagian tubuh yang terkena gigitan ular. Justru cara tersebut menjadikan aliran darah terhenti dan bagian tubuh yang diikat akan mengalami kematian jaringan, akibatnya harus diamputasi," kata Maha.

Maha menjelaskan, langkah pertama yang perlu dilakukan bukanlah menghambat aliran darah melainkan menghambat peredaran bisa ular ke sekujur tubuh korban. Bagaimana caranya? Imobilisasi, yakni mencegah agar bagian tubuh yang kena gigitan itu tidak bergerak.

"Tujuan imobilisasi adalah menunda racun menjalar ke seluruh tubuh dan merusak organ-organ tubuh kita," kata dia.

Misalnya jari tangan tergigit ular weling atau ular lainnya. Ganjal gerak tangan tersebut dengan jepitan dua balok kayu dari ketiak hingga ujung tangan. Bukan berarti dibebat sekencang mungkin karena tujuannya bukanlah menghambat aliran darah, melainkan supaya tangan tidak banyak bergerak

"Cara ini agar kelenjar getah bening tidak mengalirkan bisa ular ke seluruh tubuh. Bila otot-otot itu bergerak, maka kelenjar getah bening akan mengalirkan bisa ular itu," kata Maha.

Seringkali, korban gigitan ular harus bergerak ke sana ke mari, bisa jadi karena panik namun bisa juga karena kebutuhan mencari selamat. Bila racun sudah menjalar ke seluruh tubuh, neurotoksin (racun syaraf yang dikandung bisa weling) bisa berdampak sistemik.

"Antivenom diberikan di fase yang menuju ke arah sistemik," kata dia. Bila penanganan terlambat dan racun sudah menyebar sekujur tubuh, antivenom sulit untuk menyembuhkan korban. Namun bila penanganan pertama sudah benar, yakni dilakukan imobilisasi, maka antivenom bisa lebih efektif bekerja.

Maha juga menyarankan agar pihak korban gigitan ular melakukan pangillan telepon 119, yakni layanan Kementerian Kesehatan RI yang berlaku secara nasional. Bisa juga, pihak korban menelepon ke 112, nomor darurat yang disediakan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

"Teleponlah nomor darurat 119 atau 112, pasti ambulan datang dan ditolong," kata dia.

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-4678801/
tak-usah-isap-dan-ikat-luka-gigitan-ular-lakukan-ini-saja

Kamis, 22 Agustus 2019

Tips Anti Stres untuk Ibu Bekerja yang Baru Jadi IRT

Kamis, 22 Agustus 2019 18:07:06

Tips Anti Stres untuk Ibu Bekerja yang Baru Jadi IRT

Karena berbagai pertimbangan, Anda memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Tentu saja ada perasaan senang, karena sekarang Anda bisa lebih sering bersama si kecil. Tapi karena pada kenyataannya, selain rasa senang bisa jadi Anda pun merasa stres, lho. Maklum saja, rutinitas Anda sehari-hari akan berubah drastis!

Inilah yang harus Anda waspadai, Moms. Rasa cemas serta stres yang berlebih tentu dapat berdampak pada kondisi kesehatan. Entah itu buat Anda jadi susah tidur, susah makan, hingga berpengaruh pada kehidupan seksual Anda. Lantas, apa yang bisa Anda lakukan agar tidak merasa stres saat harus berada di rumah?

Buat Jadwal Harian

Agar semuanya rencana bisa aman terkendali, sebaiknya buatlah jadwal kegiatan yang akan dilakukan keesokan harinya. Pilihlah kegiatan yang menjadi prioritas seperti membayar tagihan listrik, air, dan membeli keperluan rumah tangga.

Selain memudahkan Anda untuk mengingat rencana apa saja yang akan dilakukan, jadwal yang terstruktur juga bisa membantu Anda agar tidak panik dan stres.

Jaga Komunikasi dengan Suami

Karena lelah dengan semua pekerjaan rumah yang dilakukan, Anda jadi malas untuk berkomunikasi dengan suami di malam hari. Ingat, Moms, salah satu kunci keharmonisan Anda dengan suami adalah komunikasi.

Begitu juga bila saat sama-sama bekerja Anda sering menyempatkan diri untuk pulang bersama atau mampir di resto favorit untuk ngobrol dengan suami misalnya. Cobalah untuk tetap melakukannya. Buat janji makan siang atau 'kencan' setelah waktu suami bekerja.

Minta Bantuan

Jika Anda merasa tidak sanggup untuk melakukan semua pekerjaan rumah sendirian, jangan gengsi untuk meminta bantuan suami atau asisten rumah tangga maupun bantuan lainnya. Jika Anda terus merasa gengsi dan selalu merasa bisa melakukan semuanya sendiri, maka tidak heran jika Anda jadi cepat stres dan memiliki emosi yang tidak terkontrol.

Lakukan hal-hal yang menyenangkan dan menenangkan

Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga tidak bisa bersenang-senang? Setelah mengikuti jadwal yang telah Anda buat, sisipkan waktu untuk diri sendiri, meski hanya 30 menit sehari. Anda bisa pergi refleksi, tidur siang, pergi ke mal, atau pergi ke salon untuk menata rambut Anda.

