SELAMAT DATANG DI WEBSITE RADIO KAMI PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO || ON AIR (0353) 331399 || SMS || Masa depan bukan hanya tempat yg kamu tuju, namun tempat yg kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata.

Jumat, 28 Juni 2019

Lebih Baik Mana, Anak Tidur Bersama Orang Tua atau Sendiri?

Jum'at, 28 Juni 2019 18:08:00

Lebih Baik Mana, Anak Tidur Bersama Orang Tua atau Sendiri?

Moms, apakah anak Anda masih tidur bersama Anda dan suami? Atau ia sudah mulai belajar tidur sendiri?

Bagi masyarakat Indonesia, anak tidur bersama orang tua mungkin jadi hal yang biasa. Apalagi bila si kecil masih bayi atau balita. Hal itu bukan semata karena keterbatasan kamar tidur di rumah. Tidur bersama anak dianggap sebagai bentuk kasih sayang sekaligus cara meningkatkan bonding.

Meski begitu, sebenarnya manakah yang lebih baik, anak tidur bersama orang tua atau tidur sendiri? 

Dilansir Todays Parent, Janet Morrison, seorang psikolog anak, remaja dan keluarga, dari Toronto, Kanada mengatakan, boleh-boleh saja anak tidur bersama orang tua.

Mengenai sampai di usia berapa anak boleh tidur bersama orang tua pun tak ada batasannya. Bisa saja batasnya berbeda untuk setiap keluarga. Jadi yang pertama harus dilakukan oleh orang tua adalah peka menilai perasaannya sendiri.
Ilustrasi bayi tidur bersama ibu Foto: Shutterstock

Misalnya, jika Ayah sudah merasa tidak nyaman berpelukan dengan anak perempuannya di tempat tidur, maka jangan memaksakan diri melakukan hal itu lagi. Begitu juga dengan Ibu dan anak laki-lakinya. Perhatikan juga, apakah anak Anda masih merasa nyaman dan butuh tidur bersama?

“Apakah sekadar berpelukan atau tidur bersama, hal yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah kebutuhan siapa yang terpenuhi? Jika anak tidur dengan ibu atau ayah karena ibu atau ayah yang merasa sedih atau kesepian bila anak tidak tidur bersama, maka itu jelas bukan peristiwa yang sehat atau positif untuk anak dari segala usia,” pesan Janet.

Ingat, Moms, bukan tanggung jawab anak untuk menghibur atau membuat nyaman orang tuanya.

Namun bila baik orang tua dan anak masih merasa nyaman, sebenarnya semua sah-sah saja dan tidak ada yang salah.

"Tidak ada yang salah bila Anda ingin memeluk anak yang berusia delapan tahun di tempat tidur atau tidur bersama mereka. Meski begitu, orang tua juga perlu mulai mengembangkan kemandirian dan kemerdekaan pada anak," ujar Janet.

Kemandirian dan kemerdekaan di sini maksudnya kesempatan untuk anak memiliki ruang dan waktunya sendiri. Ini baik dan penting agar anak juga bisa memahami konsep privasi. Lain lagi halnya bila tujuan Anda membiarkan anak tidur bersama dengan tujuan memberi anak rasa nyaman.

"Justru bagus bila Anda menemani dan tidur bersama anak ketika anak sedang stres, sedih, habis bermimpi buruk atau sedang sakit, misalnya," tutup Janet. 

*Sumber: kumparan.com

Rabu, 26 Juni 2019

Riset: Anak Kedua Laki-laki Cenderung Lebih Nakal

Rabu, 26 Juni 2019 17:43:54

Riset: Anak Kedua Laki-laki Cenderung Lebih Nakal

Moms, pernahkah Anda melihat perbedaan kepribadian antara anak pertama dan kedua? Misalnya si kakak cenderung lebih penurut. Sedangkan si adik suka membantah bila diberitahu. Dikutip dari Practical Parenting, seorang ahli menilai bahwa perbedaan sifat antara si sulung dan si adik ini memang bukan terjadi begitu saja, melainkan ada faktor penyebabnya.

Seorang peneliti asal Denmark, Joseph Doyle, mengamati kepribadian ribuan keluarga di Denmark dan Amerika. Hasilnya, ia menemukan bahwa sebuah keluarga memang cukup kerepotan menghadapi sifat, karakter serta kepribadian anak kedua, terutama yang berjenis kelamin laki-laki. Dari pengamatannya, ia juga menemukan bahwa anak kedua cenderung memiliki lebih banyak masalah perilaku dibandingkan dengan si sulung.