Tetap Jaga Relasi

Meski sudah berhenti bekerja, bukan berarti Anda harus berhenti berhubungan dengan teman-teman atau relasi Anda.
Tetaplah menjaga relasi dan silaturahmi, Moms! Ini penting dan akan mencegah Anda stres karena merasa 'tercabut dari dunia' yang selama ini Anda kenal.

Terus Baca Berita

Selain relasi, Anda juga perlu terus membaca berita agar tetap tahu apa-apa yang tengah terjadi di luar urusan anak, rumah dan keluarga. Dengan mengikuti berita, Anda juga jadi tidak merasa bosan, bisa menambah wawasan dan punya banyak bahan percakapan. Asyik, kan?

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 20 Agustus 2019

Konsumsi Makanan Manis Berlebihan Ikut Memicu Hipertensi

Selasa, 20 Agustus 2019 17:40:28

Konsumsi Makanan Manis Berlebihan Ikut Memicu Hipertensi

Pola makan yang tidak seimbang menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan tekanan darah atau hipertensi pada tubuh Anda. Hipertensi bisa saja muncul ketika Anda menyantap beberapa jenis makanan secara berlebihan. Contohnya makanan dengan kadar tinggi garam dan berlemak. Ternyata tak hanya itu saja, makanan manis pun juga turut memicu hipertensi.

Makanan tinggi garam sudah lama diketahui bisa memicu hipertensi, tapi makanan tinggi gula pun ternyata termasuk dalam jenis makanan penyebab darah tinggi. Saat kita mengonsumsi makanan dengan kandungan glukosa tinggi, tubuh akan merespons dengan memproduksi insulin.

Kadar insulin terlalu tinggi akan memengaruhi tekanan darah karena akan mengurangi pengeluaran air dan garam oleh ginjal. Selain itu, kondisi insulin yang selalu berlebihan bisa menimbulkan resistensi insulin dalam tubuh.

Resistensi insulin membuat tubuh sulit menyimpan magnesium. Bila kadar magnesium rendah dalam tubuh, pembuluh darah akan menjadi kaku dan tekanan darah akan naik.

Gula jenis fruktosa juga berdampak dalam meningkatkan asam urat. Kadar asam urat yang tinggi akan meningkatkan tekanan darah dengan cara menekan kadar nitrogen monoksida (NO), yang berfungsi menjaga kelenturan pembuluh darah.

Contoh makanan penyebab darah tinggi yang banyak mengandung gula adalah:

- Makanan olahan dan camilan manis, misalnya biskuit, sereal, aneka kue, berbagai roti putih, serta nasi putih.

- Aneka minuman ringan dan minuman dalam kemasan, seperti sirop maupun minuman bersoda.

Semua yang berlebihan tidaklah baik. Ungkapan ini juga berlaku untuk konsumsi makanan penyebab darah tinggi. Apabila dikonsumsi dalam batas wajar, berbagai makanan maupun minuman di atas jarang menyebabkan gangguan pada tubuh. Namun bila disantap secara berlebihan, efek jangka panjangnya bisa saja mengganggu kesehatan.


Sumber: https://www.cantika.com/read/1237658/
konsumsi-makanan-manis-berlebihan-ikut-memicu-hipertensi

Senin, 19 Agustus 2019

3 Cara Atasi Anak yang Tidak Suka Makan Sayur dan Buah

Senin, 19 Agustus 2019 17:25:11

3 Cara Atasi Anak yang Tidak Suka Makan Sayur dan Buah

Salah satu gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak didapatkan dari sayur dan buah. Sayang, membiasakan anak untuk menyantap makanan sehat tersebut bukan tanpa halangan. Saat ini, beragam pilihan camilan dan santapan kemasan begitu mudah dijumpai – bahkan dipasarkan secara jitu untuk menyasar kalangan anak. Tak mengejutkan bila konsumsi sayur dan buah mereka pun kerap terabaikan.

Sejalan dengan kampanye ‘Eat Like A Pro’, Beko, Europe’s number 1 freestanding home appliances brand, mengajak orang tua untuk semakin memperhatikan asupan sehat bagi anak. Salah satunya dengan mempersiapkan camilan kaya gizi guna mendukung aktivitas harian dan pertumbuhan anak.

Country General Manager Beko Indonesia Ali Cagri Gonculer mengingatkan World Health Organization (WHO) menganjurkan jumlah konsumsi sayur dan buah pada anak sebanyak 5 porsi atau sekitar 400 gram setiap hari hari. Sayangnya, berdasarkan survei global Beko, hanya 1 dari 5 anak yang mengetahui jumlah porsi harian sayur dan buah yang direkomendasikan tersebut . Di Asia, rasionya jauh lebih buruk. Sementara di Indonesia, Riskesdas 2018 menyebut baru 5 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi sayur dan buah secara mencukupi.

"Padahal, manfaat konsumsi sayur dan buah sesuai anjuran tak bisa dipungkiri lagi. Dari menjaga kondisi tubuh, melancarkan pencernaan, hingga mencegah risiko berbagai Penyakit Tidak Menular, serta kondisi obesitas pada anak," kata Ali Cagri Gonculer dala keterangan pers yang diterima Tempo pada 1 Agustus 2019.