Bahkan sebanyak 20 hingga 40 persen anak kedua laki-laki di sekolah lebih memiliki banyak masalah baik dengan teman maupun guru dibandingkan dengan saudaranya yang lebih tua.

"Hasilnya luar biasa, anak-anak kedua dibandingkan dengan saudara mereka yang lebih tua, jauh lebih mungkin berakhir di penjara, lebih mungkin untuk diskors di sekolah, dan lebih mungkin akan tetap nakal hingga ia remaja," kata Joseph yang juga sebagai ketua dalam penelitian ini.

Menurut Joseph dan tim, perbedaan kepribadian antara si kakak dan si adik disebabkan oleh peran orang tua dalam mendidik anak serta perhatian yang diberikan oleh orang tua di rumah.

"Kami menganggap perbedaan dalam perhatian orang tua sebagai faktor potensial yang berkontribusi terhadap kesenjangan dalam kenakalan di seluruh urutan kelahiran," kata Joseph yang juga sebagai ketua dalam penelitian ini.

Nah, bagaimana dengan anak kedua Anda di rumah, Moms? Apakah ia juga memiliki perbedaan kepribadian yang mencolok dengan si kakak? Yuk berbagi ceritanya di kolom komentar.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 25 Juni 2019

8 Cara Ciptakan Suasana Makan yang Menyenangkan untuk Anak

Selasa, 25 Juni 2019 17:37:08

8 Cara Ciptakan Suasana Makan yang Menyenangkan untuk Anak

Moms, apakah anak Anda sering menolak atau kurang nafsu makan di rumah? Jika ya, cobalah untuk mencari tahu penyebabnya. .

Mungkin saja, salah satu penyebabnya akibat suasana makan yang kurang menyenangkan baginya. Jika sudah begitu, Anda harus mencari solusinya, Moms. Kebiasaan menolak makan bisa berdampak buruk bagi si kecil, misalnya saja seperti mengganggu kesehatannya atau ia bisa tumbuh jadi anak yang suka pilih-pilih makanan atau picky eater.

Karenanya, penting untuk Anda menciptakan suasana yang menyenangkan saat si kecil sedang makan. Berikut cara-cara yang bisa Anda tiru, Moms. 

1. Sejak anak sudah bisa duduk sendiri, biasakan makan di meja makan. Dudukkan si kecil di kursi makannya, lalu suapi sambil si kecil diberi kesempatan untuk belajar makan sendiri. Sediakan wadah yang diberi sedikit makanan dan biarkan si kecil mencoba menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya.

2. Seiring dengan perkembangan keterampilan motoriknya, lama-lama si kecil dapat menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa banyak yang terbuang. Untuk itu, selalu beri kesempatan pada anak untuk belajar makan sendiri.

3. Setiap kali menjelang jadwal makan tiba, beri tahu anak agar ia dapat mempersiapkan diri. Misalnya, jadwal makan malam pukul 18.00 WIB. Nah, katakan pada anak sambil memperlihatkan jam weker kepadanya. "Sayang, kalau jarum panjang menunjukkan angka 12 dan jarum pendek menunjuk angka 6, berarti waktunya untuk makan ya".

4. Jelaskan pula apa yang akan ia makan, "Nak, kamu makan nasi dengan lauk daging dan sayur bayam, ya. Ini enak banget dan sangat bergizi untukmu". Dengan begitu, anak tahu makanan yang akan dinikmatinya nanti.

5. Untuk mencegah anak menolak menu yang dihidangkan, sebaiknya libatkan dia sejak awal. Tanyakan, makanan apa yang ingin ia konsumsi di hari itu. Bahkan, mulai usia 3 tahun, anak sudah bisa diajak mengolah makanan, tentu disesuaikan dengan perkembangan kemampuannya ya, Moms.

6. Libatkan juga anak dalam menyiapkan makanan di meja makan, mulai dari meletakkan peralatan di meja hingga menyajikan makanan yang akan dihidangkan. Begitu pun setelah makan, ajak anak merapikan meja dengan membawa peralatan makan yang kotor ke tempat cuci piring. Tapi ingat, selalu sesuaikan dengan perkembangan kemampuan anak ya, Moms.