Masih banyak anak-anak yang enggan atau sama sekali menolak, menyantap sayur dan buah. Mereka menjadi ‘pemilih makanan’ dan hanya mau memakan yang disukai. Padahal, anak-anak membutuhkan beragam jenis sayur dan buah setiap hari guna menunjang kebutuhan tubuh dan aktivitas hariannya. Kebiasaan sedari dini menjadi faktor kunci yang berpengaruh kuat pada gemar dan tidak anak untuk menyantap sayur dan buah. Karenanya, memperkenalkan berbagai jenis buah atau sayur sebaiknya dilakukan sejak masa MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) atau usia 6-12 bulan.

Dengan demikian, pada usia berikutnya, anak lebih terbiasa dengan aroma dan cita rasa sayur dan buah sehingga bisa menggemarinya. Di sinilah peran orang tua semakin krusial. Tak hanya pemahaman dan ketelatenan, namun cara cerdik juga diperlukan untuk mengubah si ‘pemilih makanan’ menjadi ‘pencinta sayur dan buah’.

Chef ternama, Steby Rafael yang juga ayah dari seorang putra, berbagi taktik membuat anak menggemari sayur dan buah:

1. Potong buah segar (beraneka warna dan jenis) menjadi beberapa potongan kecil agar anak mudah untuk memakannya. Sajikan dengan kombinasi warna yang menarik dan sajikan dalam kondisi sejuk (masukkan ke dalam lemari es selama 20 menit sebelum disajikan).

2. Sajikan smoothies bowl dengan pugasan potongan buah segar yang ditata memikat – seperti meniru karakter kartun atau tampilan bunga, agar anak anak tertarik dan tergoda untuk menyantapnya.

3. Untuk memudahkan anak dalam mengonsumsi, smoothies dengan tekstur yang halus bisa menjadi alternatif. Mengombinasikan jenis buah dan sayur yang manis dan sedikit asam, serta memiliki warna-warna yang kontras bisa menciptakan daya tarik tersendiri bagi anak.

Vacuum Blender dari Beko mampu mencegah proses oksidasi, sehingga kandungan nutrisi sayur dan buah tetap tejaga. Ali mengatakan dengan dukungan peralatan rumah tangga berteknologi terdepan, serta keteguhan komitmen orang tua dalam membiasakan dan menyiapkan makanan sehat, timnya berharap kesadaran anak-anak untuk secara rutin mengonsumsi sayur dan buah semakin meningkat.

"Kami percaya, bermula dari pola makan yang sehat dan seimbang serta penerapan gaya hidup sehat, anak-anak Indonesia dapat meraih potensi terbaik dan meraih masa depan yang lebih cemerlang,” ucap Ali.

Sumber: https://www.cantika.com/read/1234328/3-cara-atasi-anak-yang-tidak-suka-makan-sayur-dan-buah

Minggu, 18 Agustus 2019

Berbagai Penyebab dan Faktor Risiko Terbentuknya Batu Empedu

Minggu, 18 Agustus 2019 18:07:04

Berbagai Penyebab dan Faktor Risiko Terbentuknya Batu Empedu

Penyakit batu empedu adalah salah satu gangguan pencernaan yang umum tapi sering tidak disadari. Dalam kasus yang parah, batu empedu bisa mengancam jiwa. Nah, mengetahui apa penyebab batu empedu bisa membantu Anda mengenali gejalanya, serta mencari perawatan dan pengobatannya yang tepat agar tidak semakin parah.

Bagaimana batu terbentuk di empedu?

Empedu sejatinya adalah cairan yang diproduksi oleh hati untuk merangsang usus meremas makanan dan memecah lemak dalam makanan yang kita makan.

Setelah hati memproduksi empedu, cairan tersebut akan “dioper” ke kantung empedu untuk disimpan sementara. Kantung empedu berukuran sebesar buah pir dan terletak di bawah hati, sementara saluran empedu memanjang dari hati ke usus.

Empedu juga membantu menghilangkan kelebihan kolesterol dari tubuh. Hati mengeluarkan kolesterol ke dalam empedu, yang kemudian dihilangkan dari tubuh melalui sistem pencernaan.
Saat makanan sudah dicerna dari lambung ke usus kecil, kantung empedu baru melepaskan empedu melewati saluran empedu. Di saat inilah cairan empedu mulai aktif mengerjakan tugasnya.

Batu terbentuk di empedu dari kelebihan cairan yang seharusnya dibuang malah jadi menumpuk, menggumpal, dan akhirnya mengeras seperti kristal. Batu dapat terbentuk di kantung empedu atau di mana pun sepanjang salurannya sehingga pengaliran empedu baru tersumbat. Ini dapat menghalangi kerja kantung empedu.

Gejala Anda terkena batu empedu antara lain rasa sakit di perut kanan atas yang bisa menjalar sampai tengah (bawah tulang dada). Selain itu, batu empedu juga bisa jadi penyebab Anda sering merasa mual, muntah-muntah, dan nyeri punggung di antara tulang bahu.

Penyebab terbentuknya batu empedu

Seperti yang telah dijelaskan di atas, batu empedu terbentuk dari kelebihan zat atau cairan sisa yang akhirnya menggumpal dan mengeras.