7. Saat mengenalkan makanan yang baru, sebaiknya Anda menyajikan bersamaan dengan makanan yang sudah dikenalnya. Misalnya, jika Anda akan mengenalkan sayuran brokoli atau wortel. Nah, siasati dengan mengolah brokoli atau wortel bersama makanan kesukaannya seperti ayam goreng.

8. Anda sebagai orang tua tentu harus menjadi contoh yang baik bagi Anda. Jika Anda ingin si kecil bisa makan tanpa pilih-pilih, maka Anda pun harus mau mengkonsumsi semua makanan yang tersaji di meja makan dan tidak pilih-pilih makanan. Jelaskan pada anak bahwa semua makanan yang disajikan bermanfaat untuk kesehatan tubuhnya.

*Sumber: kumparan.com

Sabtu, 22 Juni 2019

Parenting Islami: Memberi Nama Bayi, Ayah atau Ibu yang Lebih Berhak?

Sabtu, 22 Juni 2019 17:30:02

Parenting Islami: Memberi Nama Bayi, Ayah atau Ibu yang Lebih Berhak?

Tak sedikit pasangan suami istri yang telah menyiapkan nama bayi jauh-jauh hari sebelum si kecil lahir. Namun begitu bayi lahir, rasanya tak mudah menentukan nama yang dipakai. Belum lagi jika mertua dan orang tua Anda juga ikut usul. Saking banyaknya ide, Anda dan suami justru makin bingung.

Namun sebenarnya siapa yang lebih berhak memberi nama bayi menurut Islam?

Moms, baik Anda, suami, orang tua atau mertua tentu ingin memberi nama yang baik untuk si kecil. Nama itu akan menempel pada anak selamanya dan menjadi identitasnya. Memberi nama anak sebagai pembeda atau identitas dijelaskan dalam Al-Quran Surat Maryam ayat 7:

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan (nama) dia.

Nah Moms, dalam buku berjudul Doa dan Dzikir Ibu Hamil karya S. Tabrani, dijelaskan bahwa tidak ada perdebatan mengenai siapa yang lebih berhak memberi nama bayi. Tapi, sebagian besar sahabat Rasulullah sepakat ayah yang paling berhak memberi nama bayi, baru kemudian ibunya. Hal ini juga sering dicontohkan pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Ketika para sahabat dikaruniai seorang anak, mereka akan meminta pertimbangan Rasulullah dalam memberi nama. Tentu keputusan lalu kembali pada ayah si anak tersebut.

Namun bukan berarti ibu tidak bisa mengusulkan nama, Moms. Bahkan hal ini juga dicontohkan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 36 tentang pemberian nama Maryam. Diceritakan bahwa Imran, ayah Maryam, telah meninggal saat anaknya lahir sehingga ibunya yang memberi nama.

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ

Tatkala istri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku telah melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam.

Jadi Moms, baik ayah dan ibu berhak memberi nama untuk anaknya. Ibu boleh memberi nama bayi jika ayah mengizinkan atau jika sang ayah sudah meninggal dunia.

*Sumber: kumparan.com

Jumat, 21 Juni 2019

4 Ciri Anak Kecanduan Gadget dan Cara Mengatasinya

Jum'at, 21 Juni 2019 20:36:41

4 Ciri Anak Kecanduan Gadget dan Cara Mengatasinya

Penggunaan gadget yang berlebihan pada anak dapat mendatangkan dampak negatif baginya.

Hi!Pontianak - Di era digital, siapapun dapat mengakses informasi lewat internet, termasuk anak-anak. Berbagai macam ponsel pintar mudah didapat dengan harga yang relatif murah. Tentunya, ini semakin memudahkan kita untuk mendapatkan berbagai informasi.

Di tengah berkembangnya teknologi seperti saat ini, ternyata gadget menjadi benda yang mudah dijangkau oleh anak-anak. Namun, apakah kamu tahu akibatnya ketika anak kecanduan gadget?

Menurut Psikolog, Patricia Elfira Vinny, ketika anak kecanduan gadget, tentunya akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Mulai dari anak menjadi terhambat dalam tumbuh kembang, sulit berkonsentrasi, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana ciri-ciri bahwa anak telah kecanduan gadget? Secara singkat, berikut ciri-ciri anak kecanduan gadget menurut Patricia:

1. Anak bermain gadget selama 8-10 jam perhari.

2. Anak akan merasa gelisah ketika jauh dengan gadget.

3. Muncul ledakan emosional yang berlebihan dan tidak terarah.

4. Anak akan kurang fokus saat diajak berbicara ataupun saat di sekolah.

Ketika anak sudah memiliki ciri-ciri seperti itu, sebaiknya orang tua harus mengambil langkah dan bertindak. "Sebenarnya orang tua harus tega, ketika anak menangis meminta gadgetnya. Tega untuk tidak memberi. Jika (terpaksa) memberi, harus ada hal yang positif dilakukan oleh si anak. Orang tua sangat perlu untuk menerapkan batasan-batasan," kata Patricia.

Orang tua juga perlu mengajak anak untuk berinteraksi dan sering dilibatkan dalam komunikasi. Ajaklah anak untuk bersosialisasi dan aktif dalam lingkungannya. Lalu, berikan tugas kepada anak, dan berikan reward sesuai tugasnya.

*Sumber: kumparan.com

Selasa, 18 Juni 2019

Doa-doa dari Al-Quran untuk Dibaca Suami Istri Selama Masa Kehamilan

Selasa, 18 Juni 2019 18:30:53

Doa-doa dari Al-Quran untuk Dibaca Suami Istri Selama Masa Kehamilan

Selama masa kehamilan, Anda mungkin akan lebih banyak mengucap kata syukur kepada Allah SWT dibandingkan biasanya. Pasalnya dalam fase ini, tubuh Anda menjadi saksi atas keajaiban sang Pencipta. Bagaimana Allah meniupkan ruh pada janin Anda, bagaimana si kecil menendang perut Anda, semua terasa menakjubkan.

Selain rasa syukur, sebagian diri Anda mungkin merasa takut. Anda khawatir pertumbuhan janin terhambat, khawatir tubuh Anda tak bisa menunjang kebutuhan bayi, atau takut persalinan tidak berjalan lancar.

Tenang Moms, Allah menitipkan janin pada rahim Anda karena Ia percaya Anda bisa melaluinya. Ada berbagai doa yang bisa Anda panjatkan agar hati lebih tenang. Berikut doa-doa dari Al-Quran untuk Anda dan suami baca selama masa kehamilan:

1. Surat Al-Baqarah ayat 286

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir,”

2. Surat Al-Furqan ayat 74

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa,”

3. Surat Ali Imran ayat 173

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung,"

4. Surat Al-Anfal ayat 40

وَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلَاكُمْ ۚ نِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

*Sumber: kumparan.com

Rabu, 12 Juni 2019

Cara Meregangkan Otot Usai Perjalanan Jauh dan Banyak Aktivitas

Rabu, 12 Juni 2019 17:26:22

Cara Meregangkan Otot Usai Perjalanan Jauh dan Banyak Aktivitas

Setelah menempuh perjalanan jauh atau melakukan banyak aktivitas bisa membuat tubuh terasa pegal. Rasa pegal itu disebabkan oleh menegangnya otot-otot di tubuh terutama bagi yang jarang melakukan olahraga.

Ketika rasa pegal melanda tubuh Anda, hal yang perlu dilakukan adalah stretching atau peregangan otot. Menurut dr. Fienda Ferani Brata, stretching akan membuat otot yang kencang menjadi merenggang dan membuat rasa pegal berkurang.

“Bisa dengan melakukan cara; meninggikan kaki saat tubuh dalam posisi tiduran. Ini untuk menghindari penumpukan asam laktat,” ucap dr. Fienda saat dihubungi kumparan, Senin (10/6).

Asam laktat merupakan hasil metabolisme karbohidrat tanpa menggunakan oksigen. Penggunaan otot yang berlebihan dapat membuat penumpukan asam laktat. Risikonya, detak jantung meningkat dan membuat seseorang seakan kehabisan napas.

Melakukan pijatan ringan pada tubuh yang pegal juga disarankan dr. Fienda. Pijatan ringan berguna untuk melancarkan peredaran darah. “Hindari pijatan yang terlalu keras. Itu justru membuat badan menjadi lebih sakit,” katanya.

Selain pijatan, cara lain untuk mengurangi pegal adalah mandi dan istirahat yang cukup. Tubuh pegal karena otot yang tegang dapat rileks karena siraman air. dr. Fienda mengatakan, mandi dengan air dingin atau hangat untuk melancarkan peredaran darah.