Batu empedu bisa berukuran sangat kecil mulai dari sebutir pasir hingga sebesar bola golf. Batu empedu yang kecil biasanya tidak memunculkan efek apa pun. Namun semakin besar ukuran batunya, Anda akan merasakan berbagai gejala yang menyakitkan.

Namun, apa penyebab terbentuknya batu empedu?

1. Empedu mengandung terlalu banyak kolesterol

Cairan empedu normal harusnya mengandung cukup senyawa garam empedu untuk melarutkan kolesterol yang dikeluarkan oleh hati.

Namun jika hati terlalu banyak memproduksi kolesterol, cairan empedu akan mengandung lebih banyak kolesterol daripada zat pelarutnya.

Hal ini menyebabkan kolesterol jadi sulit dipecah oleh empedu, sehingga mengkristal dan akhirnya berubah menjadi batu.

2. Banyak bilirubin dalam kantung empedu

Bilirubin adalah zat kimia yang dihasilkan tubuh untuk memecah sel darah merah. Kondisi tertentu dapat menyebabkan hati Anda memproduksi bilirubin terlalu banyak. Bilirubin yang berlebih bisa mengeras yang akan berakhir menjadi batu di dalam empedu.

Beberapa gangguan yang membuat tubuh memproduksi terlalu banyak bilirubun adalah sirosis hati, infeksi saluran empedu, dan gangguan darah tertentu. Kesemua itu kemudian dapat menjadi penyebab terbentuknya batu di empedu.

3. Kantung empedu Anda tidak kosong total

Empedu tugasnya mencerna dan memproses kolesterol sampai habis. Apabila kantung empedu tidak bisa mengosongkan isinya secara teratur atau sepenuhnya, artinya Anda masih memiliki sisa-sisa kolesterol yang tidak terbuang. Hal ini dapat menjadi penyebab batu terbentuk di kantung empedu. [lis]

Sumber: halosehat.com

Sabtu, 17 Agustus 2019

Ini Pentingnya Minta Maaf pada Anak

Sabtu, 17 Agustus 2019 17:40:02

Ini Pentingnya Minta Maaf pada Anak

Sebagai orang tua, minta maaf biasanya jadi salah satu hal yang kita ajarkan atau sering ingatkan pada anak. Kita ingin, anak tahu kapan ia harus minta maaf dan  terbiasa melakukannya.

Namun sebaliknya, tidak banyak orang tua yang terbiasa minta maaf pada anak. Alasannya bisa bermacam-macam. Termasuk salah satunya, takut kalau meminta maaf pada anak akan mengurangi wibawa sebagai orang tua. Kalau sudah kehilangan wibawa, bisa-bisa anak jadi tidak menurut atau tidak hormat.

Faktanya? Yang akan terjadi justru sebaliknya lho, Moms! Bukankah kita akan lebih menghargai dan menghormati orang lain ketika mereka mau mengakui kesalahan mereka dan mencoba memperbaikinya?

Dilansir Psychology Today, menurut psikolog Laura Markham Ph.D, meminta maaf kepada anak saat kita lalai juga tidak membuat kita kehilangan otoritas untuk menegur dan mengingatkan mereka saat berbuat salah. Tak usah khawatir, anak-anak tetap tahu kok, siapa yang menjadi pemimpin di rumah.

Jadi tidak perlu merasa sungkan, ragu atau malu meminta maaf pada anak sebab kita juga tidak perlu selalu benar atau jadi sosok yang sempurna. Orang tua kan, juga manusia?

Menolak atau menghindari permintaan maaf pada anak juga akan membuat anak menangkap 'pesan' yang salah seperti beberapa contoh berikut ini:

- Meminta maaf itu hal yang memalukan.
- Berbuat salah, mengecewakan atau menyakiti orang lain itu tidak apa-apa dan kita juga tidak perlu mengakui atau mencoba memperbaikinya.
- Minta maaf itu tidak keren!
- Meminta maaf adalah sesuatu yang kita lakukan hanya bila terpaksa saja.

Nah Moms, tidak mau dong, anak sampai salah mengerti seperti ini?

Lebih baik, ajarkan anak pentingnya minta maaf dengan langsung memberi mereka contoh nyata: minta maaf padanya. Ini akan membuat anak mendapat 'pesan' yang baik seperti:

- Kita semua kadang-kadang membuat kesalahan dan kita bisa mencoba untuk memperbaikinya.
- Kita semua terkadang menyakiti orang lain. Sangat penting untuk mengakui ketika kita melakukan hal ini dan berusaha menebusnya.
- Ketika kita meminta maaf, orang lain akan merasa lebih baik dan juga dapat berpikir lebih baik tentang kita.
- Tidak perlu malu meminta maaf. Karena minta maaf justru baik dan bisa membuat kita merasa lebih tenang dan nyaman.

*Sumber: kumparan.com

Rabu, 14 Agustus 2019

Cara Bijak Mengalihkan Perhatian Anak dari Gawai

Rabu, 14 Agustus 2019 16:22:00

Cara Bijak Mengalihkan Perhatian Anak dari Gawai

Terlalu sering bermain gawai bisa mengganggu tumbuh kembang anak. Pasalnya, anak jadi malas beraktivitas, belajar, lalu kecanduan bermain gawai.

Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani mengatakan bahwa gawai sebenarnya bukannya tidak boleh sama sekali untuk anak. Hanya saja, orang tua perlu mengikuti koridor agar tumbuh kembang anak tidak terganggu. Anak usia 1,5 tahun, misalnya, harus dijauhkan dari gawai.

“Anak di bawah 1,5 tahun, orang tua perlu menstimulasi inderanya,” kata Nina, panggilan Anna Surti, beberapa waktu lalu.

Nina menyebut anak berusia di atas enam tahun umumnya diperbolehkan berinteraksi dengan gawai lebih lama dibandingkan dengan anak berusia di bawahnya. Namun, penggunaan gawai tetap harus di bawah pengawasan orang tua.

Lalu bagaimana mengalihkan perhatian anak dari gawai? Orang tua bisa mengajak anak melakukan aktivitas asyik. “Bukan sekadar menyuruh, ajak anak bermain bersama. Kalau ada interaksi menyenangkan yang menunjukkan kegiatan nongadget seru sekali maka anak akan cenderung menyukai kegiatan nongadget. Ini juga melatih kita untuk mengurangi kecanduan gadget,” kata dia.

Nina mengatakan gawai juga sebenarnya bisa digunakan untuk menstimulasi anak, asal penggunaannya tepat. Ia mencontohkan, orang tua bisa memutar musik dari gawai lalu mengajak anak joget.

Orang tua juga dapat menggunakan aplikasi aktivitas anak, atau melatih perhatian anak dengan kamera ponsel. Misalnya menggunakan kamera untuk memotret bunga, lalu di-zoom dan terlihat ternyata bunga itu tidak hanya berwarna merah, tapi juga ada warna lain di benang sari, putik, dan lain-lain. “Menggunakan gadget tidak semua jadi kacau kalau dimanfaatkan dengan bijaksana,” ujar dia.  [ito]


Sumber: https://www.cantika.com/read/1234825/
cara-bijak-mengalihkan-perhatian-anak-dari-gawai

Sabtu, 10 Agustus 2019

Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga, Mana yang Lebih Sulit?

Sabtu, 10 Agustus 2019 17:59:20

Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga, Mana yang Lebih Sulit?

Menjadi ibu rumah tangga, atau beraktualisasi menjadi wanita karir?

Pilihan ini kerap berkecamuk di benak pada perempuan yang sudah membangun rumah tangga dan memiliki anak.
Jawabannya dan keputusannya pun tentu beragam. Tapi, mana yang sesungguhnya terasa lebih berat dan sulit di antara keduanya?

Artis peran yang namanya melambung lewat "Bring It On", Kirsten Dunst merasa jauh lebih mudah untuk kembali ke depan kamera, dan melanjutkan karir, ketimbang berdiam di rumah seperti saat ini.

"Jauh lebuh mudah untuk bekerja, ketimbang berdiam di rumah dan menjadi ibu," ungkap Dunst seperti dilansir laman People.

Namun, terlepas dari itu -tentu saja, tidak ada pekerjaan yang mudah, dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Seperti data yang dilansir Pew Research, sekitar 60 persen warga Amerika Serikat merasa seharusnya seorang ibu berdiam di rumah, dan mengurus rumah tangga.
Kendati survei mengatakan hasil demikian, kenyataannya sebagian besar perempuan berkeluarga di AS memilih untuk berkarir di luar rumah.

Studi yang sama juga mengungkap, para ibu yang tidak bekerja memang memiliki waktu rata-rata yang lebih banyak untuk bersama anak dan mengurus rumah, dibandingkan mereka yang bekerja.

Namun, di sisi lain, ibu yang berada di rumah ternyata memiliki waktu lebih banyak pula untuk bersantai dan tidur.
Sayangnya, belum ada penelitian yang mampu mengungkap berapa banyak waktu yang dihabiskan wanita karir untuk tetap merampungkan tugas domestik, di luar tugas pekerjaan mereka.

Jika demikian, mana yang lebih sulit?

*Sumber: kompas.com

Kamis, 08 Agustus 2019

Etika Mengunggah Foto Anak ke Media Sosial

Kamis, 08 Agustus 2019 17:31:01

Etika Mengunggah Foto Anak ke Media Sosial

Apakah boleh mengunggah foto anak ke media sosial? Tentu hal ini harus menjadi pertimbangan bagi orang tua maupun keluarga, melihat banyaknya kasus kejahatan anak di media sosial. Tersebarnya foto anak di media sosial menyebabkan adanya kemungkinan penyalahgunaan foto anak.

Menurut psikolog, Patricia Elfira Vinny, orang tua harus mengetahui adanya dampak buruk dan bahaya dari mengunggah foto di media sosial, khususnya anak-anak.

Jika orang tua telah mempertimbangkan dan membuat keputusan untuk tetap mengunggah foto anak dengan sejumlah alasan, maka ada hal-hal yang harus diperhatikan jika ingin menguggah foto anak. Berikut etika mengunggah foto anak di media sosial, menurut Patricia.

1. Keamanan Anak

Perhatikan penampilan dan kondisi anak saat difoto untuk diunggah ke media sosial. Pakaikan baju yang rapi dan sopan, juga perhatikan posisi atau pose anak saat difoto.