Jika cara di atas tidak mengurangi rasa pegal pada tubuh Anda, sebaiknya Anda melakukan akupuntur dan fisioterapi.

*Sumber: kumparan.com

Senin, 10 Juni 2019

Kipas Angin atau AC untuk Bayi, Mana yang Lebih Aman?

Senin, 10 Juni 2019 19:07:00

Kipas Angin atau AC untuk Bayi, Mana yang Lebih Aman?

Cuaca panas seperti sekarang ini memang mengganggu, terutama saat si Kecil tidur. Akibat cuaca yang gerah, bayi bisa terus terbangun dan tidak nyaman saat tidur.

Bukan hanya itu, keringat yang mengucur juga bisa memicu munculnya ruam akibat biang keringat. Jika sudah begitu, si Kecil pasti rewelnya bukan main.

Untuk menghindari hal itu, banyak orangtua memutuskan untuk melengkapi kamar tidur si Kecil dengan pendingin ruangan, baik kipas angin maupun AC. Jadi mana yang lebih baik untuk bayi, kipas angin atau AC?

Aturan menggunakan AC untuk bayi

Dilansir dari Livestrong.com, suhu AC ideal untuk bayi adalah 18-20 derajat Celcius.
Dengan suhu tersebut, ruangan sudah cukup dingin dan nyaman untuk si Kecil, terutama bayi yang masih tidur dibedong.

Dilansir Theasianparent.com, untuk anak yang sudah berusia di atas 2 tahun, ibu bisa sedikit menaikan temperatur AC-nya ke 23-26 derajat Celcius.

Dengan suhu ini, bayi sudah cukup nyaman tidur dalam balutan piyama dan selimut tipis.

Kendati begitu, ibu juga harus sering-sering mengecek suhu tubuh si kecil di bagian kaki, tangan, dan lehernya untuk memastikan apakah temperatur AC sudah cukup pas untuknya.

Jika ternyata suhunya terlalu rendah, si Kecil bisa saja kedinginan bahkan terkena hipotermia.

Saat menidurkan bayi di ruangan ber-AC, ibu juga harus memperhatikan posisi. Jangan pernah menempatkannya di tempat yang langsung terkena tiupan AC, karena akan membuatnya tidak nyaman dan kedinginan.
Manajemen Penyimpanan Makanan Bayi Saat Perjalanan Mudik

Aturan menggunakan kipas angin untuk bayi
Dilansir dari Todaysparent.com, kipas angin sebetulnya bagus untuk memastikan sirkulasi udara di kamar si kecil tetap baik.

Kipas angin juga bisa memberikan efek dingin dari kipasan angin yang dihasilkan. Namun, satu hal yang perlu diingat, jangan mengarahkan kipas angin langsung ke tubuh bayi.

Nah, karena efek dingin kipas angin tidak menyeluruh seperti AC, ibu juga harus memperhatikan pakaian yang dikenakan bayi saat tidur.

Untuk kondisi cuaca yang panas, alih-alih memakaikan piyama, ibu bisa memakaikan kaus dalam dan diaper. Ibu juga bisa memakaikan si kecil kaus tanpa lengan dengan celana pendek.

mengeluarkan keringat berlebih karena pakaian yang tertutup.

Pemilihan bahan pakaian juga menjadi sangat penting untuk kenyamanan. Pilih bahan yang tipis, ringan, dan mampu menyerap keringat.

*Sumber: kompas.com

Sabtu, 08 Juni 2019

Trik Agar Tidak Frustasi Saat Libur Lebaran Selesai karena Uang Habis

Sabtu, 08 Juni 2019 17:32:27

Trik Agar Tidak Frustasi Saat Libur Lebaran Selesai karena Uang Habis

Libur Lebaran terasa sangat menyenangkan apalagi Anda mendapat dana tambahan dari tunjangan hari raya. Kapan lagi Anda bisa mengunjungi tempat wisata, makan di luar, berbelanja bersama keluarga tanpa memikirkan pekerjaan dan uang?
Namun, berhati-hatilah dalam mengelola pengeluaran selama liburan. Meleset sedikit saja maka Anda akan frustasi begitu liburan selesai lantaran kehabisan uang. Supaya terhindar dari mimpi buruk, berikut ini tiga cara mengelola pengeluaran selama liburan.

1. Buat daftar prioritas
Buatlah daftar prioritas dan pos anggaran sampai ke hal terkecil. Sebab, liburan dadakan selalu menyedot uang lebih besar. Susunlah tujuan, biaya makan, tiket masuk dan parkir sampai ke oleh-oleh yang akan dibawa.

Perencana keuangan, Prita Hapsari Ghozie, mengatakan dana THR bisa dipakai untuk berlibur. Namun, ada patokannya. "Idealnya 50 persen konsumsi, 10-20 persen untuk investasi, 10 persen untuk dana darurat, selebihnya untuk bayar utang," katanya.

2. Pisahkan THR dari gaji bulanan
Memisahkan THR dari gaji bulanan mutlak dilakukan. Prita mengatakan pengeluaran rutin setiap bulan dipenuhi dari gaji bulanan. "Makanan harian sebaiknya dialokasikan dari dana gaji karena pengeluaran ini bersifat rutin," kata dia. Ini artinya Anda dilarang mengutak-atik gaji untuk berbelanja selama liburan.

3. Batasi penggunaan kartu kredit
Anda wajib membawa uang tunai dalam jumlah cukup, tidak berlebihan. Ini akan membatasi Anda dari bahaya lapar mata dan belanja yang tidak diperlukan. Selain itu, Anda bisa terhindar dari menggesek kartu kredit. Bila keadaan memaksa, Prita menyarankan untuk menggunakan kartu debit. "Utamakan penggunaan kartu debit sebagai alat bayar dibandingkan kartu kredit," katanya.


Jadi, ke mana Anda akan berlibur akhir pekan ini?

Sumber: https://www.teras.id/bintang/pat-4/162354/
trik-agar-tidak-frustasi-saat-libur-lebaran-selesai-karena-uang-habis

Senin, 03 Juni 2019

Sekalipun Marah, Jangan Pernah Pukul Bokong Anak...

Senin, 03 Juni 2019 18:00:01
 
Sekalipun Marah, Jangan Pernah Pukul Bokong Anak...

Untuk mendidik anak yang berperilaku disiplin dan produktif, AAP merekomendasikan langkah-langkah berikut:

- Membangun hubungan positif dan suportif antara orangtua dan anak sehingga anak mendapat contoh perilaku positif.

- Menggunakan cara positif untuk mengajak anak berperilaku baik.

- Jika perlu, gunakan metode disiplin lainnya, seperti waktu luang atau memberi penghargaan untuk anak atas suatu pencapaian atau dalam periode waktu tertentu.

Estrella kemudian memberikan rekomendasi pada orangtua untuk melakukan hal-hal tambahan berikut:

- Orangtua sebagai role model. Jadikan sikap tenang sebagai prioritas. Ingatlah bahwa perilaku orangtua adalah contoh bagi anak.

- Susun aturan dan pembatasan yang bisa diterapkan secara konsisten oleh semua pihak yang turut serta merawat anak.
Di antara semua pengasuh, seharusnya tidak ada tokoh jahat maupun baik. Pastikan pula semua aturan disampaikan menggunakan bahasa yang baik dan sesuai usia.

- Terus memuji pencapaian anak dan merayakan perilaku baik mereka. Beri perhatian pada perilaku yang kamu ingin anakmu mengulangnya.

Tunjukkan bahwa kamu mengamati dan bangga ketika mereka melakukan sesuatu yang baik.

- Tahu kapan harus tidak merespons. Abaikan perilaku buruk, misalnya ketika anak merengek-rengek di lantai, ketika tidak diizinkan bermain ponsel.

Ini adalah cara baik untuk mengurangi perilaku buruk anak di masa mendatang.
"Dalam kasus ini, anak akan belajar bahwa menjadi tantrum tidak akan membuat dia mendapatkan apa yang diinginkannya," katanya.

- Belajar dari pengalaman masa lalu. Misalnya, mencari tahu apa pemicu perilaku buruk anak-anakmu.

Jika pemicu tersebut bisa diidentifikasi, akan selalu ada cara untuk menghindarinya atau setidaknya melakukan persiapan matang untuk menghadapimya.

Pastikan anak tahu apa konsekuensi jika mereka tidak mematuhi saran orangtuanya dan atau berperilaku tidak pantas pada situasi tertentu.

- Ubah sesuatu yang dilarang menjadi aktivitas yang bisa dilakukan anak.

Misalnya, jika anak senang merebut mainan anak lain, tawarkan mereka mainan atau aktivitas lain hingga mereka mau mengembalikan mainan tersebut.