2. Persetujuan Anak

Sebelum memposting foto anak, tak ada salahnya orang tua meminta izin kepada anak. Meskipun mungkin bagi sebagian anak belum paham dengan hal ini, namun anak perlu diberi kesempatan, apakah dirinya setuju dan merasa nyaman ketika fotonya diunggah ke media sosial ataupun tidak, biarkan anak membuat pilihan.

3. Fokus Pada Kegiatan Anak

Lebih baik foto anak saat ia sedang beraktivitas seperti saat sedang menggambar, saat bermain atau olahraga, dan usahakan fokus dengan hal yang sedang dikerjakan anak, misalkan turut menampilkan lukisan yang sedang digambar ataupun view lingkungan di sekitarnya saat bermain. Usahakan jangan terlalu fokus ke ekspresi wajah anak apalagi pada bagian-bagian tubuh tertentu.

4. Unggah karya anak

Misalkan setelah menggambar atau anak menghasilkan sebuah karya, foto dan unggah ke media sosial. Ini mengajari anak bahwa media sosial bukan sekadar eksistensi fisik seseorang, tapi juga wadah untuk mempublikasikan sebuah karya seni dan masih banyak hal lain yang bisa dimanfaatkan di media sosial.

*Sumber: kumparan.com

Rabu, 07 Agustus 2019

Kapan Bayi Tahu Namanya Sendiri?

Rabu, 07 Agustus 2019 17:12:10

Kapan Bayi Tahu Namanya Sendiri?

Berdiskusi bersama suami untuk memberi nama kepada bayi memang bisa jadi momen yang menyenangkan. Selain memilih nama yang indah, terselip pula doa dan harapan orang tua di baliknya. Tak heran bila setelah si kecil lahir ke dunia, Anda dan pasangan akan selalu memanggil namanya. Tapi sebenarnya, kapan bayi mengetahui namanya sendiri?

Sabar, Moms! Anda perlu menunggu hingga beberapa bulan. Pasalnya meski kadang seolah menoleh atau menatap saat namanya dipanggil, bayi yang baru lahir belum paham saat dipanggil atau namanya disebut. Ia juga tidak menyadari adanya korelasi dari nama yang sering Anda sebutkan itu dengan dirinya.

Menurut laman Baby Centre, umumnya bayi mengetahui namanya sendiri pada usia 6 hingga 9 bulan. Bila namanya dipanggil, bayi akan meresponnya dengan tawa atau senyuman. Selain sudah tahu namanya, di usia ini pula bayi menyukai bermain dengan orang yang sudah dikenalnya dan merasa sedih jika jauh dari mereka.

Meski begitu, dijelaskan oleh Julie Capiola, MD, seorang dokter anak dari Premier Pediatrics, New York, Amerika Serikat, perkembangan setiap bayi berbeda. Sehingga kapan tepatnya bayi benar-benar mengerti dalam rentang usia tersebut di atas bisa bervariasi. Ada yang lebih cepat, ada juga yang lambat. Hal ini wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.

"Yang penting adalah perkembangan sosial bayi mengalami kemajuan dan melakukan hal-hal seperti menanggapi yang Anda katakan dan lakukan dan membuat suara sendiri agar dan mendapatkan perhatian Anda," katanya seperti dilansir The Bump.

Lantas, adakah cara untuk membantu bayi untuk mengenali namanya?

Ada, Moms! Caranya dengan terus memanggil nama buah hati berulang kali dan menyebutkan namanya setiap melakukan sesuatu. Misalnya katakan, “Ini mainanmu, Arka,” atau, "Ini buah untuk Arka, yang ini buah untuk Ibu," sambil menunjuk dirinya dan diri Anda sendiri sehingga bayi mudah memahami.

Kelak ketika memasuki usia 15 hingga 18 bulan, bayi mungkin sudah bisa mengingat dan menyebut namanya. Namun bila belum, bersabarlah lagi. Hingga berumur 24 bulan kemampuannya akan terus bertambah hingga bisa mengucapkan setidaknya 100 kata, yang salah satunya menyebutkan namanya.

Namun jika pada usia 9 bulan bayi Anda terlihat tidak menanggapi saat namanya dipanggil, cobalah bawa ke dokter. Mengutip Essential Parent, dokter akan memeriksa pendengaran, penglihatan dan mungkin melakukan beberapa tes lain untuk mengamati perkembangan lainnya.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 06 Agustus 2019

Ibu-ibu, Anda Jangan Julid! Kata Psikolog, Ini Dampaknya

Selasa, 06 Agustus 2019 17:48:59

Ibu-ibu, Anda Jangan Julid! Kata Psikolog, Ini Dampaknya

“Anda jangan julid,” kalimat ini populer di masyarakat sejak beberapa tahun lalu, termasuk di antara para ibu. Mulanya, penyanyi Syahrini yang dikenal dengan jargonnya yang menggelitik dan khas, mengeluarkan kata-kata tersebut untuk menyindir haters-nya agar tidak terlalu repot dengan urusannya. Sontak, kata itu akrab di telinga dan sering digunakan untuk seseorang yang kerap membicarakan orang lain.

Syahrini yang memiliki darah Sunda, tentu saja sudah paham apa arti julid. Menurut kamus Bahasa Sunda, julid berasal dari kata binjulid yang artinya iri hati atau dengki. Berarti, tidak salah jika Syahrini kerap menggunakan kata itu untuk membalas para haters yang tidak suka dengannya.