Bicaralah dengan dokter anak apakah perilaku-perilaku anak kita adalah perilaku yang umum dilakukan oleh anak seusianya.

"Dan jika dibutuhkan, psikolog anak dan komunitas bisa menjadi sumber yang menyediakan kelas parenting untuk memberikan kita dukungan atau arahan yang lebih kuat," kata Estrella.

*Sumber: kompas.com

Sabtu, 01 Juni 2019

11 Tips untuk Menghindari Kehilangan Anak Saat Berlibur

Sabtu, 01 Juni 2019 17:10:28

11 Tips untuk Menghindari Kehilangan Anak Saat Berlibur

Bepergian bersama keluarga tentu kegiatan yang mengasyikkan, apalagi jika dilakukan ketika libur panjang, termasuk libur Lebaran.

Bila musim libur tiba, sejumlah tempat wisata biasanya dipadati dengan wisatawan, tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak.

Dilansir South China Morning Post (SCMP), ada suatu keluarga yang menceritakan pengalaman terpisah dari anak mereka ketika liburan di Thailand, dan untungnya anak tersebut berhasil ditemukan oleh orangtuanya.

Kemudian, keluarga itu belajar untuk menerapkan praktik keselamatan yang baik, yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk menghindari pemisahan dari anak-anak mereka.

Oleh karena itu, keluarga tersebut memberikan 11 kiat-kiat agar terhindar dari kehilangan anak-anak mereka yang dipaparkan oleh Heather Greenwood Davis.
Heather adalah orang yang mendirikan blog Globetrotting Mama dan melayani sebagai dewan penasihat untuk Family Travel Association, Chymy. Selain itu, kiat juga disampaikan Kirsten Maxwell, duta besar Moon Travel Guides dan pencipta situs Kids Are a Trip. Berikut rinciannya:

1. Menetapkan aturan dasar

Dalam langkah ini, orangtua diimbau untuk mengingatkan anak-anak tentang aturan dasar sebelum berangkat perjalanan.

Aturan dasar yang harus disampaikan misalnya, anak-anak jangan berkeliaran sendirian, terlepas dari seberapa aman yang mereka rasakan.

Ingatkan (anak) yang paling tua untuk memberi tahu orangtua mereka sebelum bepergian.

2. Membagi tanggung jawab

Orangtua disarankan untuk membagi tanggung jawab. Hal ini untuk mempermudah saat melacak anak di tempat-tempat yang ramai.
Bagi tugas, ibu mengawasi siapa saja, dan ayah mengawasi siapa. Ini sangat membantu, terutama jika Anda hanya mengawasi satu atau dua anak, daripada tiga atau empat anak.

Kiat ini juga akan mencegah ayah dan ibu saling menyalahkan.

3. Tetapkan titik temu

Tetapkanlah titik temu yang telah disepakati oleh orangtua dan anak apabila terjadi perpisahan atau hilangnya pengawasan orangtua terhadap anak.
Pilihlah tempat yang mudah diidentifikasi oleh anak-anak. Tempat itu seperti pelayanan anak hilang, pintu masuk lokasi, tempat parkir atau landmark khas di lokasi itu.

Chymy menyarankan, anak-anak harus diberi tahu untuk tetap di tempat mereka berada, kemudian memanggil ibu atau ayah mereka dengan suara lantang.

Cara ini penting jika mereka berada di area yang terisolasi atau ruang tertutup, seperti taman atau lokasi indoor, sehingga mereka tidak berkeliaran lebih jauh.

4. Ajarkan anak untuk meminta bantuan
Bekalilah anak Anda dengan cara meminta bantuan kepada orang lain jika mereka terpisah dari Anda.

Greenwood mengungkapkan, dirinya mengajari anak-anaknnya bahwa orang dewasa yang berseragam seperti petugas keamanan atau satpam dapat didekati untuk dimintai bantuan.

Chymy menyarankan alternatif lain, seperti orangtua lain (yang membawa anak) yang ada di lokasi juga bisa didekati untuk dimintai pertolongan.

Adapun pemberian informasi penting, seperti nama orangtua dan nomor telepon adalah hal harus diajarkan kepada anak-anak.

Chymy bercerita bahwa ia bertemu dengan satu keluarga yang sangat khawatir tentang keselamatan anak-anaknya, sehingga mereka menuliskan nomor telepon di lengan anak-anak menggunakan spidol.