Selain julid, kita -para Ibu, tentu juga akrab dengan kata nyinyir. Bahkan, nyinyir banyak digunakan sebagai nama akun gosip di Instagram dengan sebutan Lambe Nyinyir. Menurut KBBI, nyinyir berarti cerewet sedangkan lambe memiliki arti mulut atau ucapan. Ya, pastinya akun itu berisi perihal ‘mengurusi dan mengkritisi’ kehidupan artis dengan caption bermakna sindiran.

Hebohnya jargon Syahrini dan maraknya akun gosip, membuat kita tidak asing dengan dua kata tersebut. Lama-kelamaan, kata julid dan nyinyir kerap kita berikan pada orang yang senang membicarakan orang lain. Termasuk membicarakan gaya pengasuhan atau pilihan-pilihan ibu lain, mungkin?

Lantas, apa efek negatif dari julid dan nyinyir?

Menurut psikolog klinis dan hipnoterapis Alexandra Gabriella., M.Psi, Psi. C.Ht, julid dan nyinyir dilakukan atas dasar iri. Walaupun tidak selalu berhubungan dengan dorongan kompetitif yang tinggi, biasanya ini hanya menyebarkan kejelekan orang lain saja untuk merasa ‘menang’.

“Sehingga ketika kita bisa membuat orang lain terlihat buruk, kita merasa ‘lebih baik’ dari orang tersebut,” jelasnya.

Alexandra menuturkan, orang yang suka julid biasanya cenderung mencari tahu segala sesuatu tentang orang yang dijadikan bahan gosip. Maka, tanpa disadari kita selalu membandingkan kondisi dengan orang tersebut. Sehingga kita pun bisa terus merasa ‘kurang’

Sedangkan Indah Sundari., M.Psi, menganggap julid atau nyinyir sudah menjadi budaya. “Akhirnya itu dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Kenapa banyak terjadi pada perempuan? Karena pada dasarnya perempuan memang suka berbagi cerita soal apapun termasuk julid dan nyinyir,” ucap Founder Aditi Psychological Center itu.

Indah menjelaskan, julid dan nyinyir mempunyai dampak negatif pada psikis. Mereka yang gemar melakukan julid dan nyinyir akan sulit melihat sisi positif dan susah mengembangkan diri ke arah yang lebih baik. Parahnya, tambah Indah, sikap nyinyir dan julid bisa berkembang menjadi sikap benci berlebihan pada seseorang. Kalau sudah begitu, akan ada keinginan untuk berbuat jahat pada orang tersebut.

Pastinya, kita tidak mau jadi sosok yang selalu berpikir negatif kan, Moms? Bila kita seringkali berpikir negatif terhadap orang lain, itu bisa mengganggu kesehatan mental dan sulit membuat diri kita bahagia. Merasa lebih baik karena kekurangan orang lain, benci berlebihan, hingga sulit mengembangkan diri menjadi efek negatif dari sikap julid dan nyinyir.

Kalau sudah menyadari bahwa diri kita kerap berlaku nyinyir dan julid pada orang lain, kita masih bisa menghindari sikap itu.

“Caranya; cari kegiatan yang lebih positif, lebih menghargai dan menyayangi diri sendiri, hindari membandingkan diri kita dengan orang lain, dan menerima diri kita sendiri,” jelas Alexandra Gabriella, psikolog yang berpraktik di Smart Mind Center Alam Sutera.

Indah Sundari menambahkan, untuk tidak mengikuti akun-akun media sosial yang mengarahkan kita untuk julid.

“Kalau ada teman yang mulai julid, kita ingatkan, tapi kalau dia tidak mau diingatkan lebih baik kita yang pergi,” tutupnya.

Daripada julid atau mengikuti orang-orang yang suka julid, lebih baik gunakan waktu untuk membaca buku dan artikel yang positif dan memilih lingkungan yang positif pula. Yang bisa mendorong kita untuk jadi ibu yang lebih baik lagi, mungkin?

*Sumber: kumparan.com

Sabtu, 03 Agustus 2019

Parenting Islami: Bagaimana Hukumnya Bila Suami Menelan ASI Istri?

Sabtu, 03 Agustust 2019 17:15:00

Parenting Islami: Bagaimana Hukumnya Bila Suami Menelan ASI Istri?

Berhubungan seks di masa menyusui mungkin punya sensasi sendiri bagi sebagian pasangan.

Misalnya saja, jika suami Anda dengan sengaja ataupun tidak meminum ASI Anda.

Tapi, jika dilihat dari hukum Islam, bolehkah sebenarnya suami meminum ASI istri?

Moms, sebelum menjawab pertanyaan itu, Ustaz Faishal Shadik M.S.I, menjelaskan kalau suami diperbolehkan untuk mengisap puting istrinya sendiri.

"Bahkan menghisap puting istri dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan biologis sang istri.

Sebagaimana pihak lelaki juga menginginkan agar istrinya dapat terpenuhi kebutuhan biologisnya,"

Sementara soal dosa atau tidaknya menelan ASI sang istri, merujuk pada keputusan para ulama, Ustaz Faishal menjelaskan boleh-boleh saja jika memang membutuhkan, seperti untuk berobat.