5. Menulis informasi kontak

Maxwell menyuruh anak-anaknya memakai pengenal yang berisi informasi kontak orangtua. Penulisan informasi bisa diselipkan di sepatu anak.

Dalam hal ini, anak-anak usia sekolah dapat mengingat informasi tersebut dengan baik.

6. Informasi pada anak yang lebih besar

Anak-anak yang lebih besar dapat memiliki informasi yang tersimpan pada uang mereka dan hal-hal penting lainnya. Bisa juga menempatkan nomor informasi penting pada gawai mereka.

Namun, teknologi terkadang tidak mempan, jadi cobalah dengan gaya kuno, yaitu menggunakan catatan tertulis.

Beberapa orangtua bahkan mengemas detail akomodasi dan ongkos taksi untuk anak yang lebih besar.

7. Foto anak terbaru

Orangtua bisa juga mencari anak-anaknya dengan foto terbaru mereka yang disimpan dalam ponsel.

Chymy merekomendasikan orangtua mengambil foto anak-anak mereka dengan pakaian yang mereka kenakan hari itu.

Untuk mencari anak yang terpisah bisa menggunakan alat pelacak. Beberapa anak cenderung berkeliaran, pergi tanpa pola.
Orangtua harus membuat keputusan yang akan menjaga anak-anak mereka aman dan mengurangi kecemasan mereka sendiri.

8. Aturan sandwich

Ketika anak-anaknya masih kecil, Greenwood bersikeras bahwa mereka memiliki kontak fisik dengan salah satu orangtua di tempat yang ramai.

Ia menerapkan aturan sandwich (roti isi) kepada anak-anaknya. Dalam aturan ini, orangtua memerankan roti isi, sementara anak-anak sebagai isinya.

Jika sandwich terasa mulai "berantakan", ketika mereka berpergian atau terpisah, sang roti akan berteriak, "di mana acar?" mengacu pada salah satu anaknya.

Kode ini diperlukan agar anak Anda mudah mengenali, dan tak dapat dibohongi orang lain.

9. Menggunakan kaus berwarna cerah

Menurut Greenwood, ada alasan cerdas pada keluarga yang memadankan warna kausnya antara anak dan orangtua. Hal ini diterapkan untuk lebih mudah melacak anak mereka yang terpisah.

Pakaian anak-anak dengan warna mencolok atau warna cerah sebelum berbaur dengan kerumunan telah memudahkan dirinya menemukan anak.

10. Menggunakan walkie-talkie

Seiring bertambahnya usia anak-anak, mereka menginginkan lebih banyak kebebasan. Greenwood kemudian berinvestasi dengan membeli walkie-talkie berkualitas dengan jangkauan sampai 5 km.

Mereka tidak bergantung pada layanan seluler atau wifi. Tentunya Anda harus tetap mengeluarkan biaya untuk fasilitas ini.

Walkie-talkie juga berfungsi ganda sebagai mainan hebat ketika hiking atau berkemah, karena anak-anak ingin menjelajah, dan orangtua tetap ingin tetap berhubungan.
11. Menggunakan fitur GPS dan bluetooth

Ada dua perangkat yang bisa dijadikan referensi untuk melacak anak Anda, yakni perangkat "HereO" dan "My Buddy Tag".
HereO adalah teknologi yang memanfaatkan layanan GPS virtual yang terhubung ke aplikasi di ponsel pintar orangtua pada jam tangan dan dibanderol harga 199 dollar AS atau sekitar Rp 2,8 juta.

Perangkat ini juga memungkinkan Anda untuk mengatur zona, sehingga ada peringatan jika anak mereka meninggalkan zona yang ditentukan.

Sementara, My Buddy Tag merupakan teknologi yang memanfaatkan layanan bluetooth pada jam tangan dan dikenakan biaya 39,99 dollar AS atau sekitar Rp 575.000.

Dua teknologi ini akan menunjukkan dengan tepat lokasi anak.

Ada juga teknologi "AngelSense", yakni sistem pelacakan anak yang populer dan komprehensif.

Dengan aplikasi ini, orangtua tidak hanya tahu di mana anak-anak mereka setiap saat, mereka dapat menentukan apakah anak-anak akan terlambat atau berada di tempat yang tidak dikenal. Orangtua juga dapat berkomunikasi dengan anak-anak dan mendengarkan mereka.

*Sumber: kompas.com