Tetapi, jika tidak ada kebutuhan, ulama di kalangan mahzab Hanafi punya dua pendapat, yaitu ada yang memperbolehkan dan ada pula yang memakruhkan--kalau dilakukan dapat pahala, tidak dilakukan tidak mendapat dosa.

Dalam Al-Fatawa al-Hindiyah (5/355) yang berbunyi:

“Tentang hukum minum susu wanita, untuk laki-laki yang sudah baligh tanpa ada kebutuhan mendesak, termasuk perkara yang diperselisihkan ulama belakangan. Demikian keterangan dalam  al-Qunyah.”

Kemudian dalam Fathul Qadir (3/446) juga disebutkan pertanyaan dan jawaban:

“Bolehkah menyusu setelah dewasa? Ada yang mengatakan tidak boleh. Karena susu termasuk bagian dari tubuh manusia, sehingga tidak boleh dimanfaatkan, kecuali jika terdapat kebutuhan yang mendesak.”

Ustaz Faishal juga menjelaskan, menurut ulama Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, meminum ASI sang istri tak serta merta membuat suami lantas menjadi anak sepersusuannya.

Menyusui orang dewasa tidak memberi dampak apapun, karena menyusui seseorang yang menyebabkan adanya hubungan persusuan adalah menyusui sebanyak lima kali atau lebih dan dilakukan di masa anak itu belum usia disapih. Adapun menyusui orang dewasa tidak memberikan dampak apapun. Oleh karena itu, andaikan ada suami yang minum susu istrinya, maka si suami ini tidak kemudian menjadi anak sepersusuannya. (Fatawa Islamiyah, 3/338).

Nah Moms, meski sebenarnya Anda boleh-boleh saja memilih untuk mengikuti pendapat yang mana, Ustaz Faishal berpendapat, sebaiknya kita tidak terlibat dengan perdebatan dua pendapat ulama itu. Caranya dengan tidak meminum ASI istri dengan disengaja.

*Sumber: kumparan.com

Jumat, 02 Agustus 2019

Mau Abadikan Proses Melahirkan? Pertimbangkan Hal Ini Dulu

Jum'at, 02 Agustus 2019 17:41:09

Mau Abadikan Proses Melahirkan? Pertimbangkan Hal Ini Dulu

Proses melahirkan sama halnya dengan pernikahan, begitu berharga, indah namun juga sensitif. Maka tak heran, saking indah dan berharga momen ini, banyak ibu yang ingin mengabadikan baik dalam foto maupun video.

Sejalan dengan tingginya minat pasar yang ingin mengabadikan momen melahirkan, jasa birth and video photography juga makin menjamur. Meski sangat tertarik, ada baiknya sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa ini, Anda dan pasangan harus memperhatikan beberapa hal.

Dalam buku Anti Panik Menjalani Kehamilan karya TigaGenerasi, pusat informasi dan konsultasi mengenai perkembangan diri, anak dan keluarga di Indonesia sejak 2015, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah tanyakan dulu pada diri sendiri, apakah merasa nyaman dengan hadirnya orang lain serta kamera saat di ruang bersalin? Bila tidak yakin, maka jangan memaksakan diri, Moms.

Bila sudah yakin untuk menggunakan jasa birth and video photography, pastikan tempat bersalin, rumah sakit maupun klinik tempat Anda akan melahirkan, mengizinkan pendamping bersalin lebih dari satu. Jangan lupa, Anda juga harus membicarakannya dengan tenaga kesehatan baik dokter atau bidan, apakah memungkinkan untuk membawa fotografer masuk ke ruang persalinan? Bila tidak diizinkan, lagi-lagi Anda tak perlu sampai memaksa. Sebab, Anda juga perlu menghargai orang lain, dalam hal ini tenaga kesehatan yang mungkin kurang nyaman ada orang yang memotret saat mereka bekerja.

Kalau sudah aman, sebaiknya Anda mulai mencari penyedia jasa birth and video photography pada saat usia kehamilan trimester kedua. Dengan pertimbangan, Anda masih memiliki banyak waktu untuk mencari dan memastikan jadwal fotografer sesuai dengan waktu kelahiran. Maklum saja, Moms, tak jarang karena permintaan banyak membuat para penyedia jasa ini sering full booked.

Bila sudah deal, Anda bisa mendiskusikan jam kerja fotografer dengan keinginan dan kebutuhan Anda. Seperti berapa lama fotografer harus stand by sejak bayi sudah lahir hingga memberi kabar saat Anda mulai pergi ke rumah sakit (untuk kasus melahirkan dengan pervaginam atau normal).

Hal yang tak kalah penting lainnya adalah, carilah fotografer yang berpengalaman baik, serta familiar saat berada di ruang bersalin atau ruang operasi. Sebab, proses melahirkan merupakan momen yang indah namun sensitif, jadi pastikan fotografer tahu waktu ia harus memotret dan berhenti.

Terakhir, jangan sungkan untuk memberikan referensi foto atau video sebagai bahan rujukan fotografer. Diskusikan juga mengenai nuansa foto, tone and colour, hingga frame to frame style yang Anda inginkan.

*Sumber: kumparan.com